Memimpikan Sosok Pemimpin Transformatif dan Rendah Hati di HKBP
Transformatif dan rendah hati
Tentu melihat hasil Sinode Distrik sementara, yang telah terlaksana 80% dan menunjukkan dukungan yang besar kepada Pdt. Dr.Robinson Butarbutar. Mayoritas pemilik suara di Sinode Godang HKBP yang akan dilaksanakan bulan Oktober 2020 mendatang sudah jelas menyatakan mendukung Pdt. Dr. Robinson Butarbutar sebagai Ephorus. Jadi hampir dapat dipastikan bahwa dialah yang akan memimpin HKBP bersama pemimpin lainnya sebagai satu tim di periode yang akan datang.
Mengapa hampir bisa dipastikan? Oleh karena sistim pemilihan peserta Sinode Godang yang baru, dalam Aturan Peraturan HKBP setelah Amandemen 3 (ketiga), peserta Sinode Godang untuk mewakili tiap distrik harus dipilih dalam Sinode Distrik. Di dalam Sinode Distrik itu tidak bisa dihindari bahwa pendukung Ephorus tertentu akan bersatu dan berusaha untuk memenangkan jumlah suara menjadi peserta Sinode Godang. Dan dari 80% sinode distrik yang sudah berlangsung, 70 persen pelayan dan jemaat yang terpilih menjadi Peserta Sinode Godang 2020 sudah menyatakan diri mendukung dan memilih Pdt.Dr Robinson Butarbutar saat Sinode Godang HKBP bulan Oktober 2020 nanti.
Kemungkinan besar, peserta Sinode Godang yang sudah terpilih dari tiap Distrik mendukung Pdt Dr Robinson Butarbutar karena melihat figurnya yang dinilai jujur, terpercaya, berintegritas, pendoa, dan memiliki spritualitas tinggi. Banyak yang mendukung karena telah mengenal secara pribadi, atau mendengar kisah dan cerita dari orang yang mengenal atau pernah satu pelayanan dengannya.
Motto pelayanannya Serep Marhobas, melayani dengan rendah hati. Dan inilah semboyan dan motto yang diusung oleh mereka-mereka yang menyatakan diri mendukung Pdt. Dr. Robinson Butarbutar Calon Ephorus HKBP 2020-2024. Mereka sangat optimis untuk HKBP yang lebih baik ke masa depan, dengan memilih Ephorus yang memiliki program dan memiliki kompetensi untuk menyelesaikan masalah-masalah yang ada saat ini membebat. Dengan jiwa kepemimpinan transformatif dan rendah hati, tentunya hal ini sangat menggembirakan dan memberi harapan baru untuk HKBP yang lebih baik.
Sebab memang, saat ini yang paling dibutuhkan dalam pelayanan gereja adalah sifat dan sikap rendah hati. Orang pintar sudah banyak, rata-rata manusia sudah cerdas, teknologi sudah canggih membantu kehidupan manusia, bahkan dalam tugas pelayanan gereja. Sekali lagi yang sangat kita butuhkan saat ini adalah pelayan yang serep marroha dohot serep marhobas; pelayan yang rendah hati dan melayani dengan kerendahan hati. Tak angkuh dan sombong.
Penulis adalah seorang pendeta. Saat ini menempuh pendidikan Pascasarja di Universitas Esa Unggul, Jakarta
