Drs. Ch. Robin Simanullang; Forum Ini Menyalakan Suara Hati dan Suara Darahnya untuk Menarasikan Apa Nilai-nilai Kebatakan

suaratapian.com-Ada ungkapan, “simplicity is the ultimate sophistication,” yang diartikan sederhana itulah yang paling canggih. Ungkapan itu disampaikan oleh Leonardo da Vinci, seorang genius asal Italia yang dikenal dunia sebagai pelukis, pematung, dan arsitek. Ungkapannya itu masih relevan digunakan hingga sekarang, bahwa era digital ini masih memberi tempat pada kesederhanaan terkhusus di bidang jurnalis, keotentikan dan orisinilisasi karya yang menampilkan kesederhanaan adalah kecanggihan di era teknologi informasi ini. Demikian juga kehadiran Forum Jurnalis Batak boleh menganut ini untuk bisa percaya diri melahirkan karya, berkontribusi memberi informasi yang inspiratif. Paling tidak itulah refleksi satu tahun Forum Jurnalis Batak berdiri, 9 Desember 2022, ketika mewawancarai Drs Ch Robin Simanullang, Ketua Dewan Penasihat Forum Jurnalis Batak di Sekretariat Forum Jurnalis Batak di Sopo Marpingkir, Lantai 2. Jl. Raya Damai No.RT.07, RT.2/RW.7, Pulo Gebang, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur, Jakarta.

Drs. Ch. Robin Simanullang, jurnalis senior yang telah menulis biografi singkat 1001 tokoh di Website TokohIndonesia.com. Ketua Umum DPP Forum Penulis dan Wartawan Indonesia (FPWI) ini adalah Pendiri dan Pemimpin Redaksi situs web TokohIndonesia.com. Sebuah situs web yang tengah dikembangkan menjadi ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA (ENSIKONESIA) online. Dia berobsesi menjadi pengukir prestasi orang lain (tokoh) di ‘batu maya’. Berprinsip, menulis dengan mengosongkan diri, sebagai abdi dalem, yang berkreasi menerjemahkan (interpretasi) dan mengapresiasi visi dan jejak rekam sang tokoh.

Pemimpin Umum Majalah Tokoh Indonesia, kelahiran Doloksanggul, Humbang Hasundutan, Sumatera Utara, 18 Desember 1952, ini menganut jurnalisme ‘garam dan obor’, (journalism salt and torches), memberi rasa/mengawetkan dan menerangi, untuk menjadi garam dan terang dunia dan menjadi rahmat bagi sesama manusia dan semesta alam. Jurnalisme garam dan terang dunia! Yang dalam bahasa Arab (Islami): Jurnalisme rahmatan lil Alamin! Dan dalam bahasa kebangsaan: Jurnalisme Pancasila!

Kami berbincang dengan Ketua penasihat Forum Jurnalis Batak, Drs Ch Robin Simanullang mengingat di tanggal, 9 Desember 2021, Forum Jurnalis Batak dideklarasikan. Satu tahun berdiri forum ini, tentu  belum banyak kegiatan yang dilakukan. Tetapi sebagai jurnalis yang peduli memajukan tanah Batak, dengan kemampuan apa adanya, kami sudah juga mengirim di tiga tempat buku. Pertama di Desa Lumban Suhi-suhi Samosir, lalu di Kecamatan Harian Boho, Samosir, dan di Kabupaten Tapanuli Utara.

Sesungguhnya banyak hal yang juga masukkan yang kami dengar, baik pesan-pesan cara untuk berkarya untuk bisa dilahirkan di forum ini. Pengelola www.suaratapian.com Hojot Marluga mewawancarainya. Demikian petikan bincang-bincangnya;

Kami ingin merefleksi satu tahun Forum Jurnalis Batak di tanggal 9 Desember 2022. Ingin mendengar nasihat dari ketua penasihat kami, kira-kira apa ke depan dan apa yang harus dilakukan pengurus Forum Jurnalis Batak. Terima kasih waktunya ini, kami ingin minta refleksi, pesan dari seorang jurnalis yang sangat senior, memberi pencerahan pada forum kita ini?

Sebagai Ketua Dewan Penasehat Forum Jurnalis Batak yang sesungguhnya saya anggap sangat penting, karena sebagai sebuah organisasi ini mempunyai kekhasannya sendiri yaitu jurnalis Batak yang kalau disebut Batak itu, menyentuh kekitaan orang Batak dan eksistensi orang Batak, dengan suara hati dan suara darahnya. Oleh karena itu, saya sebenarnya dari awal berharap para jurnalis yang berhimpun di Forum Jurnalis Batak itu menyalakan suara hati dan suara darahnya untuk menarasikan apa nilai-nilai kebatakan, baik nilai-nilai tempo dulu maupun dalam rangka perkembangan zaman untuk menghadapi tantangan zaman.

