LABB Luncurkan Cetakan Kedua “Ruhut-Ruhut Adat Batak Toba di Jabodetabek”: Adat Harus Hidup, Bukan Jadi Beban

Sementara Ketua Panitia, Drs. Bernhard M.H. Siregar, membuka laporannya dengan nada bangga. Kehadiran Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon menjadi pengakuan negara. Tapi yang lebih mencengangkan adalah animo peserta.

Acara ini memecahkan rekor. Sebanyak 354 orang hadir, angka tertinggi sepanjang sejarah kegiatan LABB. Mereka datang dari berbagai perwakilan marga se-Jabodetabek. Dari Bekasi sampai Tangerang, dari Depok sampai Jakarta Utara. Satu ruang penuh dengan marga, tapi satu tujuan: membicarakan masa depan adat.

Buku pedoman “Ruhut-Ruhut Adat Batak Toba di Jabodetabek” ini bukan karya baru. Cetakan pertamanya telah lebih dulu diluncurkan pada 2019, di era kepemimpinan Brigjen TNI Purn. Berlin Hutajulu. Kini, Berlin duduk sebagai Ketua Penasihat Dewan Mangaraja LABB, menyaksikan estafet itu berlanjut.

Untuk memastikan buku ini tidak sekadar dibaca tapi dipahami, panitia menggelar sesi bedah dan resensi langsung. Mengisi forum itu, Prof. Dr. Payaman J. Simanjuntak, seorang tokoh Batak dan akademisi, membongkar isi buku dengan kacamata ilmu dan kearifan.

Acara ditutup dengan pernyataan sikap dari Ketua Umum DPP LABB, Kol. TNI Purn. Nasib Simarmata. Pesannya tunggal dan tegas: implementasi.

Ia mengajak seluruh hadirin bersatu menjalankan prinsip 3E; Esensial, Efektif, Efisien sebagai kompas baru pelestarian adat di era modern. “Mari bergandengan tangan menjunjung adat budaya Batak, karena ini adalah harta berharga bangsa Batak. Jangan kita cederai, mari kita kembangkan,” pungkasnya.

Kalimat penutup itu menjadi garis batas. LABB tidak sedang meminta belas kasihan untuk adat. Mereka menuntut tanggung jawab. Agar warisan leluhur tidak mati di gedung pencakar langit Jabodetabek, tapi justru tumbuh, relevan, dan dibanggakan generasi berikutnya. (Hojot Marluga)

Hojot Marluga

Belajar Filosofi Air

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

three + three =