Jupryanto Purba, SH, MH: “Jika Tuhan Memberikan Berkat dan Anugerah Kepada Kita, Maka Kita Bertanggung-Jawab untuk Menempatkan Berkat dan Anugerah Ketempat yang Baik”

Mengapa harus dibela lewat probono? Jupryanto sendiri tahu benar fungsi dari advokat adalah membela tersangka atau terdakwa. Tentu, ada klien yang tak mampu memberi jasa pengacara, tentu pembelaan yang diberi bukan semata-mata agar klien dibebaskan dari semua tuntutan, tetapi agar advokat sebagai penasihat atau pendamping tersangka di muka pengadilan terlindungi hak-hak mereka. Itu sebab pengacara mesti memberikan pelayanan yang terbaik bagi kliennya, sehingga perkara-perkara yang ditangani dapat diselesaikan dengan baik.

Suasana saat persidangan

Dirinya tak menampik bahwa nyatanya dalam menangani beragam perkara kerap juga mendapat bayaran yang lumayan. “Saya pernah menangani Kasus Kepailitan, dimana klien saya sebuah Perusahaan tambang yang dipailitkan oleh PT. Bank Niaga karena Kliennya tidak dapat melakukan pembayaran kredit sebesar Rp. 187.000.000.000., dimana kuasa hukum PT. Bank Niaga adalah Kantor Hukum Swandi Halim yang memang pengacara handal dalam bidang ke pailitan, dimana semua orang menyayakan klien saya tidak akan bisa menang dan saya sangat cemas mendengarnya.” “Lalu Klien saya mengajak saya duduk diruangan PTSP Pengadilan Negeri Jakarta Pusat mengajak saya menyanyikan lagu rohani, kumenang kumenang.”

Pas besok pembacaan putusan Kliennya Menang Permohonan PKPU dari PT. Bank Niaga ditolak, disitulah saya berpikir bahwa kekuatan manusia punya batas, namun jika Tuhan berkehendak apapun bisa terjadi. Saya tidak heran melihat para pengacara punya banyak harta. Tak terkecuali Jupryanto juga ada juga perkara yang ditanganinya mendapat bayaran yang lumayan, namun baginya semua yang didapatkan harus dipakai dengan baik. Oleh karena itu, dia mengusulkan agar pengacara menjaga diri.

Jupryanto sendiri menempatkan diri untuk jangan neko-neko dalam hidup, apalagi memaksa diri membeli barang-barang mahal demi membuang-buang uang. Karena yang menunjukkan gaya hidup yang hedonis dapat menimbulkan kecemburuan sosial, dan senantiasa menjaga diri dengan pola hidup sederhana. Baginya, ada prinsip yang dipegangnya bahwa setiap rupiah yang didapatnya digunakan pada hal-hal yang tepat. Tentu, maksudnya bukan pelit, tetapi baginya biaya yang dikeluarkan mesti kepada hal-hal yang tepat.

Maka, hidup di café dan penampilan parlente baginya sebagai pengacara hal itu tak ada manfaatnya. “Saya tak suka minum alcohol, tak merokok,” ujarnya sembari menyebut “Tuhan memberi rezeki kepada saya itu artinya mesti saya pertanggung-jawabkan kelak itu, dan tak hanya digunakan untuk hura-hura saja.”

Namun demikian dia juga tak mungkin menjaga jarak dengan teman-temannya yang suka nongkrong di café, hanya saja pertemanannya dilakukan di luar, sebab memang persahabatan yang salah membawah ke hal-hal yang salah juga bagi ke kehidupan. Lagi, baginya, jikalau kita diberikan rezeki oleh Tuhan, semestinya patut disyukuri, oleh karena memang banyak orang yang tak mendapat rezeki seberuntung yang lain. Bisa disebut menghormati Tuhan bisa dengan baik menggelola rezeki yang diberikan, digunakan untuk perbuatan-perbuatan yang baik pula. Maka menurutnya memiliki prinsip, bahwa kebiasaan dunia ini tak harus diikuti semua.

Hojot Marluga

Belajar Filosofi Air

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

seventeen − three =