Religiositas vs Spiritualitas

suaratapian.com-Kita terlalu sering memberi label bahwa yang bergiat dan rajin beribadah itu rohaninya baik. Padahal belum tentu. Sisi rohani bisa dimekapi dengan ibadah, kebaktian, dan kalau beribadah di rumah ibadah selalu duduk di depan bukti sangat khusuknya di rumah ibadah. Itulah seremoni ibadah, religiositas. Tetapi seremoni ibadah sering menipu, hasrat duniawi yang dimekapi. Beribadah seakan melesatkan dirinya makin dekat ke sorga, padahal buaian dan jerat duniawi masih menguasai. Kita sering terjebak seremoni ibadah yang memainkan emosi atau perasaan semata. Padahal belum menghujam sampai ke relung hati. Rajin menjalankan tata agama seakan orang suci, padahal terus berkutat di labirin jagat. Ibarat ada dalam labirin, jika tersibak satu pintu terbuka, tentu di depan masih banyak pintu harus disingkap, atau jangan jangan banyak pintu, seolah olah pintu sebenarnya bukan pintu. Hanya jebakan. Disinilah mata hati, spiritualitas digunakan. Tak sekedar larut dalam buaian agamis.


Pengagum religiositas atau agamawan tak boleh jumawa, apalagi karena sudah ditaraf level struktur keagamaan. Duduk di organ agama seakan shahih menentukan iman orang lain. Kala di posisi itu sering merasa agen sorga. Merasa. Rekomendasi doanya lebih paten. Ucapan ucapannya sudah pasti dijawab sorga. Manusia hanya membuat level. Di mataNya memuakkan, apalagi hanya dibuat topeng untuk mengelabui yang tak tercerahkan di ranah rohani. Maka topeng yang sempurna dibuat jadi agen sorga.

Hojot Marluga

Hidup Belajar Filosofi Air

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.