Sitor: Sastra dan Politik

Sitor pernah dibui beberapa hari oleh tentara Belanda karena menjalankan profesi sebagai wartawan. Dan pengalaman yang paling pahit adalah ketika dia ditangkap dan ditahan selama delapan tahun oleh rezim Orde Baru tanpa pernah disidangkan. Tidak jelas apa kesalahan yang telah diperbuatnya, sehingga begitu lama dia menderita di balik jeruji besi. Ada yang menyebut Sitor dibui karena karena keberpihakannya pada gelombang pasang gerakan kebudayaan yang menerjang kebudayaan imperialis, dan dukungannya yang teguh pada sikap politik Presiden Sukarno yang berusaha menyatukan kekuatan bangsa Indonesia baik dari unsur nasionalis, agama, dan sosialis, komunis.

Sitor adalah seorang sastrawan sekaligus seorang politikus. Mengutip ucapan Rendra dalam buku Mengapa & Bagaimana Saya Mengarang, yang ditulis Pamusuk Eneste tentang seniman berpolitik: ….seniman sebagai anggota masyarakat, sebagai bagian dari rakyat yang tidak ikut berkuasa, akan syah dan wajar pula kalau menyuarakan hasrat dan pendapat mengenai kedailan, ekonomi dan politik di dalam karyanya. Tidak bisa karyanya dianggap merosot hanya karena membicarakan politik, sosial, dan ekonomi.

Sitor termasuk dalam jajaran sastrawan Angkatan 45. Menurut dia, keberadaan Angkatan 45 untuk menggantikan Angkatan Pujangga Baru. Menjelang pergeseran dalam babakan sejarah sastra Indonesia itu, berlangsung polemik yang monumental antara mereka yang mau mengadopsi Barat dan mereka yang dengan cemerlang bisa melihat kekuatan budaya Timur sebagai dasar bagi kemajuan bangsa. Perdebatan ini dikenal sebagai “Polemik Kebudayaan.” Tahun 1953, Sitor mengusulkan satu dikotomi yang mirip dengan pandangan “Pujangga Baru.” Hal ini bisa dibaca sebagai tanda bahwa harapannya akan revolusi kejiwaan belum juga terkabul dalam perkembangan budaya.

Sebagai sastrawan Angkatan 45, Sitor mengagumi Chairil Anwar. Sementara pengaruh dari luar diterimanya dari Jean Paul Sartre, Albert Camus, dan Andre Malraux. Terutama Malraux banyak mempengaruhi pemikiran dan karyanya. Gagasan Malraux tentang “museum imajiner” dimodifikasi Sitor menjadi “living museum” atau museum hidup. Dan Malrauxlah yang banyak mempengaruhi kepenyairan Sitor.

Asrul Sani, yang juga termasuk dalam Angkatan 45, menyebut Sitor sebagai penyair yang hebat tapi politikus picisan. Semula, banyak yang mengkritik bahkan menyayangkan Sitor terjun ke ranah politik, karena hal itu akan “mengganggu” bakat kepenyairannya. Pada awal-awalnya, puisi-puisi Sitor membawa gaya sendiri dengan menengok kembali tradisi lama, seperti pantun, dengan renungan pribadi dan ziarah batin.

Sikap politik Sitor sangat kentara dalam sajak-sajak perjalanannya, yang merekam sentuhannya dengan rakyat Tiongkok yang sedang membangun sosialisme. Perjalanannya ke negeri yang berada di bawah pimpinan Mao Tse Tung pada tahun 1962 dicatat oleh sementara kalangan sebagai sajak-sajak perjalanan yang penting yang sangat sarat pandangan politik. Ini bisa dimaklumi karena dukungannya yang tak tergoyangkan pada politik Presiden Sukarno yang dekat dengan Republik Rakyat Tiongkok.