Jurnalis Di Era Digital; Kesederhanaan Itu Kecanggihan Tertinggi

Sudah satu tahun sesudah deklarasi, sesungguhnya itu masih bayi, iya, kalaupun belum banyak berbuat itu sangat lumrah. Namun sebelum banyak berbuat konsolidasi organisasi sangat mutlak lebih dulu dilakukan, dulu konsolidasi secara organisasi lalu kemudian meningkat kepada penyatuan visi dan perspektif daripada Forum Jurnalis Batak yang berhimpun di forum ini, dalam bahasa yang lain perlu dulu internalisasi nilai-nilai kebatakan.

Itu diberi pembekalan kepada para jurnalis Batak supaya lebih, profesional sesuai dengan nilai-nilai kebanyakan dalam menyuarakan kepentingan-kepentingan kebatakan masa kini dan masa depan. Itulah bagi saya pribadi yang mendorong, bahwa ini penting dan ketika saya diminta untuk ikut terlibat di dalam forum ini, saya merasa ini kesempatan, karena Batak dari yang saya pelajari literasinya masih sangat kurang.

Kita banyak bercerita secara lisan, mungkin orang Batak berdiskusi, berdebat itu diakui oleh tidak saja secara nasional, tetapi juga secara internasional dan argumentasi-argumentasinya tak mengecewakan, ini termasuk ketika menghadapi dulu di zaman penjajahan. Kedatangan para misionaris dialog-dialog raja-raja itu sangat mencerahkan, dan oleh karena itu, kehadiran forum ini akan bisa memberi pencerahan bagi para pembuat kebijakan, terutama kebijakan-kebijakan di tanah Batak.

Kira-kira apa yang bisa dibuat oleh forum ini terkait misalnya, literasi tadi mengingat sekarang kan era digital kita bertempur di digital, apa kira-kira, orang sekarang berlomba juga buat podcast ada juga buat online. Begitu kira-kira untuk sumbangan pikiran dari Forum Jurnalis Batak apa yang paling bagus. Membuat Jurnal-kah, membuat apa?

Ini zaman adalah zaman cyber. Teknologi informasi yang berkembang demikian pesat, media-media cetak mengalami suatu tantangan walaupun media cetak tetap mempunyai kelebihannya sendiri, tak bisa kita nafikan itu, tetapi sesuai dengan tren yaitu perkembangan media digital, podcast dan sebagainya YouTube dan sebagainya sangat penting, dan secara praktis untuk menyuarakan visi dari Forum Jurnalis Batak itu diperlukan adanya media yang paling praktis adalah media-media online dan juga media-media semacam podcast.

Jadi saran saya, karena kita semestinya karena ini Forum Jurnalis Batak mempunyai sumber daya yang memadai untuk melakukan hal-hal itu sekarang, bahkan kita harapkan itu dengan kualitas yang jauh di atas rata-rata media sosial, yang harus diwujudkan dan itu tidak sulit, mudah dilakukan oleh Forum Jurnalis Batak, menurut saya karena hal itu sangat tergantung kepada sumber daya.

Apa keunggulan Forum Jurnalis Batak, bukan soal kapital yang paling penting tetapi sumber daya untuk membuat media-media itu di mana ini adalah kumpulan orang-orang praktisi profesional tentang berbagai media, hanya saja itu harus dilakukan secara terorganisasi dan itu diorganisir Forum Jurnalis Batak. Tentu, namanya organisasi harus ada ketundukan kepada paham dan visi yang digariskan oleh organisasi.

Apa pendapat penasihat, kita kan punya SDM. Sebenarnya SDM ini selalu tak bisa kuat kalau tidak punya alat lengkap. Tentu, digital ini juga kan membutuhkan satu perangkat yang memang secara standar harus bisa menghadirkan kualitas dengan alat yang mumpuni, kalaupun itu karya jurnalis Batak, pertanyaannya kemudian, apa yang harus kita mulai, kita mulai dari yang ada tapi secara umum kan selalu melihat kita perlu kapital besar dulu baru mulai. Apa yang harus kita lakukan dari kesederhanan, tentu tak mungkin langsung lari kencang, tetapi mulai dari hal-hal kecil, kita mulai dari yang ada saja…

Wah, kalau kita memulai sesuatu dari suasana lengkap, peralatan lengkap, serba lengkap, itu pekerjaan yang tidak kreatif. Jadi, memulailah dari hal yang sederhana. Justru itu akan menyentuh banyak keunggulan, kesederhanaan itu adalah kecanggihan yang tertinggi, baik memulai sesuatu terutama mulai penerbitan, sebuah media dengan tak tergantung kepada secara kapital walaupun. Kapital tentu sangat penting, tetapi tentang kapital kalau kita sudah menunjukkan kinerja yang dilakukan secara sederhana, bersahaja, mencari kapital secara kolaboratif dengan berbagai pihak yang mencintai tanah Batak itu bukan pekerjaan yang sulit.

