Dulu Tukang Sapu, Kini Kepala Pengadilan Negeri Pematang Siantar

Suaratapian.com MEDAN-Acara pelantikan atau menahbiskan jabatan baru, tentu, selain mensyukuri juga jadi momentum meneguhkan bahwa jabatan yang diterima adalah ujian sekaligus amanat dari Tuhan yang harus ditunaikan dengan baik, dan itulah yang terbetik dalam hati Derman P Nababan ketika dilantik setelah menggambil sumpah atau janjinya sebagai Kepala Pengadilan Negeri Pematang Siantar yang baru. “Ijinkan saya memohon doa para bapak-ibu, sahabat, kiranya pelantikan saya hari ini menjadi Ketua Pengadilan Negeri Pematang Siantar Kelas IB, saya bisa jalankan dengan baik,” ujar Derman di hadapan puluhan yang hadir di Aula Pengadilan Tinggi Medan, Jalan Ngumban Surbakti No. 38 Medan, pada hari Jumat, 8 Januari 2021, Pukul 09.00 WIB. Tentu karena mengikuti protokol kesehatan, undangan pun secara fisik dibatasi.

Pria kelahiran, Tapanuli Utara, 25 Maret 1971, mantan Ketua Pengadilan Negeri Muara Bulian Jambi yang kini Wakil Ketua Pengadilan Negeri Subang Kelas I B Jawa Barat dilantik oleh Setyawan Hortono, SH.,MH, Ketua Pengadilan Tinggi Medan, menggantikan Danardono, SH yang sebelumnya menjabat kepala Pengadilan Negeri Pematang Siantar. Sebelumnya Derman adalah Wakil Ketua Pengadilan Negeri Subang. Setelah pengambilan janji, dilakukan penandatangan berkas pelantikan. Di tengah-tengah pelantikan hadir juga kedua orangtuanya. Selesai pelantikan, kedua orangtua Ompu Tifany Boru (74) dan Ompu Tifany Doli (73) dengan totallitas bernyanyi “Anakkonhi do hamoraon di ahu.”

Perlu juga diberitahu profil singkat Pengadilan Negeri Pematang Siantar berlokasi di Jalan Jenderal Sudirman No. 15, Kota Pematang Siantar, Provinsi Sumatera Utara. Didirikan pada tahun 1922. Pengadilan Negeri Pematang Siantar dibentuk berdasarkan Undang-Undang Darurat No.1 Tahun 1951. Tahun  1983 Gedung Pengadilan direnovasi yang terdiri dari 1 (satu) ruang Ketua,1 (satu) ruang tunggu piket,1 (satu) ruang Ketua,1 (satu) ruang Wakil Ketua, 2 (dua) ruangan Hakim. Sementara Kota Pematang Siantar berada sebanyak delapan kecamatan dengan jumlah kelurahan sebanyak lima puluh tiga Kelurahan.

Terbanglah Rajawaliku

Derman sosok yang inspiratif. Dulu hanya seorang cleaning service atau tukang sapu, tetapi atas antusiasmenya berjuang, bekerja sambil kuliah dilakoninya, kemudian dipercapai menjadi hakim, kariernya terus menaik, hingga menjadi Ketua Pengadilan Negeri seperti sekarang ini. Di Sumatera Utara sendiri dia meniti karier dan beberapa kali bertugas di pengadilan negeri di Sumatera Utara. Hal itu juga yang dikatakan Setyawan Hortono, SH.,MH, Ketua Pengadilan Tinggi Medan, sesaat melantik Derman, dengan menyebut, bahwa dirinya sudah tahu karakter masyarakat di Sumatera Utara, selain asal dari Sumatera Utara juga telah berkali-kali berkarier di beberapa kabupaten.

