Dr. Ramses Simanullang, M.Si; Aktif Jadi Pelayan Penggerak dan Pembawa Perubahan 

Menggunakan kecerdasan iman

Sekilas profil Dr.  Ramses Simanullang, SE.M.Si yang biasa disapa Ramses Simanullang. Pria kelahiran Desa Bunturaja, Kecamatan Siempat Nempu, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, 14 Maret 1977 ini adalah anak keepuluh dari limabelas  bersaudara. Bapak dan ibunya  pensiunan PNS. Bapak (Alm) Ev. St. Marulak Simanullang dan ibu (Alm) Artamina boru Silalahi.

Suami dari Christina Magdalena boru Tampubolon, S.Kep.Ns.M.Kes (dosen Universitas Imelda Medan). Ayah dari tiga anak; Grace Patricia boru Simanullang, Gaby Pricilya boru Simanullang dan Gideon Pratama Simanullang, selalu menggupayakan perubahan untuk lebih baik.

Menurutnya dimensi iman sebagai penggerak.Baginya, tak ada manusia yang tak cerdas. Pada intinya seluruh manusia diperlengkapi Tuhan untuk kecerdasan, tetapi yang ada manusia malas. “Manusia, sebagai mahkluk cerdas mestinya memahami dimensinya sebagai penggerak dan harus selalu menginspirasi, dengan kemampuan membangun kerjasama dengan orang lain,” ujar aktivis gereja, akademisi dan juga Komisioner KPID Provinsi Sumatera Utara.

Sebagaiman ungkapan menyebut “manusia sebagai penggerak sejarah,” artinya manusia merupakan pelaku dari peristiwa sejarah. Peristiwa sejarah tak terlepas dari aktivitas kehidupan manusia. Manusia penggerak faktor yang menyebabkan perubahan. Manusia tentu dapat menggerakkan tubuhnya dengan bantuan otot, tetapi daripada itu manusia juga sanggup menggerakkan lingkungan dengan kekuatan dimensi yang diberikan Tuhan.

Ha itu juga yang dikatakan Tuhan Yesus dalam Matius 17:20 menyebut, “Ia berkata kepada mereka: “Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.”

Sebagaimana ditulis seorang jurnalis senior, Drs Ch Robin Simanullang, tentang kecerdasan iman. “Kecerdasan iman itu adalah kecerdasan spiritual yang diilhami oleh iman seseorang.” Artinya, seseroang yang beriman memiliki dan mengembangkan kecerdasan spiritualnya tak hanya dari bagian terdalam dari dirinya sendiri, melainkan lebih lagi oleh keyakinan imannya sendiri.

Baginya, pendidikan bukan hanya sekedar meraih gelar, “tetapi bagaimana keilmuan yang diperoleh bisa bermanfaat dan berdampak bagi kehidupan banyak orang dan hidup kita menjadi kemuliaan bagi Tuhan,” sebut sosok pelayan mimbar ini.

Mimbar dijadikannya ajang bertukar pengalaman, pengetahuan, informasi dan menginspirasi dalam rangka menggerakkan untuk perubahan hidup lebih baik. Sebab memang, orang yang terinspirasi akan tergerak dan bergerak. Karenanya, dia selalu aktif menjadi pelayan yang menggerakkan dan membawa perubahan bagi lingkungannya. “Seorang pemimpin itu harus mampu menggerakkan, membawa perubahan yang lebih baik,” sebutnya.

Manusia pembelajar

Dia juga sosok manusia pembelajar. Manusia pembelajar adalah orang yang terus belajar, mempertinggi kemampuan agar bisa memberi kontribusi lebih besar bagi kemajuan bangsa dan kemanusiaan.

