Donald Togi Joshua Situmorang SH, MH, Jabat Kajari Humbang Hasundutan
Dulu Donald memiliki cita-cita menjadi polisi sejak kecil, namun tidak disetujui oleh ibunya. Meskipun demikian, dia tidak menyerah dan terus berusaha. Namun, dia tidak lulus seleksi masuk Akpol. Bapaknya, yang tidak juga mendukung keputusannya menjadi polisi, justru mendorongnya untuk menjadi orang yang mandiri dan tidak terlalu mengandalkan orang lain.
“Setelah tidak lulus seleksi masuk Akpol. Oleh Bapak menyarankan agar saya mendaftar di Kejaksaan, karena sama-sama penegak hukum,” kenangnya.
Setelah diterima di Kejaksaan, Donald bersyukur karena dia diterima bukan karena dimudahkan oleh Bapaknya, melainkan karena kemampuan dan kerja kerasnya sendiri. Bapaknya, yang saat itu sudah duduk di eselon dua, Direktur Ekonomi Keuangan di Kejaksaan Agung, tidak mau menggunakan pengaruhnya untuk membantu Donald, karena ingin dia menjadi orang yang mandiri dan bertanggung jawab.

Setelah berkarier di Kejaksaan diterima sebagai calon pegawai negeri sipil di Kejaksaan, Donald ditempatkan di bagian Pidsus, di Gedung Bundar, tempat Bapaknya dulu bertugas.
Namun, suatu hari, Donald merasa tidak masalah untuk main-main ke ruangan Bapaknya, karena sudah biasa datang ke sana sejak kecil. Namun, dia tidak menyadari bahwa dia sudah tidak lagi menjadi anak kecil yang bisa masuk ke ruangan Bapaknya tanpa permisi.
Bapaknya, yang sedang bekerja, menatapnya dengan mata yang tajam dan berkata dengan suara agak tinggi, “Loh, siapa kau, masuk tanpa ketok. Keluar sana!” Donald keluar dengan rasa malu dan tidak mengerti apa yang terjadi.
Baru setelah dia masuk lagi dengan mengetok dan meminta izin, Bapaknya menjelaskan bahwa dia harus menghormati dan tidak bisa sembarangan masuk ke ruangan kantor, meskipun itu adalah ruangan Bapaknya sendiri.
Kejadian itu menjadi perbincangan di rumah, dan Donald merasa malu karena hanya dia yang di Kejaksaan dan tidak tahu aturan kantor. Namun, dia juga belajar bahwa menjadi anak pejabat tidak berarti bisa melakukan apa saja, dan bahwa dia harus selalu menghormati dan mengikuti aturan.
Bapaknya pun tidak “menitipkan” dia pada seseorang, melainkan menyuruhnya berjuang sendiri. Dia tahu bahwa Bapaknya memantau dia, dan dia selalu mengingat apa yang dikatakannya, sampai akhirnya dia berhasil lulus ujian penyesuaian ijazah dan pendidikan Jaksa.
