DR. dr.Waldensius Girsang, SpM (K): Penemu Metode Baru Membedah Mata
Memotong retina secara radial
Prestasinya di Rumah Sakit JEC juga diimbangi dengan pencapaian pendidikannya yang tertinggi sebagai seorang doktor. Semangat pembelajarannya memang tinggi. Di usia yang tak muda lagi dia meraih gelar doktor dari Universitas Gajah Mada, pada, Senin, 3 Februari 2020 lalu. Tak tanggung-tanggung disertasi pria kelahiran, 27 Juli 1959 ini merupakan penemuan baru dalam pengobatan mata. Prestasinya ini pun mendunia, dirinya menjadi pesohor terbukti dengan banyak diundang mempersentasikan temuannya ini ke berbagai Negara.
Adapun judul disertasinya yaitu; “Pengembangan Metode Baru Retinektomi Relaksasi Radial yang Efektif dengan Efek Samping Minimal pada Ablasio Retina dengan Vitreoretinopati Proliferatif Tingkat lanjut.” Disertasinya berhasil dipertahankan di hadapan dewan penguji pada sidang ujian terbuka program Doktor, Senin, 3 Februari 2020 di gedung Auditorium Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) UGM.

Baginya, metode baru operasi mata ini dilakukan dengan cara memotong retina secara radial, yang selama ini belum pernah dilakukan. Metode ini menjadi berbeda karena cara sebelumnya adalah memotong secara melintang. Dirinya menegaskan bahwa pemotongan harus dilakukan dengan cermat sesuai ukuran tertentu untuk keamanan pupil. Promotor Dr. dr. Dwi Cahyani Ratna Sari, M.Kes., PA(K), temuan baru metode operasi mata dengan kondisi ablasio retina ini berhasil mengantarkan Dr. Waldensius Girsang meraih gelar Doktor ke-4.781 dengan IP 3.94 predikat summa cum laude atau dengan sebutan; pujian tertinggi.
Saat memaparkan hasil penelitiannya, topik disertasinya dan mengembangkan metode baru retinektomi relaksasi radial, sebagai teknik bedah yang sangat membantu dalam kasus ablasio retina dengan PVR tingkat lanjut. “Saya membuat suatu metode baru untuk mengoperasi saraf mata pada gangguan karena lepas saraf mata dari tempat penempelanya dengan ablasi retina, sehingga hasilnya lebih maksimal, lebih murah dan lebih cepat kerjanya, lebih baik dengan cara memotong retina secara radial yang selama ini melintang.”
“Cara ini membuat hasilnya lebih baik karena apabila ada retina yang lepas biasanya harus dibantu dengan pemakaian minyak silikon,” ujar pria Batak Simalungun asal Dairi ini. Dairi disebutnya sebagai kampungnya. Ayahnya dulu mendapat penugasan sebagai pejabat di Kabupaten Dairi, hingga memboyong istri dan anak-anak, Waldensius bersaudara. SD sampai SMA dilaluinya di Sidikalang, Ibukota Kabupaten Dairi itu. Pendidikan dasar di SD HKBP Sidikalang, pendidikan menengah pertama di SMPN 1 Sidikalang dan pendidikan menengah atas di SMAN 225 Sidikalang. Lalu, Pendidikan sarjana dengan gelar dokter diselesaikannya di Fakultas Kedokteran, Universitas Sumatera Utara, tahun 1985.
Tahun 1995, dia melanjutkan pendidikan dokter spesialis mata di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan lulus pada tahun 1999 dengan tesis berjudul: “Synergic effect of tetracycline in meibomian gland dysfunction.” Pendidikan spesialis mata dilanjutkan dengan menyelesaikan fellowship di bidang katarak dan operasi refraktif serta operasi vitreo-retina pada tahun 2000 di Jakarta Eye Center. Sempat juga mengikuti pelatihan vitreoretinal di Zhongshan Ophthalmologic Center, Sun Yat Sen University, Guangzhou, China.
Dengan metode retinektomi relaksasi radial, dia bisa mengoperasi dan menempelkan retina, dan dapat dilakukan dengan tamponade gas yang sebelumnya menggunakan minyak silikon. Sementara pemantauan pasien dilakukan selama enam bulan pasca operasi agar lama pengamatan hasil operasi menunjukkan hasil yang cukup mewakili keadaan praktik sehari-hari.
“Minyak silikon kalau sudah nempel bagus, 3-6 bulan kemudian harus dikeluarin lagi operasi kedua. Sementara teknik yang saya buat ini tak perlu lagi pakai minyak silikon, cukup pakai tamponade gas. Mengapa? Minyak silikon kadang-kadang membuat suatu komplikasi yang tak kita inginkan,” jelasnya.
Akibatnya minyak silikon bisa membuat tekanan bola mata menjadi tinggi dan bisa menjadi rendah setelah dikeluarkan, sehingga penglihatan mata semakin menurun lagi. “Justru itu kita hindarkan pemakaian minyak silikon pada penyakit retina,” ujarnya. Metode retinektomi relaksasi radial dengan tamponade gas ini mendapatkan angka keberhasilan yang memuaskan, baik secara anatomis maupun fungsional serta efek samping yang relatif rendah.
“Tindakan ini juga dapat mempercepat dan menghemat biaya operasi karena memungkinkan penggunaan gas pada kasus ablasio retina rhegmatogen dengan PVR sehingga tak perlu dilakukan dua kali operasi pada teknik yang biasa dilakukan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan angka keberhasilan yang lebih baik dari sejumlah penelitian terdahulu dengan berbagai variasi teknik retinektomi,” sebutnya.
Sudah pasti di jajaran peneliti, juga menambahkan, bahwa dirinya yang menggunakan pendekatan geometris dan fisika untuk mengembangkan metode retinektomi radial yang efektif dan mudah dilakukan untuk penanganan ablasio retina dengan PVR derajat berat.