Menurutnya, pendidikan tentu tak hanya didapatkan dalam bangku sekolah, pendidikan formal semata, tetapi pendidikan pembuka cakrawala berpikir dengan aktif di organisasi. Itu sebabnya jejak pendidikan formalnya dimulai sekolah di SD Negeri Bunturaja, SMP YAPSI Medan dan SMA Kristen 2 Medan, lalu melanjutkan Pendidikan  Fakultas Ekonomi  (S1) Jurusan Ilmu Ekonomi di Kampus Universitas HKBP Nommensen Medan.

Dilanjutkan pendidikan (S2) Jurusan Ilmu Ekonomi di  Universitas Negeri Medan. Tamat tahun 2001, dan melanjutkan Pendidikan Program Doktor dari STT Sumatera Utara Konsentrasi Kepemimpinan. Terbukti, sebagai manusia pembelajar, dia menyelesaikan studinya tepat waktu selama tiga tahun dengan IPK Sangat Memuaskan.

Selain belajar pendidikan formal, pendidikan non formal, menimba ilmu dengan aktif ikut di berbagai organisasi. Pria yang sangat gemar berorganisasi dan memiliki segudang pengalaman di organisasi. Sejak remaja sudah aktif, awalnya menjadi Ketua OSIS, Ketua DPC PIKI Kota Medan, Wakil Sekretaris PWOIN Prov Sumut, Wakil Ketua IAFEN, Wakil Ketua Umum RNSBI.

Selain itu, Wakil Ketua PARTOGAM Kota Medan, Direktur Grebyon Institute, Direktur Grebyon Ministry, Ketua Yayasan GMB, Badan Pengawas Netfid Sumut, Penasehat DPD MUKI Sumut, Penasehat DPC API Kota Medan, Ketua PPK Medan Perjuangan, Ketua Panwascam Medan Perjuangan, Ketua Relawan Demokrasi Kota Medan.

Sebagai manusia yang sadar bahwa kecerdasan dari Tuhan harus diaktivasi dengan aktif mengembangkan talenta. Ramses juga melatih seluruh potensi dirinya dengan aktif menciptakan lagu. Karya lagu yang diciptakannya: Bertobat Kembali Kejalan Yang Benar, Bersama Tuhan Selamanya, Desember Ceria dan Parumaen Na Pinillit Mi.

Hidup baginya adalah berbuat untuk kebaikan. Dia juga sangat aktif di dunia pelayanan, setiap hari Minggu selalu dilakoninya untuk melayani, menyampaikan khotbah dari mimbar ke mimbar gereja. Atas pengaruhnya, Tahun 2022 lalu, Majalah NARWASTU menobatkannya meraih penghargaan 21 Tokoh Kristiani Inspiratif 2022.

Bagi Wakil Ketua STMIK Budidarma Medan dan Direktur Akademi Akuntansi Profesional  Indonesia ini, berorganisasi itu baik sebagai media  pembelajaran untuk membentuk banyak hal, kemampuan menghargai orang lain, memahami cara membangun relasi dan mengembangkan potensi.

Lagi-lagi baginya, organisasi tempat persamaian, atau tempat pengodokan calon pemimpin di masa depan. “Di organisasi kita di tempah memiliki kemampuan dalam memimpin. Dan, apa yang ada dalam potensi dirinya juga akan tersalur di organisasi, juga membentuk keterampilan, loyalitas, disiplin, kepemimpinan, dan kreativitas,” katanya lagi.

Pria dengan motto hidup, “Tetap Semangat Dalam Menabur Benih Kebaikan Kepada Keluarga Indonesia” dengan ayat emas, “Sebab Segala Sesuatu Adalah Dari Dia, dan Oleh Dia, dan Kepada Dia Bagi Dialah Kemuliaan Sampai Selama Lamanya (Roma 11:36).” Dr Ramses memiliki kiat hidup sukses di dunia pekerjaan dan sukses dalam mengelola organisasi dengan konsep 3 K yaitu: Komunikasi, Kerjasama dan Kompetensi. (Hojot Marluga)

Hojot Marluga

Belajar Filosofi Air

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

8 + 1 =