Orang Batak itu pada hakekatnya, kalau dia sudah disentuh hatinya, kolaborasi itu akan bisa dan mudah dibangun. Walaupun kita tak bisa menafikan ada, ada juga hal yang bisa memancing hal yang kurang positif. Tetapi kita harus berpandangan positif bahwa Batak itu punya potensi untuk saling menopang. Biarpun kita berdebat, tetapi akhirnya itu akan mencari solusi. Jadi orang Batak itu memberi argumentasi yang berbeda, kreativitasnya itu dari leluhur kita, leluhur kita punya kearifan setiap perbedaan pendapat itu harus diakhiri dengan suatu kesepakatan bersama. Kesepakatan bersama itulah yang harus dilaksanakan, walaupun tadinya kita berbeda pendapat, itu sudah dimiliki oleh nenek moyang kita.

Tentang forum ini sebenarnya sudah banyak yang diketahui, diformasikan, karena informasi digital ini juga mempengaruhi di online. Bahkan, sebagian juga sudah bersedia teman-teman kita di daerah untuk jadi pengurus, tetapi memang kita belum berani untuk membuat pengurus di daerah karena secara militansi kita belum kuat. Kita tahu diri, kita ukur diri seperti pesan dari penasihat tadi, kita harus kompak atau bersatu. Sehati dulu di forum yang kita bentuk sederhana ini, dan sudah puluhan orang sebenarnya di Forum Jurnalis Batak. SDM kita sebenarnya mumpuni, tetapi kita minta tanggapan penasihat, bagaimana mensinergikan potensi-potensi ini. Karena kita kan berbeda dari latar belakang dan media masing-masing?

Jadi, kalau kita mau menghimpun semua atau beberapa Jurnalis Batak supaya benar-benar satu bahasa; yaitu; hal yang mustahil itu. Tetapi sebagai organisasi, yang perlu dirumuskan adalah garis-garis nilai yang harus dipedomani setiap orang yang mau bergabung di dalam Forum Jurnalis Batak. Soal kesetian itu harus diukur dengan nilai-nilai itu, bukan soal suka atau tidak suka. Jadi ada dulu garisnya, dan penggarisan nilai-nilai itu tidak perlu terlalu ruwet. Simple saja. Jadi seperti misalnya “Sumpah Prajurit.”

Itu cuma kalimat bahasa yang sangat sederhana tetapi itu mempunyai kedalaman dan militansi yang hebat. Jadi, nggak perlu kalimat-kalimat beranak pinak pendek yang sederhana, apa nilai-nilai apa identitasnya. Jurnalis Batak itulah yang saya maksudkan konsolidiasi, organisasi antara lain bukan hanya personalnya harus diawali. Konsolidasi visi dan misinya nanti, walaupun kita sudah mempunyai kode etik jurnalistik. Secara umum itu semacam kode etik bagi Forum Jurnalis Batak.

Bagaimana sinergi itu akan jadi kuat, kalau kita bisa menghimpun dan menjaga sinergi, mungkin yang kami minta nasihat semacam resume dari pesan penasihat, kira-kira bagaimana kita membangun hal-hal yang kecil ini tadi, militansi, soalnya kita selalu terpesona dengan kalau kita tak bisa berkarya besar nanti, kita tak dianggap begitu mungkin. Saya bukan mengulang, iya, berharap apa yang kita kerjakan dari hal-hal kecil itu kita mulai dengan berani dengan punya misi, bagaimana juga berkontribusi untuk literasi Batak?

Misi kita sebenarnya kembali lagi, dan semacam kode etiknya. Fenomena awal kan kita bergerak, secara operasional, maka nggak usah terlalu ruwet, sederhana dan lakukan hal-hal sederhana, yang memungkinkan kita lakukan dengan kemampuan kita sendiri. Nggak usah dulu kita berbicara dengan bantuan orang lain. Kita mulai dengan kemampuan kita sendiri, dan itulah yang terkuat.

Jurnalis itu bisa independen, kalau kita juga berani dari hal-hal yang bisa, kita kerjakan bukan berarti tabu berkolaborasi. Kolaborasi adalah hal yang juga mutlak, tetapi itu harus didasari dengan independensi kita, cara kita berpikir secara merdeka. Kita tidak bisa secara prinsip menghambakan diri kepada hal-hal yang di luar yang tak seharusnya, hal-hal yang menyimpang dari prinsip jurnalistik.

Hojot Marluga

Belajar Filosofi Air

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

fourteen + fifteen =