BATAK CENTER Bicara Relevan Pada Kemajuan dengan Menyentuh Kebudayaan dan Sumber Daya Manusia
Pembicara kedua, Professor Mombang menyajikan paparan, tentang strategi kebudayaan bangso Batak dalam era artificial intelligen. Di bagian pengantar dia menyetir ungkapkan, bagaimana budaya sebagai sesuatu yang luhur.
“Kalau kita ingat pandangan dari Prof Soemardjan, Prof. Koentjaraningrat, Prof T.O. Ihromi menyebut, bagaimana kebudayaan itu menjadi pembeda antara kita dengan makhluk hidup lain, dan juga kalau kita perhatikan budaya suku demi suku itu juga memberikan identitas dan kebanggaan, dan itu mempengaruhi pola pikir nilai dan perilaku individu dan dan perilaku bersama,” ujar Guru Besar di Universitas Kristen Indonesia itu.
“Menjadi sumber inspirasi dan kreativitas manusia, dan kita lihat ini dalam kaitan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sudah semakin berkembang ini juga bukan tantangan kecil bagi kita. Kalau saat ini handphone masih kita pegang masih kita genggam suatu ketika bagaimana halnya jika handphone itu sudah dilekatkan di kulit kita menjadi. Bagian dari tubuh kita gambaran-gambaran tentang kemajuan iptek di masa depan itu di satu sisi menjadi pisau bermata dua, karena selain ia mendatangkan manfaat. Tetapi, dia juga bisa mendatangkan ancaman bagi kita.”
Prof Mombang menambahkan, kalau kita perhatikan budaya Batak tempo dulu saya mengutip pandangan dari Japiter Tinambunan, dia mengungkapkan bagaimana membangun citra dan karakter khususnya untuk orang Batak, bahwa dalam masyarakat badak Batak masa lalu taat dan takwa kepada sang halik, itu menjadi satu pegangan yang utama Debata Mulajadi Nabolon gambaran tentang bagaimana orang Batak, mengakui ada satu kekuatan transendental di luar dirinya.
“Ada yang mengatur alam semesta juga masyarakat, dan dirinya sendiri yang kedua masyarakat Batak sangat peduli pada keturunan terutama ingin punya anak laki-laki, walaupun belakangan ini ketika sudah terjadi tidak ada anak laki-laki di dalam satu keluarga tidak ada lagi desakan seperti di kampung halaman dulu.”
Sementara itu, Ir Kadiman Pakpahan MM; Wakil Ketua Departemen Patologi Sosial BATAK CENTER yang terus mengerakkan Sadar Gizi. “Jadi kalau saya ambil pendapatnya professor bahwa budaya itu adalah cipta, rasa dan karsa. “Tetapi saya mau fokus saja, sekarang ada departemen patologi sosial jadi tugas kami. Sebenarnya bukan urusan orang sakit. Jadi itu preventif dan ini sudah kita lakukan kurang lebih tiga tahun dengan membuat satu gerakan sadar gizi.”
“Naluri saya SDM ini langsung bangkit memang sudah 3 tahun kita lakukan gerakan sadar giji bagaimana menciptakan sejak dini singkatnya itu 1000 hari usia emas sejak kehamilan. Mimpi saya itu boleh dikatakan bagaimana menjadi Yahudi kedua di negeri ini yaitu; dari datang mau tidak mau jadi berpikir saya sederhara ada dua persoalan mendasar yang kita alami di bangsa ini masalah kebodohan dan masalah moral masalah kebodohan ini tentu ini apa ada faktor genetik.”
Dia menambahkan, jadi kalau sampai ibu-ibu tidak serius menjaga hamil, lahirlah stanting. “Potensi stanting kita sekarang masih zona kuning, kalau enggak salah hampir 17 provinsi zona merah di Indonesia, dan digelontorkanlah anggaran 77 triliun, tetapi menurut laporan Menteri Keuangan yang nyampai ke mulut korban hanya 34,5 triliun. Terus bagaimana nasib yang 71 triliun nanti? Makan siang gratis, saya merasa ini penting awasilah dalam pengertian kita pantau.
Sementara penanggap dari perempuan, Dr. Adele Hutapea, yang juga salah satu pengurus BATAK CENTER di departemen verifikasi tokoh batak inspiratif, menyampaikan pendapatnya tentang kesehatan kaitannya dengan stunting. Dia menyebut, stunting bukan satu-satunya masalah yang diakibatkan oleh masalah gizi yang kurang, tetapi adalah dampak dari begitu banyak beban sosial kesehatan politik, budaya dan bahkan, kebijakan lokal tentang bagaimana seorang perempuan dan anak harus bertumbuh di dunia ini. (Hojot Marluga)
