Pidato dan Manifesto Kebudayaan; Ketua Umum Dewan Pengurus Nasional BATAK CENTER

Momentum HUT ke-6 BATAK CENTER, kami perlu mengingatkan kembali bahwa sudah saatnya negara mengembalikan arah perjalanan negara ini sesuai cita-cita dari para pendiri bangsa dan siap untuk memperbaikinya. Jika pada waktu itu intelektual muda berada pada garda terdepan dan menjadi motor dalam memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia, maka saat ini menjadi tugas negara mempersiapkan generasi muda untuk memajukan Indonesia dengan tetap mengakar pada karakter bangsa Indonesia dan budaya serta menjadi duta-duta bangsa yang berperan dalam menyelesaikan permasalahan dunia di masa mendatang. 

Indonesia memiliki kondisi geografi yang strategis yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote. Memiliki peradaban dari peradaban prasejarah, kuno, klasik, kolonial dan pasca kemerdekaan Republik Indonesia. Kemajemukan, dan kekayaan budaya yang luar biasa dari setiap masa peradaban melahirkan gagasan, perilaku/praktek, maupun produk-produk budaya yang masih dapat kita rasakan, saksikan, dan alami sampai dengan saat ini. Setiap masa tersebut menghasilkan produk-produk budaya baik berupa bendawi maupun tak bendawi yang menyebar di segenap penjuru wilayah daratan dan lautan Indonesia. Tidak hanya itu, ada dalam setiap bidang kehidupan seperti kedokteran, hukum, tata negara, tata kota, e konomi, astronomi, dan lain sebagainya. Kebudayaan merupakan suatu pengetahuan, sistem nilai, norma, tradisi dan kepercayaan yang diwariskan dari suatu generasi dalam suatu kelompok masyarakat. Budaya juga merupakan identitas suatu kelompok masyarakat yang membedakannya dari kelompok masyarakat lainnya.  

Bapak ibu dan saudara saudari sekalian yang kami kasihi….

Konstitusi RI telah memuliakan kebudayaan sebagai elemen penting dalam pembangunan bangsa dan negara dengan memuat satu pasal tersendiri yaitu pasal 32 Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945. Pengelolaan kebudayaan secara mandiri sangatlah penting mengingat kebudayaan dapat dimanfaatkan dalam kepentingan diplomasi dalam berbagai bidang, sumber kebahagiaan dan kejahteraan masyarakat, dan titik pijak membangun arah dalam menentukan masa depan Indonesia, sekaligus sebagai indikator menentukan kualitas hidup manusia dan bangsa Indonesia. Namun secara faktual, belum menjadi prioritas pembangunan serta belum dikelola secara optimal. Bidang kebudayaan yang dapat kita maknai secara meluas maupun sempit, masih dikelola oleh sebuat Direktorat Jenderal di bawah kementerian pendidikan, kebudayaan, riset, dan teknologi. 

Kebudayaan memiliki arti yang sangat penting bagi kehidupan dan perjalanan sebuah bangsa maupun negara. Dalam kebudayaan terdapat jatidiri dan identitas bangsa-bangsa yang unik dan majemuk, dan sistem pengetahuan (sejarah, nilai-nilai, dan tradisi yang dianut masyarakat) sebagai landasan utama dalam tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara yang berfungsi merekatkan persatuan nasional sekaligus sebagai modal dalam menaikkan citra bangsa di mata dunia.

Sesungguhnya kebudayaan merupakan aspek penting dalam pembentukan negara kesatuan Republik Indonesia maupun arah pembangunan Indonesia di masa depan. Para Pendiri Bangsa menjadikan kebudayaan sebagai akar pengetahuan dan dasar bagi pembentukan fondasi berbangsa dan bernegara. Pancasila lahir dari penggalian nilai-nilai budaya yang hidup dan berkembang di tengah-tengah masyarakat dan bangsa Indonesia yang beragam. Ini merupakan pesan bahwa Indonesia sekarang merupakan bagian yang tidak terpisah dari sejarah kerajaan-kerajaan nusantara yang hidup di bumi Indonesia saat ini. Demikian pula, lahirnya Republik Indonesia berangkat dari kesadaran bersama dari setiap entitas suku bangsa untuk bersatu, merdeka dan lepas dari penjajahan negara asing (baca: Belanda). Sebagai konsekuensinya negara wajib memelihara keberagaman yang ada dalam bingkai persatuan, dan mensejahterakan masyarakatnya. 