Derman memang tinggi semangat dan pengabidannya, juga memiliki keinginan dan cita-cita yang tinggi. Namun tak seorang pun dapat menentukan langkah hidupnya berhasil jika tanpa campur tanganNya. Ungkapan itu bukan sekedar pelipur lara bagi orang yang memandang jalan hidupnya kurang beruntung dibanding dengan orang lain. Setiap orang memiliki jalan hidup berbeda, hal itu adalah ketetapan Tuhan.

Oleh karenanya, dibutuhkan ketulusan dan keteguhan hati untuk menyusurinya, dengan keyakinan penuh bahwa itu merupakan rancangan yang terbaik dari Tuhan, walau kadang tak bisa dimengerti. Derman anak desa, lahir di sebuah Dusun Lumbantobing tepatnya di lereng bukit Dolok Imun. Sebuah perkampungan sepi penghuni, tetapi berhawa sejuk, Desa Lumban Tongatonga, Kecamatan Siborongborong, Tapanuli Utara. 

Sesaat sesudah dilantik Derman P Nababan SH MH

“Di dusun itu, saya lahir dan dibesarkan. Orangtua saya petani kecil dan miskin. Ayah saya pekerja keras, terkadang harus upahan ke Tanjung Leidong, menggergaji kayu ke berbagai hutan hingga ke daerah Tapanuli Selatan dan Labuhan Batu. Sesekali mencangkul ke Tarutung.  Ibu saya seorang yang ulet dan pekerja keras, dari subuh hingga larut malam kerja,” kenangnya. Bahkan, ibunya setiap hari Selasa menjual tape dengan berjalan kaki ke Pasar Siborongborong buat mencukupi biaya hidup tujuh orang anak-anaknya.

Sebenarnya, kisahnya ini sudah diterbitkan Derman dalam buku berjudul #Terbanglah Rajawaliku. Kisah haru biru perjalanan hidupnya berawal selulus SMA, Derman gagal masuk perguruan tinggi negeri, dan juga gagal masuk calon Tantama TNI AD, dan dua kali gagal test CPNS. “Pengalaman itu mengajar saya memandang kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. Syukur, saya diterima menjadi CPNS Golongan I B, tugas pokok sebagai cleaning service, juga satpam dan jaga malam gaji hanya Rp52.800,” kisahnya.

Derman tinggal di Medan mengontrak sebuah rumah bersama lima orang adik-adiknya, dan menjadi pemimpin bagi mereka. Saat yang sama menjadi Mahasiswa Hukum Sore. Namun jalan hidupnya tak mudah. Persoalan kemudian dia menghadapi sikap skeptis pimpinan di kantor. Pimpinannya bahkan menarik mundur dirinya, ketika dia mulai kuliah. Namun itulah Derman.

Pendek cerita dia lulus menjadi Calon Hakim dan diangkat menjadi Hakim, adalah hal  sesungguhnya di luar rekaannya. Bagaimana tidak? Dia pun bukanlah orang berprestasi di kampus. Badannya kurus karena kurang gizi untuk bisa fit belajar. Tetapi, itulah, jika sudah tangan Tuhan yang berkehendak tak ada tangan manusia yang mampu menutupnya. Dia bisa survival untuk menaik dalam kondisi yang tak mendukung. Daya tahan juangnya tinggi.

Seperti anak rajawali

Derman memang orang yang istimewa, berkali-kali menghadapi keruwetan hidup, tetapi tak membuatnya terpuruk. Saat itu, dengan status baru sebagai Calon Hakim selanjutnya menjadi hakim, dia memulai biduk rumah tangga dengan menikahi gadis cantik Romaida Simaremare. Awalnya, banyak orang mengira hidupnya sungguh beruntung dan bahagia.  Namun tak lama, setelah Tuhan anugerahkan dua anak yang masih kanak-kanak, istrinya Romaida, divonis dokter mengidap kanker payudara.

