Tak Ada Kepekaan Sosial; Hamburkan Biaya 2,5 Milliar Pesta Pernikahan di Tarutung
Penyimpangan adat
Ensensi pesta adat selamat ini banyak disalahartikan, bahkan, mengesampingkan esensi adat, yang terjadi penyalahgunaan tujuan adat. Otokritik datang dari Togarma Naibaho, pengamat budaya Batak menyebut, berlebihan. Tak paslah menyelenggarakan pesta mewah di situasi sekarang. Itu mempertontonkan kekayaan. Togarma mengajak memahami esensi. Kata dasarna Samot artinya harta atau penghasilan atau modal. “Jadi Pansamot pemberi Samot untuk si anak untuk membentuk Rumah Tangga. Sekarang ini kata Sinamot sudah salah. Samot bergeser jadi Hata Sinamot, pengertiannya diterjemahkan jadi mahar seperti harga jual, ini menyalahi filosofi awal,” ujar penulis buku SO-HOT Anak Manggoli-Boru Muli; Dasar Penikahan Adat Batak-Toba.

Togarma juga mempertanyakan, apakah si anak ni Raja sudah siapkan keperluan calon Inanta Soripada (Sripaduka) karena dia adalah Boru ni Raja? Menurut Togarma, sebenarnya tak ada istilah manuhor boru, jadi kayak jual beli. “Itu sebabnya muncul sindiran di internet daftar harga boru Batak dari mulai tamat SMA hingga Sarjana. Hal itu karena sudah menyimpang dari filosofi awal,” ujar pendiri Sanggar Gorga, yang menangani seni budaya Batak dari mengukir gorga, dekorasi perkawinan hingga pertunjukan dan opera Batak, sejak tahun 1985 hingga sekarang.
Masih menurut Togarma, Sinamot bukan biaya pesta. Biaya pesta itu kesepakatan di luar Sinamot. Biaya Marhata ni Samot bisa hanya empat juta karena dihadiri hanya dengan satu orang parhara dan ring satu 20 orang saja. Acara digelar di dalam rumah, itu sah otonom. “Jadi yang berlangsung sekarang sudah digabung antara Marhata ni Samot dengan pesta. Akibatnya boros waktu, tenaga, dan biaya besar,” ujar mantan dosen Universitas Trisakti itu. Menurutnya, seharusnya di pesta para undangan hadir membawa tumpak seperti resepsi, yang dalam bahasa Batak disebut unjuk.
Ini penyimpangan, bagi Togarma. “Penyimpangan adat itu dimulai orang-orang berduit, terutama di kota besar seperti Jakarta. Nyatanya, bukan di Jakarta saja, acara pesta perkawinan memboroskan banyak biaya pun telah tertular di kabupaten seperti acara pesta di Tarutung, pesta pernikahan pasangan Alfredy Simamora dan Anggi Yunanda Simanjuntak. Padahal, sudah acara mewah, belum tentu keluarga jadi teladan. Nyatanya tak sedikit pasangan mudah setelah menikah lalu pisah, cerai. Sudah menghamburkan dana besar tetapi pondasi berumah tangga pun rapuh. Hal yang patut dihayati demi pembaharuan budaya Batak. (Hojot Marluga)
