Drs Binton Nadapdap MM: Seorang Kolektor Bukan Tentang Aktualisasi Diri Tetapi Memiliki Jiwa Menjaga dan Merawat

Binton awalnya hanyalah seorang karyawan di bank, namun sesuai reputasi dan usia dirinya dipercayakan memimpin sebagai kepala cabang hingga kemudian pensiun. Pria kelahiran Pematang Siantar yang berbagai tempat pernah menjadi tempat tugasnya diantaranya; di Solo, Bandung dan di beberapa daerah lain. Ditanya apa yang paling mahal dan investasi yang banyak dikeluarkan? menurutnya investasi yang paling mahal adalah ivestasi lukisan.

Dia mengoleksi puluhan karya, Amrus Natalsya, seniman bermarga Tanjung Pasaribu itu dikenal karya-karyanya mahal. Termasuk menyimpan lukisan Raden Saleh Sjarif Boestaman, seorang pelukis Indonesia beretnis Arab-Jawa yang menjadi pionir seni modern Indonesia. Dan ratusan karya pelukis lain dikoleksi.

Karena ribuan koleksi lukisannya hingga tak jarang dia menggelar Pameran Lukisan di berbagai tempat, salah satunya pernah pameran di Balai Budaya Jakarta Pusat, Menteng. Selain itu dirinya juga menyimpan puluhan ribu klise foto-foto tua. Misalnya ada klise Megawati Sukarnoputri kecil yang sedang berboncengan sepeda mini bersama kakaknya Guntur Soekarnoputra atau Megawati mendampingi ibunya Fatmawati ketika mendapat perhargaan Perempuan Dunia, dan klise ini tersimpan di koleksi milik Binton Nadapdap. “Sudah tentu negara punya kepentingan disini.”

Tak berhenti jadi kolektor, Binton juga membenamkan diri  jadi pemerhati dokumen dan benda-benda sejarah. “Saya sudah sering dan melihat kegiatan komunitas Love Our Heritage.” Selain di rumah ada Gallery buku X’Books miliknya, Jalan Raya Cinere, Depok, Jawa Barat. Selain di gallery itu dia juga menyediakan tiga tempat di rumahnya menyimpan koleksinya, buku, lukisan dan klise-klise foto-foto yang tentu tak bisa lagi hanya di dihitung dengan rupiah semata. Saking nilai sejarahnya begitu tinggi.

SuaraTapian berkesempatan menjumpai Binton Nadapdap di rumahnya untuk podcast. Kami ingin mencari tahu sekaligus ingin menyaksikan sendiri tentang berbagai macam koleksi barang-barang antik yang tersusun rapih di museum Binton.

Kami tentu memperhatikan jiwa merawat itu sangat tinggi terhadap barang-barang yang bernilai sejarah. Hal itu ternyata sudah diminatinya sejak duduk di bangku SMA. Saat melaksanakan wawancara kami menemukan kepekaan dan kepeduliannya pada barang-barang yang punya nilai sejarah. Maka terungkaplah ungkapannya, “Nilai kita terlihat dari peradaban kita. Peradaban kita terlihat dari buku-buku kita.”

Tentu memilih dan membenamkan diri jadi seorang kolektor bukanlah perkara gampang. “Bukan hal gampang dalam merawat yang namanya barang-barang tua, harus ada jiwa idealnya untuk mencintai barang tersebut, agar memiliki tanggung-jawab penuh untuk merawat barang-barang yang bersejarah,” sebutnya.

Jemaat HKBP Cinere bukan saja hanya menjadi anggota Koor Ama HKBP Cinere, dia juga adalah salah satu penatua, sintua. Sebagai penatua, dia memahami bahwa melayani Tuhan harus dibuktikan melayani manusia. Artinya, mengasihi Tuhan dibuktikan dengan mengasihi manusia. “Takkan mungkin kita mengasihi Tuhan yang tak kelihatan, sementara mengasihi manusia yang kelihatan di sekitar kita tak kita kasihi, tak kita layani.”

Selain itu, Binton juga aktif mengembangkan potensi jemaat. Termasuk menggelar pelatihan menulis di gerejanya. Satu waktu dia menjadi panitianya. Sebab dia yakin menulis merupakan pekerjaan mulia. Jemaat dan penatua perlu juga menulis. Sebab nyatanya, apa yang kita tulis adalah merupakan buah hati dan pikiran. Binton sendiri berusaha memberikan kesempatan yang luas, agar buah pelayanannya itu dapat dirasakan, dibagi kepada siapapun.

“Menulis karena berkat yang telah Tuhan berikan kita berbagi lewat menulis.” Dari pelatihan menulis yang diselenggarakannya itu, harapannya akan lahir penulis-penulis baru. Maka berkat Tuhan terus melimpah dalam hidup kita, dan kita terus menjadi saluran berkat,” sebutnya. (HM/MS)

Hojot Marluga

Belajar Filosofi Air

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

three + nine =