Potsdam Hutasoit, Tokoh Batak Nasional Buah-buah Pikiran untuk HKBP (Jelang 160 Tahun HKBP, Seharusnya Lebih Mandiri)

“ Saya pikir saatnya HKBP harus berbenah dan melakukan transformasi di dalam strukturnya serta sistem organisasinya. Untuk pelayanan bidang non keimanan/kerohanian, HKBP harus mau bersinergi dengan kaum professional. Dan di bidang penjemaatan atau penggembalaan pimpinan HKBP perlu melakukan konsolidasi internal dengan melakukam pembinaan secara holistik terhadap semua Parhobas (pendeta) secara berjenjang dan berkelanjutan dengan menyesuaikan perkembangan zaman dan pelayanan adaftif terorial, “ papar Potsdam. Ia juga mengingatkan dalam penggembalaannya pimpinan HKBP harus segera mengantisipasi trend naposo sekarang yang lebih betah bergereja di luar HKBP karena alasan suka mendengar kotbah pendeta  lain. Fenomena ini sudah lama terjadi, disinilah HKBP dituntun melahirkan pendeta-pendeta berkualitas dan yang mampu menyerap perkembangan zaman yang diaplikasi dalam kotbahnya.

Standing Order Pimpinan HKBP

Merujuk kondisi HKBP beberapa tahun terakhir, Potsdam juga memberi masukan perlunya dibuat standing order, kelima pimpinan tinggi HKBP terpilih hendaknya membuat kesepakatan tidak tertulis, janganlah keluarga mereka mencampuri tugas-tugas kelimanya sehingga menjadi sorotan seperti pemimpin HKBP yang lalu-lalu. Potsdam juga menyatakan menjadi pimpinan HKBP (Eporus) tidak harus memiliki gelar doctor (S-3) tetapi memiliki leadership yang kuat dan mampu mengaradoti menggembalakan jemaat dan pendeta di seluruh gereja HKBP yang ada. Bukan berarti yang bergelar doktor tidak bisa jadi ephorus. “Anehnya saya amati justru setelah jabatan ephorus HKBP dipegang pendeta dengan gelar doctor theologi, malah HKBP semakin sering timbul permasalahan, saya tidak tau persis kenapa hal ini bisa terjadi,” ujarnya dengan nada bertanya. Dia mengharapkan ephorus baru, yang punya pengalaman luas di luar negri, mampu mensinergikan ilmu dan wawasan yang diperolehnya dari luar ke dalam tubuh HKBP.

Di samping itu, anggota dewan pakar Partai Golkar ini menambahkan ke depan gereja-gereja HKBP haruslah dipimpin oleh mereka yang menjadi karena panggilan jiwa, bukan pendeta karena melamar. Dan tidak boleh ada polarisasi/pengkotak-kotakan pendeta alumni STT HKBP atau alumi STT lain, semuanya harus memiliki hak yang sama. Pemilihan pimpinan HKBP di masa mendatang jangan lagi menggunakan sistem yang menyerupai pemilihan kepala daerah, ada tim sukses, ada tim hore, ada lobi sana dan sini ini akan berdampak pada kepemimpinan yang dihasilkan membuat kinerjanya tidak bisa maksimal. Dan ephorus yang terpilih pun nantinya akan terbebani hutang moral kepada tim suksesnya yakni balas budi. Juga pengiriman pendeta sekolah ke luar negri memang sangat diperlukan untuk menambah pengetahuan dan wawasan  dalam  pelayanan, namun harus disesuaikan dengan kebutuhan organisasi.

Hojot Marluga

Belajar Filosofi Air

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 + 11 =