Jupryanto Purba, SH, MH: “Jika Tuhan Memberikan Berkat dan Anugerah Kepada Kita, Maka Kita Bertanggung-Jawab untuk Menempatkan Berkat dan Anugerah Ketempat yang Baik”

Mengidolakan Yap

Di kehidupan ini hampir semua orang memiliki idola dalam hidupnya, mulai dari politikus, tokoh nasional atau internasional, pahlawan, artis. Tentu tak terlalu mengherankan jika ada orang yang mengidolakan seseorang, dan ingin seperti sosok yang diidokan. Tak ada larangan untuk mengidolakan seorang, justru memang mengidolakan tokoh publik, sebenarnya justru dapat menjadi kekuatan penggerak untuk optimis menjalani kehidupan. Demikian juga Jupyanto mengidokan Yap Thiam Hien pengacara hebat dan kesohor itu. Yap adalah salah satu tokoh pendiri Universitas Kristen Indonesia yang juga seorang Kristen asal Tionghoa yang lahir di Aceh. Yap sendiri dikenal bukan saja karena kredibel menangani perkara, tetapi karena tauladan dari integritasnya.

Sejak mahasiswa hukum Jupyanto telah mengaguminya. Tokoh pers Mochtar Lubis begitu terkesima dengan sikap dan prilaku Yap sehingga, Yap dijuluki pembela dan anak manusia yang kejujurannya duapuluh empat karat. Yap sendiri pernah memprotes putusan Bismar Siregar tentang hukuman mati. Tak heran Yap sendiri dikenal sebagai pelita bantuan hukum yang tak kunjung padam. Bagi Jupryanto, tak sedikit pengacara yang mengumbar janji kemenangan kepada kliennya, tetapi itu tak berlaku untuk sosok yang dikaguminya. Yap semasa hidup tetap menjaga diri dengan benar dalam menyelesaikan tugasnya.

Jelaslah pengacara hebat itun bukan dilihat dari tampak luar semata tetapi dari dampak yang dibelanya. Sebenarnya ada banyak pengacara yang hebat hidup sewajarnya, bukan karena tak mampu hidup bermewah-mewah, tetapi memilih jalan hidup pantas.

Dia sadar bahwa sukses juga tidak semata-mata untuk diri sendiri atau orang-orang di sekeliling. “Hidup bukan cuma untuk diri kita sendiri, tapi lebih daripada itu.” Namun demikian, baginya penting untuk membuat standar diri, dimana kita bisa berjuang maksimal. Jupyanto tahu benar bahwa semua ada prosesnya. Sukses itu proses, bahkan, kesuksesan sejatinya adalah proses kerja keras itu sendiri. “Seseorang sudah merasa dirinya sukses, berarti dia sudah berada di titik puncak, padahal itu adalah semata-mata merupakan rangkaian proses yang sedang dijalaninya.”

Tangan Tuhan tak pernah terlambat

Hidup berhasil bukan berarti masa lalu, walau tak boleh dibayang-bayangi masa lalu. Bagi Jupryanto ada satu kisah yang tak lekang dari hatinya di masa berjuang ketika kesulitan biaya untuk kuliah. Dia menjumpai staf dari kampus untuk memberi limit waktu mengusahakan biaya kuliah. Tetapi apa yang terjadi, saat dia datang ke kantor menemui bagian keuangan malah mengatakan, bahwa biaya kuliahnya sudah dibayar lunas. “Menurut saya itu kuasa Tuhan. Pertolongan Tuhan tak pernah terlambat untuk menolong,” ujar pengacara muda, sarjana hukum dan magister hukum dari Fakultas Universitas Kristen Indonesia ini.

Apa yang diraihnya sekarang tak dengan mudah. Dia memiliki sejumlah asset dan lumayan dapat jasa atas penangan perkara dari klien. Padahal dulu hidupnya tak mudah. Tahun 2003 misalnya, ketika baru datang merantau dirinya bekerja menggambil minyak di Plumpang di daerah Jakarta Utara. “Sebenarya apa yang kami lakukan itu adalah melakukan yang tak patut, mengambil minyak dari demo minyak di Plumpang yang bekerjasama dengan oknum di dalam.” Atas pekerjaan tersebut dirinya mendapat upah, tetapi membuat kulitnya hitam pekat.

Hojot Marluga

Belajar Filosofi Air

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

sixteen + 16 =