Misteri Ruang dan Waktu (2)
Oleh: Hojot Marluga
Tuhan tidak terikat oleh ruang dan waktu, sehingga waktu Tuhan dan waktu manusia memiliki perbedaan yang signifikan. Manusia memahami waktu sebagai sesuatu yang linear, sedangkan Tuhan melihat waktu sebagai keseluruhan. Waktu dan ruang adalah bagian dari rencana Tuhan yang lebih besar, dan Dia dapat melintas batas-batas yang dipahami manusia. Dalam pemahaman manusia, waktu adalah sesuatu yang terbatas, tetapi Tuhan dapat melihat ke masa lalu, sekarang, dan masa depan secara bersamaan. Ini berarti bahwa rencana Tuhan tidak dibatasi oleh waktu, dan Dia dapat melakukan apa saja yang Dia kehendaki, kapan saja dan di mana saja.
Tuhan melintas batas melalui pemahaman manusia, mengingatkan kita bahwa ada hal-hal yang tidak dapat kita pahami dengan akal manusia. Namun, kita dapat mempercayai bahwa rencana Tuhan adalah yang terbaik, dan Dia akan melakukan apa yang Dia kehendaki, sesuai dengan waktu dan cara-Nya.
Oleh karena itu, manusia harus memiliki ambisi yang kudus, yaitu ambisi yang sejalan dengan kehendak Tuhan. Jika ambisi manusia hanya berfokus pada kepentingan diri sendiri, maka itu akan menjadi destruktif dan merusak.
Mahatma Gandhi pernah mengatakan, “Bumi cukup untuk kebutuhan seluruh jagat, tetapi tidak cukup untuk kerakusan seorang.” Ini mengingatkan kita bahwa kita harus memiliki keseimbangan antara kebutuhan dan kerakusan.
Kita tidak boleh hanya fokus pada kesalehan beribadah, tetapi juga harus memiliki kesalehan sosial, yaitu kepedulian terhadap kebutuhan orang lain dan lingkungan sekitar. Dengan demikian, kita dapat menjadi agen perubahan yang positif dan membawa kebaikan bagi dunia ini.
Kerakusan manusia seringkali tidak memahami bahwa segala sesuatu ada waktunya, dan apa yang dikumpulkannya akan dimakan ngengat. Kitab suci mengingatkan kita untuk cukup dengan apa yang ada pada kita, tidak berlebihan, dan tidak rakus.
Mencukupkan diri berarti mampu mengukur diri, tidak terlalu banyak mengambil, dan tidak terlalu sedikit. Kisah orang-orang Israel di padang Gurun yang mengumpulkan melebihi kebutuhannya ditegor, mengingatkan kita untuk tidak berlebihan.
Yesus juga menyuruh murid-muridnya untuk mencukupkan diri saat menangkap ikan di Danau Galilea, menunjukkan bahwa kecukupan adalah kunci untuk hidup yang seimbang. Jangan rakus, tapi jadilah orang yang bijak dan mampu mengukur diri.
Memahami ruang dan waktu berarti menjalaninya dengan bijak, membatasi diri, dan mengukur diri. Dengan demikian, kita menyadari bahwa hidup kita terbatas. Ada yang mengatakan bahwa manusia dibatasi oleh pikirannya, dan manusia digerakkan oleh pikirannya.
Orang yang bijak adalah mereka yang mampu mengontrol pikirannya, tidak membiarkan kerakusan menguasai dirinya. Mereka mencukupkan diri dengan apa yang ada, tidak terlalu banyak mengambil, dan tidak terlalu sedikit. Dengan begitu, mereka dapat hidup dengan lebih seimbang dan bahagia… (bersambung)
