PENGHARAPAN TIDAK PERNAH MENGECEWAKAN

Kehidupan Orang-orang yang Mengandalkan Tuhan

Kekayaan itu mereka dapatkan dengan cara merampas hak orang lain, sehingga hidup mereka menjadi rebutan. Dan akibatnya, mereka akan mengalami kejatuhan besar, dari kehidupan yang makmur hingga menjadi budak di tanah asing. Jika kita mengikuti pembacaan Firman Tuhan dari awal sampai akhir kitab Yeremia ini, kita akan memahami apa yang sebenarnya terjadi pada Yehuda. Nabi Yeremia ingin membuat sebuah perbandingan yang sangat jelas. Ia ingin membandingkan kehidupan umat yang mengandalkan diri sendiri dan kenikmatan duniawi yang sesat, dengan kehidupan orang-orang yang mengandalkan Tuhan. Inilah inti perbandingannya.

Hal ini sama seperti perbandingan antara hidup di padang gurun yang tandus dan penuh semak belukar yang selalu dalam kekeringan, dengan pohon yang ditanam di tepi aliran air yang subur. Mari kita lihat Yeremia 17 ayat 5 sampai 6. Beginilah Firman Tuhan: “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri dan yang hatinya menjauh daripada Tuhan!” “Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk.” Jelas sekali Bapak Ibu.

Itulah gambaran orang yang mengandalkan dirinya sendiri. Kering, angus, tidak mengalami kebaikan, hidup di padang asin yang tidak ada kehidupan. Sebaliknya, seperti apa orang yang menaruh pengharapan penuh kepada Tuhan? Mari kita baca Yeremia 17 ayat 7 sampai 8: “Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan!” “Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik; yang daunnya tetap hijau, yang tidak khawatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.” Amin Bapak Ibu?

Selesai? Memang intinya sudah jelas di situ. Mari kita ulang-ulangi ayat tadi di rumah, kita dengungkan dan kita imani. Wah, enak sekali jadi orang yang bertuhan Yesus ini. Kalau dalam bahasa Bataknya dibilang, “Sonang do harbuan ni na marhaposan tu Tuhan”, senang sekali, sukacita senantiasa. Amin Bapak Ibu? Amin. Jangan amin yang cari aman, tapi amin yang benar-benar mengimani.

Firman Tuhan itu sebenarnya sederhana, pemahaman saya sederhana saja. Apa poinnya? Jangan kita buat sulit-sulit memahami Firman Tuhan. Sederhanakan, nikmati, Puji Tuhan. Orang lain mungkin bilang, “Gila ini orang, sudah susah pun masih Puji Tuhan.” Justru di situlah iman kita. Kita imani bahwa kita seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air. Pohon yang di tepi aliran air itu bisa jadi akan mengalami masa-masa berat dalam kehidupan. Angin kencang, badai datang. Tetapi ia mendapatkan kekuatannya dari Tuhan yang selalu membasahi akarnya dengan air kehidupan. Amin.

Keadaan hidup boleh penuh masalah Bapak Ibu, tetapi daunnya tetap hijau dan ia tidak berhenti menghasilkan buah. Itu kuncinya. Bukan tidak ada masalah, tetapi tetap hijau, tetap berbuah di tengah masalah. Mari kita renungkan, di mana posisi kita hari ini? Berita sukacitanya adalah, kita bukan dibuat menjadi terdakwa. Bukan “Apa yang sudah kau lakukan? Nanti kau masuk neraka!” Itu zamannya Taurat dulu, zamannya orang Yahudi dengan segala aturannya. Kita tidak lagi di bawah aturan itu. Nikmati saja. Nubuatan Yeremia ribuan tahun yang lalu tentang air hidup itu, sekarang kita sudah menikmatinya. Sudah diselesaikan semua di kayu salib.

Ketika Yesus di atas kayu salib berkata “Tetelestai”, sudah selesai! Semua persoalan hidup kita sudah diselesaikan. Mari kita nikmati. Amin Bapak Ibu? Luar biasa! Tidak bisa kita pungkiri, goncangan di segala bidang sedang melanda kehidupan manusia di dunia ini. Ekonomi goncang, kesehatan goncang, rumah tangga goncang. Hal inilah yang menyebabkan banyak orang menjadi takut dan mulai kehilangan pengharapan di dalam Tuhan. Justru di saat seperti inilah kita ingatkan kembali Firman Tuhan. Sekalipun dunia bergoncang, setiap kita yang hidup di dalam Kristus, kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan. Ibrani 12:28 jelas mengatakannya.

Tuhan Yesus telah menerima segala kuasa di bumi dan di surga. Karena itu tidak ada yang tidak mungkin bagi-Nya. Semua sudah diselesaikan-Nya. Tak perlu takut menghadapi goncangan, sebab Tuhan yang menopang dan melindungi kita.  Penyertaan Tuhan atas orang percaya tidak akan pernah berakhir, sampai kesudahan zaman, sampai kita mendapatkan tubuh kemuliaan nantinya dan bersama-sama di surga. Kita ini orang surga, orang kerajaan surga.

Jadi jangan lagi cerita-cerita iblis terus. Ceritakan dong Yesus! Terima kasih Tuhan. Iblis itu sudah disuruh pergi, sudah diselesaikan di kayu salib. Sudah selesai semua. Justru hati kita kadang-kadang yang masih memanggil iblis. “Hai iblis, kau dekat-dekat sini.” Ya datanglah dia. Panggil Yesus, maka sukacita yang datang. Firman Tuhan pagi ini mengingatkan kita, Dialah yang berada di dalam hidup kita.

Hojot Marluga

Belajar Filosofi Air

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

5 + eight =