Jupryanto Purba, SH, MH: “Jika Tuhan Memberikan Berkat dan Anugerah Kepada Kita, Maka Kita Bertanggung-Jawab untuk Menempatkan Berkat dan Anugerah Ketempat yang Baik”

Hanya setahun dia bergelut di sana, pekerjaan itu dia lakukan sambil kuliah di Universitas Kristen Indonesia (UKI), sambil kerja mengangkut minyak sambil kuliah menggambil jurusan fakultas hukum. Walau letih bekerja tak membuatnya kendor semangat, dia tetap bergiat, belajar dan rajin.

Saat bersantai dengan keluarga

Di sela-sela bekerja dia pun selalu rajin membaca. Namun karena ingin lebih konsentrasi di kuliah, dia pindah ke daerah Salemba dan meninggalkan pekerjaan di Plumpang. Sebelumnya, pernah menjelang ujian semester, biaya kuliah harus dibayarkan lunas. Maka dia berniat untuk meminjam uang ke keluarga, saat datang ke keluarganya itu Jupryanto memperhatikan raut wajah yang tak mendukung. Oleh karena itu, diurungkan untuk meminjam, yang dilakukannya hanya berdoa, meminta hikmat Tuhan agar dirinya diberikan solusi untuk bisa menyelesaikan dana kuliah. Tuhan buka jalan dengan dia mendapat beasiswa.

Masih bening di ingatannya saat kesulitan biaya, bahkan biaya ongkos untuk naik bus metromini pun tak ada. Untuk mensiasatinya dia sering jalan kaki, sebelum kemudian pindah dari Plumpang ke Salemba, Jakarta Pusat. Ketika masih di Plumpang, satu waktu dia pernah jalan kaki dari Plumpang ke arah Salemba dimana kampus berada. Sesampai di Senen dia tak kuat lagi jalan kaki, maka dia naik metromini dan mendekati kernetnya dengan memohon agar dirinya diperkenankan menumpang. “Itu saya lalukan karena tak ada uang,” kenangnya. Namun luarbiasanya kernet metromini itu justru mempersilakannya untuk duduk saja tanpa meminta bayaran. Saat itu, dia berpikir jika nanti berhasil akan menjumpai kernet ini.

“Kalau ketemu saya mau ucapkan terima-kasih sekali. Saya juga berterima kasih supaya dapat makan gratis waktu tinggal di tanah merah Plumpang.” Setiap hari dia merawat anak kecil dua orang karena mamanya boru Purba. Setiap hari memandikan anaknya dan memberi makan setiap hari sebelum dan setelah pulang kuliah. Setahun kemudian dia pindah ke Gang Sekolahan Plumpang Semper. “Saya kos di rumah seorang ibu Haji, dulu sering disebut ibu jamu karena dulunya tukang jamu gendong, dia seorang muslim taat, di awalnya sangat susah memerima saya kos ditempatnya karena saya Kristen, namun setelah beberapa minggu saya dekat ibu Haji dan dia telah menganggap saya seperti anaknya, tiap hari setiap sebelum dan sesudah kuliah saya membantu ibu Haji untuk berjualan karena ibu Haji memiliki warung kelontong, selama saya tinggal di rumah ibu Haji makan gratis dan kos-kosan gratis. Bagi saya kernet, dan Ibu Haji bagi adalah sosok pahlawan untuk saya.”

Jupryanto menyadari betul bahwa di dalam kesulitan hidup dan ancaman bahaya apa pun Tuhan selalu menolong. Dia sadar tanggung-jawab maksud Tuhan menempatkan setiap orang untuk jadi garam dan terang dunia. Itu pula alasannya membuat logo kantornya dengan gambar lilin dipadu dengan cahaya. Mengapa lilin dan cahaya? Filosofinya bahwa sebagai pengacara harus menjadi pemberi terang bagi setiap orang yang mencari keadilan, dan nama NEMESIO diambil dari nama seorang Laskar Kristus yang bernama NEMESIOA, dia mati dibakar karena mempertahankan keimanannya.

Dia sadar ungkapan firman Tuhan, pertolonganku ialah dari Tuhan, yang menjadikan langit dan bumi sebagaimana digoreskan dalam Mazmur.  “Saya menyadari bahwa hidup ini harus disyukuri. Jikalau kita ada di titik ini, itu semata-mata bukan karena diri sendiri, tetapi pertolongan Tuhan,” ujar anggota jemaat HKBP Cijantung. Dan memang pertolongan nyata dari Tuhan itu nyata dia rasakan. Maka jika Tuhan memberikan berkat dan anugerah kepada kita, maka kita bertanggung jawab untuk menempatkan berkat dan anugerah ketempat yang baik. (HM)

Hojot Marluga

Belajar Filosofi Air

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

two × four =