Ungkapan Filosofis: “Merinjam Tengam Mi Biahat, Merinjam Siselun Mi Geppul”
Lalu, apa makna filosofis ungkapan? Saya menemukan dalam ungkapan itulah tersirat maknanya, bahkan tanpa disadari umpasa dan umpama pun, ada tersembunyi makna, filosofis. Ada rahasia dalam ungkapan. Ungkapan filosofis di atas maknanya, bahwa di dalam kehidupan manusia perlu berelasi dengan berbagai macam latar belakang.
Manusia bukan makhluk soliter sebagai harimau tetapi solider. Solider berarti memiliki perasaan keterhubungan satu sama lain, memperlihatkan perasaan bersatu, membutuhkan kebersamaan. Iya, manusia makhluk sosial artinya tak bisa hidup sendirian. Sejak lahir sampai masuk liang kubur manusia selalu membutuhkan kehadiran orang lain di sisinya. Jika manusia tak berhubungan dengan sesamanya, maka orang tersebut belum bisa disebut manusia yang utuh. Manusia punya keterutuhan dengan orang lain. Salah satu ciri masyarakat yang tercerahkan adalah bekerjasama, aktif berorganisasi.
Era ini pun disebut era sinergi. Bersinergi untuk menemukan bentuk dari sebuah proses atau interaksi yang menghasilkan keseimbangan hidup. Namun, demikian relasi manusia terkadang tak selalu mulus, terhambat oleh ketidaktulusan. Di dunia bisnis misalnya yang filosofinya simbiosis mutualis atau saling menguntungkan, namun, walau tak diharapkan, seringkali terjadi wanprestasi, sepihak dirugikan. Wanprestasi berarti gagal bayar. Satu pihak tak dapat memenuhi kewajibannya atau sengaja inkar janji pada pihak lain.
Jika hal itu terjadi, penyelesaain bisa dibawah ke ranah hukum, untuk menyelesaikan, atau ada kekuatan lain digunakan. Menekan pihak yang inkar dari tanggung-jawab. Digunakan kekuatan lain demi meminta mempertanggung jawabkan tanggung jawab pihak lain tersebut. Alih-alih menggunakan kekuatan orang lain. Jadi, bukan literal, sebagaimana ungkapan di atas; meminjam kekuatan harimau atau beruang.
Maksudnya adalah menggunakan kekuatan lain yang tak dimiliki, meminjam tangan lain agar memiliki kekuatan “memaksa.” Pun dalam kehidupan, dalam filosofi Batak ternyata juga menggunakan cara menyelesaikan perkara. Jangan-jangan filosofi ini yang dipakai berbagai pihak untuk menyelesaikan perkara. Barangkali! Dalam relasi hubungan sosial tadi, jika ada mitra atau relasi menghirau dari kesepakatan atau janji bersama, dan tak bisa lagi diselesaikan secara baik-baik dengan pendekatan kekeluargaan, maka jalan terakhir menggunakan kekuatan paksa; “minta kekuatan harimau atau beruang,” wibawa pemaksa.
Tongam sama dengan wibawa, sementara Sisilon kekuatan cakar. Itu artinya, perlu berteman dengan kalangan pemaksa yang walaupun bukan habitusnya. Jadi, bukan jadi harimau, tetapi bisa meminjam taring harimau, bukan beruang tetapi meminjam kuku beruang. Tentu itu filosofis. Memamfaatkan kekuatan lain untuk menekan, demi posisi tawar yang lebih kuat memaksa, menekan. (Hojot Marluga)
