Rasnius Pasaribu SE, Anggota DPRD Bekasi: Tahu Tugas dan Fungsi sebagai Pelayan Rakyat
Di masa kepengurusannya Rasnius terbangun dengan baik jalinan perkenalan dan kerjasama dengan rekan-rekan muda Muslim; antara lain dengan membentuk KAPAS atau Komunitas Aksi Peduli Sesama. Dalam KAPAS ini Rasnius menjabat sebagai sekretaris, sedangkan Ketuanya adalah Eva, putri dari KH Aminuddin Muchtar, pemilik Pondok Pesantren An Nur di Bekasi Utara. Dia juga pernah menjabat sebagai Sekretaris Dewan Paroki Harian selama dua periode dan aktif dalam pengurusan IMB Gereja Santa Clara. Di saat mengurus IMB itulah niatnya untuk terjun dalam politik tumbuh dan mekar. Apa hubungannya?
Ketika ikut mengurus IMB Rasnius mengalami sendiri betapa kurangnya “jalur” komunikasi Gereja ke elemen-elemen pemerintah, warga masyarakat, tokoh-tokoh agama dan tokoh masyarakat. Melalui jalur politik dia berharap bisa membangun dan menjadi penyambung komunikasi tersebut. Hal lain yang menarik bagi Rasnius, politik itu adalah penentu berbagai hal yang mengatur kehidupan bersama. Dia berharap dan berjuang untuk memengaruhi pengambilan keputusan-keputusan tersebut. “Bayangkan kalau orang lain yang menentukan berbagai aturan menyangkut kehidupan sekelompok orang, sementara dia sama sekali tak mengenal kelompok itu dengan segala keunikannya. Bisa berbahaya,” ujarnya.
Dalam membangun pergaulan dan bekerja, walau menyadari tak mudah, Rasnius mengaku akan berjuang untuk tetap menghidupi ajaran imannya di tengah kecenderungan orang hanya untuk untuk menang. “Kita coba dengan segala kelemahan dan kelebihan yang ada untuk mengembalikan makna politik itu, bahwa sebagian orang memilih jalur politik sebagai kesempatan untuk berbuat jahat, sangat kita sayangkan. Namun bagaimanapun, politik itu pada dasarnya sangat mulia. Tinggal kita memilih yang mana,” ujarnya.
Kota Multikultural
Sebenarnya Rasnius memulai terjun ke politik praktis dimulai di partai Gerindra. Awalnya diajak temanya. Itu, tadi, masuk ke politik karena melihat kenyataan yang ada, saat itu gerejanya susah, proses mendapatkan IMB. Bagi Rasnius waktu itu, jika dia aktif di politik, pergaulan juga sudah pasti multikultural dan beragama orang. Intinya, dia ingin membangun jaringan. Bagi dia itulah jalan Tuhan, bergaul dengan kalangan multikultural. Namun seiring waktu dia pindah ke partai Golkar. Tahun 2015, ketika dirinya bertemu dengan Setya Novanto, momentumnya diperkenalkan kakaknya, Setyo Lelono. “Saya diajak ketua umum Golkar waktu itu. Saya kira, ajak seperti itu tak semua orang mendapat kesempatan. Karena itu, saya menerima ajakan untuk bergabung ke partai Golkar,” ujarnya. Akhirnya, dia keluar dari partai Gerindra dengan baik-baik pula. Waktu itu, dia pamitan dengan Ibnu Hadjar Tanjung sebagai rekannya.
Maka jadilah dia calon anggota DPRD Kota Bekasi dari Partai Golkar. Memang tak mudah untuk sampai bisa duduk menjadi anggota dewan. Dialah satu-satunya anggota DPRD Kota Bekasi yang harus berjuang sampai ke Mahkamah Konsitusi untuk memperjuangkan kursinya. Puji Tuhan dia terpilih. Waktu itu ada gugatan, dan Rasnius harus memberi perhatian extra untuk menyelesaikan perkaranya di MK. Namun, sebagai orang yang beriman Rasnius tak putus pengharapan untuk berjuang, dia percaya akan penyelenggaraan ilahi. “Saya percaya akan penyelenggaraan ilahi. Oleh karena itu, saya tak gentar menghadapi rintangan itu. Saya tak risau sedikit pun. Saya berkata dalam doa saya, jika Tuhan memang berencana memakai hidup saya jadi wakil di DPRD Kota Bekasi, saya kira tak ada yang bisa menghalangi,” ujarnya.
Kota Bekasi merupakan salah satu kota terpadat saat ini, arus urbanisasi membuat kota ini dihuni berbagai macam suku, kepercayaan, dan pandangan hidup. Pertumbuhan penduduk di Kota Bekasi diprediksi mencapai 3,7 juta jiwa pada tahun 2023. Saat ini jumlah penduduk Kota Bekasi sebanyak 2,8 juta. Kota Bekasi disebut kota multikultural oleh karena hidup beragam etnis dan itu terjaga, perbedaan keyakinan beragama di Bekasi. Walau tak menutup mata terhadap masih adanya wilayah-wilayah di Kota Bekasi yang melarang berdirinya rumah ibadah bagi yang berbeda keyakinan. Namun Kota Bekasi bisa menjadi sokoguru dalam menjaga toleransi. Misalnya, Kampung Sawah di Pondok Gede. Awal Tahun lalu misalnya, Gereja-Gereja se-Kecamatan Jati Murni, Kampung Sawah Bekasi menggelar Natal Bersama. Natal yang digagas Forum Komunikasi Gereja-Gereja Jatimurni bertema Hiduplah Sebagai Sahabat Bagi Semua Orang. Natal itu selain dihadiri masyarakat Kristiani juga dihadiri oleh beberapa aparat pemerintah, bahkan tokoh Muslim yang ada di Kampung Sawah.
Pada kesempatan Natal tersebut, Ketua Forum Komunikasi Gereja-gereja se-Jati Murni Kampung Sawah Bekasi, Pendeta Pieter Napitupulu memberikan cenderamata kepada Camat Jati Murni. Sementara itu, Camat Pondok Melati Jaya Eko Setiawan menambahkan, bahwa harmoni kerukunan dan toleransi umat beragama di Kampung Sawah, Pondok Melati, Kota Bekasi, perlu terus dijaga. Semangat toleransi itu harus terus ditingkatkan. Hal itu menjadi contoh yang baik bagi masyarakat di daerah-daerah lain, Di Kampung Sawah umat Kristiani hidup tenteram berdampingan dengan umat Muslim.
Uniknya lagi, silaturahmi warga Kampung Sawah dibalut corak budaya Betawi yang kental. Anak-anak belajar pencak silat, sementara budaya berbalas pantun terus dilestarikan dalam hari-hari besar. Baju koko dan kopiah pun, yang khas Betawi, menjadi pakaian umum bagi warga dari agama apapun. Ciri khas dari Kampung Sawah adalah sikap toleransi beda agama di Indonesia yang spiritnya perlu terus digelorakan.
