Drs. Alidin Sitanggang, M.M; “Inilah Kami, Utuslah Kami. Jadilah KehendakMu untuk Kami, Bapa”

Pertanyaan terakhir, ada ungkapan menyebut, “Hidup ini adalah kesempatan.” Itu juga menjadi lagu dari almarhum pendeta Latumahina, pengarang lagu hidup adalah kesempatan. Hidup ini kan Anugerah, tentu Bapak berusaha berjuang maksimal mungkin untuk terpilih. Jikalau kita mengikhlaskan perjuangan itu kan toh kita sebutlah bahasa umum, kembali ke garis tangan. Kadang kala tidak seperti yang kita inginkan yang datang, banyak hal misteri dalam hidup ini. Kadang yang kita tidak pikirkan malah diberi lebih oleh pencipta, apa yang sudah bapak putuskan, semacam resume, nanti perjuangan ini diikhlaskan, bahwa memang apapun hasilnya kita berserah bahwa itu yang terbaik untuk Tuhan….

Bagus. Pertanyaan yang futuristik, dan saya bilang eskatologis. Saya sudah terima panggilan dari Tuhan melalui pak Hary Tano melalui Perindo memberi kesempatan untuk berkarya di sana. Sebagai orang yang 30 tahun di bank, enggak pernah saya mengerjakan sesuatu itu dengan ecek-ecek, harus memiliki profesionalisme dan memiliki integritas. Maka apapun dan sorry karena sudah kepalang basa, harus mandi tetapi terukur. Tidak harus mengorbankan uang, harta dan lain-lain.

Tetapi kami akan berjuang, berbuat dengan apa daya dengan modal dan nama baik kami yang masih ada di Kalimantan Selatan. Soal hasilnya biarlah itu Tuhan yang mempunyai kehendak, yang penting seperti Musa berkata kepada Tuhan, “ini aku Tuhan. Utuslah aku.” Itu kami sikapi dengan sekarang kalaupun nanti hasilnya tak sampai ke DPR, tetapi saya puas.

Saya sudah berniat, berusaha, berupaya, capek, mengeluarkan uang untuk melaksanakan dan untuk mewujudkan, atau mengaktualisasikan ilmu yang kami peroleh dan firman Tuhan yang kami peroleh untuk menjadi berdampak bagi sesama manusia, seperti kata lagu tadi, mumpung saya masih sehat, saya masih bisa bernapas, mumpung saya masih bisa bicara, mumpung saya masih bisa berjalan, saya masih melakukannya untuk Tuhan. Tetapi, sekali lagi, saya sudah berkata kepada Tuhan. “Inilah kami, utuslah kami. Jadilah kehendakMu untuk kami, Bapa.” Terima kasih.

Hojot Marluga

Belajar Filosofi Air

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

thirteen − twelve =