Sayangkan Adanya Siswi yang Dipecat Dari Sekolah karena Menghina Palestina, GAMKI: Sanksinya Berlebihan
Diungkapkan Sahat, sebagai bentuk solidaritasnya, GAMKI selama bertahun-tahun kerap berkunjung ke Kantor Kedubes Palestina untuk Indonesia dan juga mengundang Duta Besar Palestina dalam acara GAMKI, seperti Rakernas dan Perayaan Natal.
“Bagi GAMKI, persoalan konflik Palestina dan Israel tidak dilihat dari perspektif agama melainkan konflik wilayah yang harus dilihat dari sudut pandang kemanusiaan dan keadilan. Kita tahu bahwa di Palestina tidak hanya ada umat Muslim, melainkan juga Yahudi dan Kristen. Begitu juga di negara Israel, warganya tidak hanya memeluk agama Yahudi, tapi juga banyak yang beragama Islam dan Kristen,” kata Sahat.
Menurut Sahat, konflik antara Israel dan Palestina yang terjadi saat ini di Timur Tengah justru dijadikan komoditi politik oleh oknum dan kelompok tertentu di Indonesia.
“Kami melihat ada oknum dan kelompok tertentu di Indonesia yang menjadikan konflik Israel-Palestina sebagai komoditi politik. Mereka membuat framing di media sosial bahwa konflik Palestina adalah konflik agama, menuduh orang Indonesia yang tidak membela Palestina sebagai pengkhianat, bahkan membuat beberapa sebutan seperti zionis nusantara, yahudi pesek, pendukung Israel berasal dari bani bipang, dan lainnya,” ujar Sahat.
Sahat menyayangkan adanya oknum dan kelompok tertentu di Indonesia yang memakai konflik Israel-Palestina untuk memprovokasi dan memecah-belah masyarakat.
“Kami mengharapkan masyarakat Indonesia dapat lebih bijak melihat persoalan Israel-Palestina. Jangan mudah dipengaruhi provokasi dan propaganda yang dilakukan oknum ataupun kelompok tertentu yang sengaja ingin memecah-belah dan membenturkan masyarakat kita. Bahkan sampai ada siswi yang dipecat dari sekolahnya karena dinilai menghina Palestina lewat media sosial, ini kan sanksi yang berlebihan,” kata Sahat.