“Selama dua tahun lebih, kami banyak menghabiskan waktu di berbagai rumah sakit. Di antaranya Rumah Sakit Dr. Kariadi Semarang, RSCM, RS PGI Cikini, RS H. Adam Malik Medan dan RS Dr. Pirngadi Medan. Waktu, dana dan air mata terkuras habis,” kenangnya. Namun pada akhirnya bukan rencana manusia, tetapi rencanaNya, Romaida harus menghadap penciptaNya, di saat kedua anaknya Kevin Jagar Eliezer yang saat itu kelas 4 SD dan Tifany Saulina Nababan kelas 6 SD, yang masih sangat membutuhkan kasih sayang seorang ibu.

Kesulitan sepertinya tidak pernah berhenti menimpa hidup Derman. Dari kesulitan yang satu berpindah ke kesulitan yang lain. Namun Derman diteguhkan Nats Yesaya 30:15. “Dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu…,” maka dari itu semangatnya pulih, walau dengan “sayap timpang” Derman mesti terus berjalan.

Namun, itulah kehidupan, kesulitan seperih apapun pasti ada jalan ujungnya. Badai pasti berlalu dan sehabis hujan pasti ada pelangi. Benar, saja, dalam satu tugasnya sebagai hakim, dia bertemu dengan seorang gadis di ruang sidang. Seorang gadis yang berprofesi sebagai jaksa, dengan penampilan sederhana. Herannya gadis itu mau merelakan diri dipinang oleh Derman yang sudah status duda dengan dua anak. Lagi, tangan Tuhan menolong keluarga ini, dan akhirnya keduanya membentuk biduk rumah tangga.

“Dia perempuan luar biasa, bagaimana dia bisa memahami guncangan jiwa saya dan menerima keberadaan kedua anak saya yang sedang patah semangat,” ujarnya mengenang pertemuannya dengan istrinya, alumni Fakultas Hukum Universitas Trisakti itu. Walau awalnya kedua orangtuanya si gadis, yang kini mertua Derman menerimanya sebagai menantu yang baik, awalnya tak setuju.

Namun melihat keteguhan hatinya, mereka memberi dukungan penuh, dialah Rumata Rosininta Sianya Manalu, S.H.,M.H, yang juga alumni Magister Hukum Bisnis Universitas Sumatera Utara  (USU) Medan. Sekarang, bertapa beruntungnya Derman, walau awalnya banyak rintangan yang dilaluinya.

Kini, sebagai Kepala Pengadilan Negeri Pematang Siantar, Derman sebelumya sudah bertugas di sembilan kota yang berbeda. Mulai dari Medan, Tebing Tinggi, Padang Sidempuan, Tarutung, Jepara, Lubuk Pakam, Balige, Jambi dan sekarang di Subang. Selain dengan jabatan  sebagai Hakim, di berbagai kota itu pula Derman belajar memimpin organisasi masyarakat maupun kegiatan oikumenis dan menjadi “pelayan” pengkhotbah di berbagai gereja. Derman sendiri, di sela-sela libur hari kerja, hari Minggu misalnya, melayani memberitakan firman untuk meneguhkan jemaat Tuhan bahwa hidup adalah harus dijalani dengan rasa syukur dan antusias.

“Terlalu banyak kesaksian yang harus saya bagikan kepada banyak orang. Bagaimana Tuhan mengajar saya terbang seperti anak rajawali. Kesulitan, kegagalan, duka dan derita adalah caraNya mengajar saya, supaya otot sayap iman kokoh, tidak rapuh, terbang semakin tinggi lagi,” ujarnya lagi.

Tentulah, pengalaman itu menjadi fondasi baginya ketika dipromosikan menjadi Ketua Pengadilan Negeri Pematang Siantar. Itu adalah anugerah, suatu berkat dari Tuhan.  Komitmennya menjadi berkat bagi banyak orang, selama Dia memberi napas. Kiranya Tuhan memberi waktu dan kesempatan lain, sehingga kisah ini akan terus berlanjut. Kiranya Tuhan memberikan kekuatan dan kesehatan baginya dalam beraktifitas. (Hojot Marluga)

Hojot Marluga

Hidup Belajar Filosofi Air

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.