Dr. Pantas H. Silaban, SE, MBA: Jangan Cemas; Tetap Memuji, Kita Dilindungi Tuhan


Keluarga Pemuji

Keluarganya adalah keluarga pemuji. Jiwa pemuji adalah hidup dalam api semangat yang berkobar. Hal itu terlihat khususnya di keturunan Op Romeo di mana mereka bisa dengan apik menampilkan suara melalui perjumpaan virtual. Pantas tahu betul pemuji dan penyembah yang sangat berkenan di hadapan Tuhan, sebab memang, panggilan utama hidup kita sebagai umat Tuhan adalah untuk jadi pemuji dan penyembah bagiNya, Raja di atas segala raja. Pujian mesti ada dalam keluarga, sebagaimana Daud adalah Raja yang pemuji dan penyembah.

Di keluarganya keturunan Op Romeo dari mereka sembilan bersaudara, ada yang jadi pendeta, pengusaha, pengacara, notaris, dosen. Adik dari Ir Nelson Silaban pendiri sekaligus pemimpin PROSUS INTEN. Jiwa wirausaha datang dari orangtua. Orangtuanya dulu toke kopi di Lintong Nihuta, tetapi kemudian usaha itu tak berkembang.

Akhirnya keluarganya pindah ke kota Dolok Sanggul di saat umurnya satu tahun. Di Kota Dolok Sanggul orangtuanya membuka usaha kelontong dari menjual ikan asin kemudian usaha itu berkembang pesat di jalan Sisingamangaraja No.33 dan di situlah usaha diberi nama Usaha Baru oleh ayahnya ST Silaban sering disingkat STS, ibunya boru Lumbantoruan.

Setelah berhasil hidup mandiri di Kota Medan dia tak lupa dengan kampung halamannya. Sempat digadang-gadang untuk menjadi bakal calon Bupati di Humbang Hasundutan, tetapi pencalonannya tak jadi karena partai yang awalnya mendukung menjatuhkan pilihan ke calon lain. Namun baginya bukan hanya orang menjabat bupati bisa mengabdi dan berbuat di kampungnya.

Itu sebab dia mendirikan sekolah kesehatan bersama istrinya oleh karena juga dulu adalah seorang lulusan Akademi Keperawatan lulusan Sint Carolus, Jakarta (sekarang disebut Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sint Carolus) kemudian berkarier perawat di RS Elisabeth Medan. Namun saat dia melanjutkan S2 ke Amerika Serikat, istri dan anak semata wayang harus ikut bersamanya, maka karier istrinya di bidang kesehatan ditinggalkan. Sepulang dari Amerika Serikat istrinya yang hendak melanjutkan karier bidang kesehatan kesulitan mendapat tempat mengabdi.

Setelah tidak bekerja untuk beberapa bulan kemudian istrinya diminta menjadi guru di bidang keperawatan. Tetapi setelah beberapa lama kemudian terlihat peluang untuk mengabdi lebih luas dengan mendirikan Akademi Kebidanan Kesehatan Baru yang kemudian berubah menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Baru di Dolok Sanggul.

Ditanya makna hidup baginya, tak menjawabnya langsung tetapi menyebut. “Iya Tuhan ajarlah aku di dalam hidupku untuk tidak khawatir, sehingga aku mampu berserah mengerti maksudMu di dalam kehidupan. Dan berjalan di jalan yang Tuhan kehendaki,” sebutnya. (Hojot Marluga)

Hojot Marluga

Belajar Filosofi Air

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3 × four =