DR. dr.Waldensius Girsang, SpM (K): Penemu Metode Baru Membedah Mata

Melayani di Gereja

Di masa kecil tubuhnya tergolong kecil di banding dengan anak-anak sebantarannya, tetapi dirinya suka main bola. Soal main bola jangan ditanya. Atas kelihaiannya mengiring bola, sampai setelah menjadi dokter kesukaannya main bola terlihat menonjol, bahkan sempat jadi salah satu pemain PSMS Medan untuk usia muda.

Nyatanya kesukaan main bola juga berdampak pada kariernya. Satu saat ketika ambil spesial mata, kuliah magister di Univeritas Indonesia, ada pertandingan antara mahasiswa dan dosen. Dirinya masuk salah satu pemain. Oleh karena kelihaiannya main bola membuat para dosen mendekatinya, ingin kenal dengan dirinya lebih dekat.

Ayah dua putri ini. Menikah dengan Eveline boru Ginting. Ayah dari Margareth dan Josephine. Abang kandung dari Ketua Umum PERADI DR. Juniver Girsang dan DR. Junimart Girsang anggota DPR RI ini juga ternyata pelayan di gereja. Dia juga sebagai majelis di gereja. St DR dr Waldensius Girsang SpM(K) ini juga diketahui sebagai Pimpinan Majelis di Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) Salemba, Jakarta.

Sebagai umat Kristiani, Waldensius sadar untuk melayani sesama tanpa pamrih dan tanpa pandang buluh adalah bukti implementasi iman. Baginya, hal paling mendasar yang harus dilakukan setiap orang, kepada Tuhan adalah melayani, sebab melayani adalah sebuah kehormatan.

Tentu Tuhan telah mengaruniakan kepada setiap orang ukuran iman, menerima anugerah, bahwa kasih karuniaNya berlimpah. Kata anugerah sendiri berasal dari istilah kharis yang diterjemahkan sebagai “kasih karunia.” Anugerah, disebut juga kasih karunia adalah pemberian Tuhan yang tak terbatas, dicurahkan kepada orang-orang yang diberikan keistimewaan.

Oleh karena itu, Waldensius tahu betul jika dia diperkenankan menjadi ahli mata, mengoperasi tak seperti biasa, sudah tentu itu karena kasih karunia, diberikan kepada mereka yang mendapat keistimewaaan. “Ketika saya mengadakan operasi, saya merasakan tuntunan Tuhan untuk melayani pasien.”

Baginya, manusia diciptakan Tuhan agar hidup memberi arti. Dia sadar betul, jika manusia bisa berkarya maksimal oleh karena penyertaan Tuhan dalam hidupnya. Dia sadar sebagai manusia bisa melakukan kesalahan maupun kekeliruan, setiap waktu meminta hikmat Tuhan, dan menyadari bahwa jika dia bisa melakukan operasi yang tak biasa, itu semata-mata oleh karena penyertaan Tuhan. (Hojot Marluga)

Hojot Marluga

Belajar Filosofi Air

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

twenty + 3 =