Visi BATAK CENTER adalah terwujudnya Masyarakat Batak Raya yang mampu melestarikan dan mengembangkan budaya dan peradaban Batak yang modern demi kemajuan dan martabat suku Batak sebagai bagian integral dari bangsa Indonesia dan masyarakat dunia. Salah satu tujuan BATAK CENTER adalah menghasilkan masyarakat Batak yang unggul, aspiratif, inspiratif, inovatif, kreatif, profesional, cerdas, berkualitas, berkarakter, berintegritas, berdaya, dan mampu mentransformasikan nilai-nilai habatakon dalam kehidupan bersama. Upaya mewujudkan visi tersebut membutuhkan kerja sama dan upaya maksimal karena berhadapan dengan kenyataan tingkat pengangguran di Indonesia sebesar 5,2 persen tertinggi dibandingkan enam negara lain di Asia Tenggara. Padahal kita dituntut untuk menyiapkan generasi muda unggul yang mampu bersaing di tataran global.

BATAK CENTER memandang bahwa perjalanan reformasi selama 26 tahun hanya berpusat pada politik dan ekonomi, menjauhkan masyarakat dari nilai-nilai budaya. BATAK CENTER memandang bahwa perkembangan teknologi digital adalah sesuatu yang positif dan dapat dipergunakan dalam melestarikan nilai-nilai habatakon. Namun dalam kenyataannya, perkembangan ilmu dan teknologi yang ada, justru mendegradasi nilai-nilai budaya yang ada. Masyarakat masih ditandai dengan sikap  saling benci, terjadinya keterbelahan masyarakat dari yang semula harmomis, bersih dan menyatu dengan alam berkembang menjadi sebaliknya. BATAK CENTER memandang bahwa gerakan masyarakat ke depan perlu kembali mendudukkan budaya bangsa sebagai warisan agung leluhur masyarakat nusantara sebagaimana telah tersarikan dalam Pancasila ditempatkan pada rel yang semestinya.

BATAK CENTER yakin bahwa upaya menempatkan kebudayaan nasional pada rel yang semestinya merupakan bentuk pemenuhan jati diri bangsa di satu pihak, di pihak lain percepatan pembangunan masyarakat menuju Indonesia Emas 2045.

Kompleksnya permasalahan yang sedang dihadapi Indonesia saat ini, seperti masalah perekonomian, politik, kemiskinan, nasionalisme, sengketa territorial, ancaman disintegrasi bangsa dengan maraknya aksi-aksi yang mendelegitimasi ke-BHINNEKA TUNGGAL IKA-an di Indonesia, dan ancaman keamanan nasional menjadi tantangan yang harus disikapi secara arif dan bijaksana. Demikian pula permasalahan global mulai dari perang Rusia vs Ukraina yang didukung oleh NATO, meningkatnya eskalasi di Laut China Selatan dan Semenanjung Korea. Perang di negara-negara ja zirah Arab (Timur Tengah), perkembangan teknologi digital yang secara tidak langsung menghilangkan batas-batas antar negara (boarderless), membentuk kebudayaan baru yang perlahan dapat menjadi kekuatan baru dan berpotensi membuat kebudayaan yang lainnya punah, dan sangat memungkinkan terbentuknya negara-negara baru atas dasar persamaan kebudayaan dengan didukung adanya perkembangan teknologi digital mutakhir.

Hojot Marluga

Belajar Filosofi Air

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 × three =