Potsdam Hutasoit, Tokoh Batak Nasional Buah-buah Pikiran untuk HKBP (Jelang 160 Tahun HKBP, Seharusnya Lebih Mandiri)
Potsdam Hutasoit dikenal sebagai salah seorang tokoh pioneer yang menggagas dan pembangunan bandara Silangit semasa aktif di DPR-RI, hingga bandara itu memiliki runway sepanjang 2550 meter dan kini akan diperpanjang menjadi 3000 meter yang sudah tahap cut n field dan pembatuan. Bandara Silangit diresmikan Presiden SBY dan statusnya dinaikkan menjadi bandara internasional oleh Presiden Jokowi. Saat peresmian bandara, Bupati Taput saat itu Torang Lumbantobing dalam sambutannya di hadapan SBY menyampaikan rasa terimakasih dan penghargaannya pada Potsdam Hutasoit yang sudah memprakarasai dan mengerjakan pembangunan bandara Silangit dengan menganggarkannya di APBN hingga bisa bandara silangit memiliki runway sepanjang 2550 m. Dan bupati Toluto juga menyatakan terimakasihnya pada TB Silalahi yang memprakasarsai acara presmian itu dengan menghadirkan presiden SBY.
Mengomentari perihal dana pensiun tersebut, Potsdam mengatakan dirinya sangat prihatin dengan terkuaknya tunggakan dana pensiun berjumlah raksasa itu. Ia pun ingin memberi buah pikiran sebagai masukan buat HKBP. “ Saya juga sangat kaget, usia HKBP kita ini sudah 160 tahun, kenapa tiba-tiba HKBP punya hutang sebanyak itu ke dana pensiun, uangnya kemana selama ini, disinilah pentingnya transparansi managemen dan penempatan SDM sesuai domain skil-nya. Seharusnya HKBP ini sudah sejak lama mandiri dan mampu menghidupi dirinya sendiri,” seru politisi senior Golkar ini.
Begitu pun Potsdam menyarankan beberapa solusi guna mengatasi tunggakan di atas, misalnya HKBP mulai sekarang harus bisa berbisnis secara profesional, tidak lagi mengharapkan kolekte untuk memenuhi segala kebutuhannya. Ia mencontohkan di Balige di masa HKBP dipimpin Jerman memiliki usaha sembako, dan keperluan sehari-hari. Hasil dari penjualan ini bisa disetor sebagian untuk memenuhi keperluan HKBP disana. Di Siantar HKBP punya percetakan, tidak pernah terengar lagi nasibnya, malah sudah sampai pendeta yang ditugaskan disana memimpin, percetakan itu tetap saja mati suri. kenapa ini tidak dimanfaatkan atau dipindahkan ke Jakarta yang lebih besar untuk menggarap order dari umum, agar bisa menghasilkan profit besar. “Berapa banyak orang Batak berpesta di Jakarta dalam sebulan, jika mereka mencetak undangan ke percetakan HKBP, ini bisa mendulang keuntungan. Belum lagi dari lembaga pendidikan dan kesehatan milik HKBP yang sesungguhnya bila dikelola secara professional dapat mendatangkan untung besar.
