Motivasi Menggerakkan Nurani
Lalu, apa yang mesti dilakukan sampai menyentuh batin, motivasi dari dalam? Yang jelas mengalami sendiri, memiliki kesaksian hidup sendiri. Jika itu temukan maka diri akan persisten. Itu bisa jika hasil pergumulan batin pribadi, internalisasi. Internalisasi penghayatan, pendalaman, penguasaan secara mendalam melalui bimbingan rohaniah yang panjang. Jika tidak, maka banyak yang menggunakan kisah orang lain, dan hidup dalam topeng. Padahal disini perlu seseorang menemukan potensi diri sendiri dengan mengenal Pencipta secara pribadi, karena hanya demikian bisa mengenal pribadi paling dalam. Mengerti rancangan dan memiliki rancangan untuk pribadi. Barangkali disinilah perlu mendengar pendapat orangtua, karena bagaimanapun orangtua selain mengenal anaknya, maka tak diragukan lagi motivasinya pasti demi kebaikan dan kebahagiaan anaknya.
Ada cara lagi, menemukan potensi diri dengan pergi ke psikolog, test temperamen dasar, hal itu bisa membantu seseorang menemukan dirinya dengan lebih tepat. Menemukan motivasi terdalam dari diri berarti menemukan keunikan diri sendiri, kekuatan dan kelemahanya, khususnya kekuatannya. Disini keyakinan kuat bisa memotivasi dari dalam diri sendiri. Motivasi akan lebih kuat lagi jika seseorang menemukan panggilan hidup, para motivator menyebut menemukan passion. Tentu hal ini bisa terkoneksi jika langkah yang dialami, kenal dan memiliki hubungan pribadi dengan Pencipta.
Seorang profesor dari University of Virginia dan Presiden JW Impact Strategies, LLC. Jerry White dalam bukunya Kejujuran Moral dan Hati Nurani memaparkan prinsip-prinsip hidup di zaman di mana banyak orang kurang mempedulikan nilai-nilai kejujuran dan moral. Hati nurani tak peka lagi terhadap apa yang benar dan apa yang salah. Tantangannya, meskipun hati nuraninya masih peka, situasi lingkungan yang mendesaknya untuk tidak melakukan apa yang benar menurut firman Tuhan. Jerry menunjukkan bagaimana tolak ukur Kitab Suci mesti diakui dengan tegas dan menuntut, yang dilaksanakan dalam dunia bisnis, rumah tangga, dunia pendidikan, dan dalam kehidupan beribadah. Tuhan menghendaki agar hidup umatNya berbeda secara kualitas dari pada hidup masyarakat umum, hendaklah menjadi garam dan terang di tengah-tengah dekadensi moral dan kegelapan dunia.
Oleh karenanya, apa yang membedakan seseorang berhasrat, sehingga mampu mengaktualisasi diri sampai tingkat yang paling tinggi. Hasrat yang bergelut dengan minat, bakat, talenta dan kemampuan? Tentu, mereka yang mencapai impian, hasratnya adalah yang berjuang pantang menyerah, karena gagal dan gagal adalah proses dalam mencapai impian, tidak kendor oleh waktu, tidak mundur oleh masalah. Boleh saja merevisi impian, namun harus segera bangkit kembali mencapainya. Paling hebat jika seseorang menemukan panggilan hidupnya, yang diyakini itu panggilan dari Tuhan untuk melakukan hal tersebut. Apalagi di tengah perjalanan hidupnya, dia semakin diyakinkan bahwa Tuhan merestui, memberkati, menolong, maka rintangan apapun dia akan hadapi.
Kerap kali saat berjuang, motivasi menyimpang saat mengaktualisasikan diri. Disini hanya ada satu cara supaya motivasi tak menyimpang, jika seseorang dekat dengan Tuhan, cinta Tuhan, takut akan Tuhan dan tetap dalam komunitas orang-orang yang hidup bersama dengan Tuhan. Namun yang paling utama sebenarnya manakala seseorang itu menemukan tujuan hidup, atau panggilan hidup, dan disitulah orang menemukan makna hidup. Di kesadaran ini seseorang menyadari bahwa kehadirannya di dunia ini tentu dirancang dengan satu tugas sendiri.
Jika seseorang bisa menyadari bahwa dia termotivasi dan beranjak untuk berubah, yang dalam bahasa agama disebut lahir baru, bahwa dalam dirinya ada kesadaran ada Roh Kudus, pribadi Tuhan yang hidup, yang akan menghibur. Jelas paling mudah memotivasi diri sendiri adalah orang percaya, janji yang bisa dipegang, menuntun kepada tujuan hidup yang ilahi. Umumnya motivator mengajarkan sukses berjubel capaian. Sebaliknya, jika kita belajar, maka hidup, mesti hidup bermakna. Tentu, bisa berbalik-balik oleh karena nyatanya banyak juga orang yang mengaku melayani padahal sesungguhnya motivasi untuk kesuksesan diri sendiri, dan tanpa menyentuh sampai ke hati nurani.
Akhirnya, dalam hidup itu, hal yang perlu diingat adalah jujur pada diri. Jujur pada diri sendiri bukan perkara mudah, terlalu banyak orang tak jujur dengan dirinya sendiri, bertopeng, malah cenderung larut dengan apa yang datang dari orang lain, bukan dari kristalisasi diri yang bergumul melalui pengalaman dan perenungan. Belum lagi orang hidup dalam penyesalan, selalu menyimpan penyesalan, itu artinya masih hidup dimasa lalu menghalangi pada motivasi yang menggerakkan. Intinya seseorang mesti menemukan “movere” makna dalam hidup, termasuk kesadaran tak hanya butuh dicintai, namun perlu mencintai. Oleh karenanya, menikmati waktu setiap saat, hal itu tentu benar-benar menjalani hidup, bukan hidup yang menghakimi, melainkan menjalaninya dengan sungguh-sungguh, itulah motivasi yang menyentuh hati.
Penulis seorang Jurnalis, Motivator. Penerima Certified Theocentic Motivator dan Sekretaris Forum Jurnalis Batak
