Rasnius Pasaribu SE, Anggota DPRD Bekasi: Tahu Tugas dan Fungsi sebagai Pelayan Rakyat
Saiyo Sakato
Pria kelahiran Sibolga, 17 Mei 1974 ini. Lahir di Sibolga, namu hanya sampai kelas empat SD. Kelas 5 SD dia sudah ikut dengan kakaknya di Bekasi, artinya usianya sejak kecil sudah di Kota Bekasi. Anak ketujuh dari 13 bersaudara ini. Anak dari (alm) Nabid Pasaribu dan (alm) Rameanna Simamora. Suami dari Wivita Dewi. Ayah dari dua anak; Josep Epan Pasaribu dan Josephnie Granada Pasaribu, sebenarnya, jauh sebelum masuk ke politisi dirinya sudah berkecimpung banyak di berbagai lini. Sempat juga di Bontang, Kalimantan untuk meniti karier, tetapi sebentar tak lama kemudian dia kembali Bekasi. Kemudian, pernah juga berkarier di Perusahaan Astra, dan sebelum menjadi wakil wakyat, dirinya pernah berkarier di perusahaan IT.
Lulusan sarjana ekonomi dari Fakultas Ekonomi dari Universitas Kristen Indonesia, tahun 2003, punya filosofi hidup. Menurutnya harus hidup apa adanya, jangan bertopeng, jangan hidup dengan kepura-puraaan. Dan tak boleh lupa membangun relasi dengan Tuhan. Karena itu, setiap bangun pagi dirinya tak pernah lupa untuk berdoa mengucap syukur pada hari yang baru Tuhan beri untuk dirinya. “Filosofi yang saya anut adalah hidup sederhana saja. Jangan hidup berlebih dari kepantasan. Saya juga tak ingin hidup bermewah-mewah, hidup sepantasnya saja. Saudara bisa datang menjumpai saya kapan saja, asal tentu dengan sudah berjanji,” ujarnya merendah.
Rasnius besar di Bekasi, namun kampung halamannya tak dilupakannya di Sibolga. Dia merasakan benar ada hal yang tak pernah dilupakannya tradisi di masyarakat Sibolga. Di Sibolga bisa disebut kota pluralis. Kota Sibolga, Sumatera Utara, merupakan kota yang indah dan damai karena itu diberi gelar Kota Sibolga Nauli yang artinya kota yang indah. Keindahan kota kecil ini makin terasa karena wilayahnya berbatasan langsung dengan gunung dan laut, dengan komposisi penduduk muslim dan nonmuslim yang hampir berimbang. Meskipun bahasa yang dominan dipakai masyarakat di kota itu ialah bahasa Batak Toba dan juga dipengaruhi bahasa Minang. Namun, kearifan lokalnya sangat kuat dengan slogan Sibolga kota berbilang kaum, saiyo sakato dan sahata saoloan.
Toleransi di Kota Sibolga sudah berlangsung lama. Tidak ada masalah hubungan dilatarbelakangi perbedaan agama. Bahkan, ada keluarga yang bercampur muslim dan nonmuslim hal biasa. Budaya di Sibolga saling mengunjungi juga kental di sana, bahkan kalau pesta juga saling mengundang. Namun, kalau hal makan, tetap dibedakan. Walaupun yang pesta itu keluarga besar dari nonmuslim, untuk bagian masak-memasak selalu dipercayakan kepada yang muslim. Ini untuk menjamin masakannya halal. Tentu, mengingat kejadian tempo lalu, kita amat sangat menyayangkan perbuatan teorisme di Kota Sibolga yang sejak dulu terjaga, aman damai mengguncangkan negara ini. Tindakan terorisme kini mengobok-obok kampung halaman kami Sibolga Nauli. Kota yang kaumnya hidup rukun, damai, tentram, dan berkasih sayang di tengah perbedaan walau komposisi penduduk Muslim dan nonmuslim relatif hampir seimbang. (HM)
