Talenta yang Terabaikan: Mengapa Diam Lebih Jahat daripada Berbuat Salah
Penulis: AM, Danang Priyadi, S.Pd., MM, CTM

Kita seringkali terjebak dalam kesalahan yang sama, yaitu tidak menggunakan talenta yang dipercayakan kepada kita. Dosa terbesar kita bukanlah tindakan kejahatan, melainkan diam dan tidak melakukan apa-apa. Tuhan menyebutnya sebagai hamba yang jahat dan malas. Dalam Matius 25:26, kita melihat bahwa orang yang tidak melakukan apa-apa dengan talenta yang diberikan kepadanya disebut sebagai hamba yang jahat. Ini karena orang yang tidak melakukan apa-apa adalah jahat di mata Tuhan. Yesus jarang menggunakan kata “jahat” untuk menggambarkan seseorang. Dia lebih suka menggunakan kata-kata berkat dan kasih. Namun, dalam kasus hamba yang ketiga, Yesus menyebutnya sebagai hamba yang jahat karena dia tidak berbuat apa-apa dengan talenta yang diberikan kepadanya.
Apa yang dimaksud dengan “malas” dalam konteks ini? Orang yang malas adalah orang yang bermalas-malas dalam pekerjaan, yang tidak mau berusaha, dan yang tidak mau mengambil risiko. Mereka seringkali membela diri dengan mengatakan “aku takut”, “aku malu”, “aku tidak tahu”, “aku tidak mampu”, atau “aku sibuk”.
Tapi, kita harus ingat bahwa Tuhan tidak meminta kita untuk melakukan apa-apa yang kita tidak mampu. Dia hanya meminta kita untuk menggunakan talenta yang diberikan kepada kita dengan baik, dan untuk melakukan apa yang kita bisa lakukan.
Abraham Lincoln pernah mengatakan, “Kita tidak terlalu mengetahui lebih banyak, kita hanya perlu berbuat lebih banyak. Apa yang kita lakukan lebih nyata daripada sekedar kata-kata.” Ini sangat relevan dengan apa yang kita bahas sebelumnya tentang hamba yang tidak berguna.
Dalam Matius 25:30, kita melihat bahwa hamba yang tidak berguna akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan tinggi. Ini karena hamba yang tidak berguna tidak melakukan apa-apa dengan talenta yang diberikan kepadanya, sehingga ia tidak berharga.
Kata “tidak berguna” berarti tidak bisa dipakai, dan tidak dipakai berarti tidak berharga. Hamba ini tidak melakukan apa-apa, sehingga ia tidak berharga. Banyak orang dinamakan alat tidak berguna karena mereka bukannya mendukung, tetapi malah menghambat pekerjaan Tuhan.
Titus 1:16 mengatakan, “Mereka mengaku mengenal Tuhan, tetapi dengan perbuatan mereka mereka menyangkal Dia. Mereka adalah orang-orang yang keji dan tidak taat, dan tidak berguna untuk perbuatan yang baik.” Ini menunjukkan bahwa kita harus berbuat lebih banyak, bukan hanya berbicara.
Saya suka kutipan dari seorang pendeta yang mengatakan, “Saya tahu saya banyak kesalahan dalam khotbah, tapi saya berusaha melakukan supaya mungkin untuk Yesus dengan apa yang saya miliki.” Ini menunjukkan bahwa kita harus berusaha melakukan apa yang kita bisa, dan tidak hanya diam.
Ada istilah “work by the top” yang menunjukkan bahwa menjadi pengkhotbah atau pembicara tidaklah gampang. Selalu ada pertanyaan, “Emang kamu melakukan itu?” dan kita harus siap untuk menjawabnya.
Kita harus melakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan, karena tidak ada yang lebih menyinggung daripada kelalaian dalam menggunakan kemampuan yang telah diberikan. Ketika kita tidak menggunakan kemampuan rohani kita, itu adalah dosa di mata Tuhan.
Mungkin kita punya kemampuan berdoa dan mendoakan orang, sehingga orang bisa merasakan kedamaian, kesembuhan, ketenangan, atau penghiburan. Tapi, ada juga orang yang menjadi “alat tidak berguna” karena mereka bukannya mendukung, tapi malah menghambat pekerjaan Tuhan.
