Drs. Alidin Sitanggang, M.M; “Inilah Kami, Utuslah Kami. Jadilah KehendakMu untuk Kami, Bapa”

Jikalau Tuhan berkenan, nanti Pak Sitanggang jadi anggota dewan mewakili daerah Kalimantan Selatan 2 ini di pusat, kira-kira apa yang harus dibangun?

Secara nasional saya memperjuangkan pembangunan karakter dan revolusi mental nasional, karena inilah yang menjadi masalah. Dalam bahasa Bataknya disebut “Singkap Mamarbar” atau persoalan utama yang terjadi. Saya lihat kalau mental itu, karakter sudah terbangun dengan poin tadi, mereka yang sudah menjabat sekarang bisa direvolusi mentalnya. Kembali lagi kepada yang empat tadi. Poin yang fokus saya berikan pada Kalimantan Selatan ini khusus yaitu pencegahan asap dan banjir, revitalisasi lahan dan penyediaan air bersih. Lalu, peningkatan mutu pendidikan dan kesejahteraan rakyat. Satu poin adalah untuk mencapai Indonesia Sejahtera. Indonesia Sejahtera di dalamnya ada wilayah sejahtera. NKRI berdaulat itu program yang saya mau buat. Tetapi, semua selalu kembali kepada karakternya. Revolusi Mental yang dulu disuarakan, belum diwujudkan, poin saya, saya yakin itu akan berdampak. Mungkin bukan zaman ini, mungkin lima tahun lagi, tetapi harus diperjuangkan, berbuat kalau tidak berbuat akan semakin ruyam.

Kami garis bawahi ungkapan dari bapak, bahwa revolusi mental itu akan didengungkan kembali.  Kita tahu di periode pertama kepemimpinan Jokowi waktu itu Nawacita yang disebutkan itu kan Revolusi Mental begitu, tetapi jujur sampai sekarang itu yang kita dambakan tak dilakukan. Apakah otokritik Pak Sitanggang?

Ini pertanyaan yang bagus. Memang, waktu awal pemerintaham presiden Jokowi 2014 sudah mendengung-dengungkan revolusi mental. Betul dan saya amati bahwa pembangunan infrastruktur jalan, jalan tol, pelabuhan, dan sarana-sarana yang vital lainnya yang masif dikerjakan, tetapi tidak sebanding dengan keberhasilannya dengan revolusi mental. Saya sadar revolusi mental itu tidak bisa dalam tempo 5 tahun, harus berlanjut terus-menerus.

Maka tadi, sebelum kita melakukan revolusi mental, baiklah yang sudah ada sekarang ini existing kita tidak menyalahkan sejarah. Apa yang telah terjadi, yang juga kita amati masih ada korupsi, satu pertanda revolusi mental belum seindah revolusi infrastruktur, karena seperti kita katakan tadi kalau sudah di atas 18 tahun dia ke atas agak susah dibentuk. Maka kita mulai dengan pembangunan karakter dari umur 0 sampai 17 tahun.

Di periode ini pemilihan presiden dan pemilihan calon legislatif ini yang berbarengan. Ini tantangan bertepatan partai Perindo ini kan pendukung Ganjar-Mahmud. Bagaimana di lapangan Pak Sitanggang, karena Anda bukan hanya membawa nama partai Perindo, tetapi juga tantangannya bagaimana calon yang diusung oleh empat partai bisa menang?

Ketika sosialisasi yang saya lakukan selama ini, saya jumpai baik ke tokoh adat, tokoh agama, pemimpin-pemimpin umat gitu. Semua umat kita mendukung program daripada Pak Ganjar dan Pak Mahfud ini. Kita konsekuensin harus fight dan syukur pada Tuhan di dapil-dapil ini, dapil saya ini mereka itu sangat mencintai Ganjar-Mahfud. Saya senang sekali, saya ketemu dengan UMKM yang kecil sampai tokoh, mereka senang sekali mendengar bahwa Pak Mahfud. Pak Ganjar juga, sangat banyak di Kalimantan Selatan 2 itu pendukungya. Lebih lebih dominan. Asumsi saya 80% pendukung Ganjar-Mahfud. Dan tentu  itu yang menambah semangat saya juga optimis lulus lolos ke Senayan.

Saya sudah mengunjungi mereka, berbicara-bicara dengan mereka. Maklumlah di Kalimantan ini jalannya juga tidak tol seperti Jakarta. Kondisinya juga kadang hujan, kadang panas. Tetapi karena saya sudah langsung masuk ke dusun-dusun, masyarakat di sana menyambut dengan ramah dan antusias. Tentu itu yang membuat saya tambah semangat, bahwa mereka menghargai kehadiran saya. Mudah-mudahan 14 Februari nanti mereka mengingat bahwa saya calon yang mereka pilih. Menurut mereka republik ini sudah hampir 80 tahun, belum ada orang yang sudah sampai ke dusun-dusun mereka. Tentu saya lakukan dengan tenaga ekstra. Secara fisik untuk ini ya, maka juga hati saya harus saya pelihara, tetap on track untuk tetap berkobar-kobar.

Soal nilai dan etika, kami tahu bahwa Pak Sitanggang berlatar belakang bankir, tentu dilatih dan memang terbiasa berdisiplin. Etika kesantunan terlihat, bagaimana melayani nasabah. Saya kira nilai-nilai profesionalisme itu kan ada di diri para bankir. Berpakaian juga bagus, parlente begitu ya. Lalu, Bapak kan belajar teologia, tentu nilai-nilai etika Kristen itu kan, Yesus mengajarkan bagaimana kita menjalankan kasih, lalu kalau kita hubungkan dengan politik, di politik itu kan tak ada teman yang abadi, dan tidak ada musuh yang abadi. Abadi itu kepentingan, maka kepentingam akan berubah begitu apa yang Bapak mungkinkan beri tanggapan soal ini….

Kami suka merenungkan sama istri, kenapa sih kita harus melakukan hal ini, memikirkan orang lain lagi, iya mending kita jalan-jalan ke Samosir. Seminggu ke Bali, 3 hari ke Tanah Karo. Tiga kali sehari masih bisa makan. Asuransi masih ada. Tetapi kami mau berbuat, kami berpikir kami harus berbuat, meskipun menghadapi banyak hal ini. Nah, untuk mengaplikasikan teologia, dalam hati kami sepertinya Tuhan berkata, “Mengapa kamu ambil S3 jadi Doktor. Berarti tanggung jawabmu harus lebih besar daripada sebelumnya.” Inilah yang kami pegang, dan apa yang berkaitan dengan nilai tadi, kalau orang masih memandang politik sebagai yang sudah umum, kami memandang politik itu adalah sebagai wadah dan sarana untuk melaksanakan firman Tuhan. Melayani Tuhan.  

Saya ambilah contoh di Mesir. Tidak ada pemerintahan yang memberi ruang untuk bangsa Israel,  sistem untuk mematikan orang Israel. Tetapi seorang perempuan bernama Ester memilih jalan untuk menjadi pembela (Ester adalah seorang Yahudi yang tinggal di Persia. Orangtuanya telah meninggal, jadi sepupunya, Mordekhai, merawatnya. Dia diundang ke istana raja bersama perempuan muda lainnya dalam kerajaan. Raja menginginkan seorang ratu baru, dan dia memilih Ester). Jikalau Ester tak berani mati untuk menghadapi Raja Ahasyweros dari Kerajaan Persia. Ester akan mati jikalau Raja itu menolak dia. Namun keberhasilannya itu membuat umat Israel saat itu selamat. Artinya itu nilai, sekian ribu tahun yang lalu, tetapi sekarang ini kita bisa aplikasikan, bahwa kita hadir di tengah-tengah masyarakat adalah untuk melaksanakan atau dan membuktikan kasih Tuhan, dengan segenap hati dengan segenap jiwa, dengan segenap kekuatan dan segenap akal budi.

Saat bersamaan mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri. Kita pegang siapa sesama manusia itu, bukan hanya keluarga atau satu agama, tetapi orang-orang yang Tuhan percayakan untuk kita layani melalui saya di DPR RI. Akan banyak yang harus saya layani untuk tembus adat istiadat, tembus politik, tembus aliran. Tetapi saya harus pegang bahwa itu saya lakukan sebagai saksi, suratan yang terbuka, yang dibaca oleh semua orang, disaksikan oleh semua orang, dan jumlahnya seperti awan di langit yang mengelilingi kita.

Itu yang kami terapkan untuk siap menjadi perpanjangan tangan Tuhan. Kita maju ke Senayan bukan mau mencari duit, karena makan sudah cukuplah, tiga kali sehari, enggak perlu punya apartemen banyak-banyak, enggak perlu punya kapal pesiar, dan lain-lain. Tetapi cukup makan seperti berkata asal bisa makan dan minum cukuplah, tetapi kami ingin berdampak. Itu tujuan kami untuk berdampak, itulah nilai yang kami pegang bersama dengan istri. Oleh karena istri saya pun mendukung, maka saya tambah semangat. Seandainya istri tidak mendukung, saya tidak mau.

Hojot Marluga

Belajar Filosofi Air

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

twenty − 19 =