Aku ingin minum dari kehangatan/ harapan saudara-saudara./ Aku ingin menjabat tangan/ saudarasaudara yang sibuk bekerja./ Aku ingin makan roti ini,/ roti komune, sebagai tanda/ pulihnya pergaulan, setiakawan dan/ harapan antara manusia,/ buat selama-lamanya dalam cinta,/ cita-cita dan kenyataan dunia sosialis. Begitu bait terakhir sajaknya yang berjudul ”Makan roti komune.” Bahasanya sederhana, niatnya jelas. Tak heran jika Ajip Rosidi mencatat: ”Sajak baginya menjadi semacam catatan harian, meski tidak ditulis setiap hari. Dari sajak-sajaknya kita bisa mengikuti perjalanan hidup Sitor sang petualang.” Tidak hanya perjalanan hidupnya, juga sikap politik yang telah dia pilih secara sadar dengan risiko yang agaknya sudah pernah dia bayangkan. Dibungkam! Dipenjarakan! Bertahun-tahun oleh rezim Orde Baru Suharto.

Lawatan Sitor ke Tiongkok merupakan bagian dari acara sebuah delegasi Persatuan Pengarang Asia-Afrika yang dia pimpin, yang singgah di Tokyo. Di dalam delegasi tersebut ada Rivai Apin dan Utuy Tatang Sontani. Di Tokyo lahirlah sajaknya Dialog dekat patung Hachiro yang dia tulis setelah melihat patung peringatan bagi kesetiaan seekor anjing yang terletak di depan stasiun Shibuya. Perjalanan para pengarang Asia-Afrika itu lalu berlanjut ke Hong Kong. Dari kota dagang, koloni Inggris, ini rombongan bertolak ke Beijing. Selain sajak yang memuja persahabatan di salah satu komune yang terletak di pinggir Beijing itu, lahir pula sajak-sajaknya yang lain, yang dikumpulkan dalam antologi ”Zaman Baru,” seperti Surat dari Tiongkok untuk Reni, Udara Pagi di Peking, Lagu-lagu Tiongkok baru, Tiongkok lama, Lukisan-lukisan pekerja Tiongkok.

Sitor saat diwawawancarai

Delegasi berada di Tiongokk selama dua minggu. Para anggota delegasi memperoleh jamuan kelas satu seraya merasakan jejak perjuangan rakyat melawan Chiang Kai Sek yang berupaya mendirikan sebuah rezim pro-Amerika Serikat di daratan Tiongkok. Saat paling mengesankan bagi Sitor adalah ketika menyaksikan pesta kembang api yang diadakan di Lapangan Tienanmen. Delegasi diundang untuk melangkahi gerbang Istana dan bertemu dengan Mao Tse-tung. Sitor diperkenalkan dan berjabat tangan dengan pemimpin Tiongkok itu. Dia sangat bangga. Dari pertemuan tersebut, delegasi diundang makan malam dan dalam kesempatan itu Sitor pun membacakan sajaknya Perayaan yang dipersembahkan kepada Mao dan rakyat Tiongkok. Sitor memang mengagumi Tiongkok, baik yang berhubung dengan komunisme ataupun tidak.

Rekaman jekak perjalanan ke Tiongkok bukan tidak hanya berbau politik. Sitor juga menulis dengan manis Anak Kuba di Peking, dan buat gadis cantik bernama Zoila. Tahun 1968, Sitor mengunjungi Uni Soviet memenuhi undangan Asosiasi Penulis Uzbekistan.

Sitor merasa bahwa para kritikus yang dapat memahami karya-karyanya adalah almarhum Subagio Sastrowardoyo. Pada tahun 1976, Subagio menulis esai sastra berjudul Manusia Terasing di Balik Simbolisme Sitor Situmorang. Dalam tulisan itu, Subagio membuktikan bahwa Sitor dipengaruhi oleh simbolisme Perancis. Sedangkan Maria Heinschke, seorang peneliti di Universitas Hamburg yang menulis sebuah buku berjudul Sitor: Mencari Penyair Modern Persaudaraan Baru, menyebut Sitor sebagai penyair yang punya kesadaran modernisme dalam mengungkapakan kebudayaan-kebudayaan dunia. Bagi Heinschke, Sitor menciptakan sebuah karya seni yang mesti dihadapi setiap hal yang melibatkan kehidupan.

Sementara kalangan menyebutkan sajak-sajak yang ditulis Sitor setelah terjadinya perubahan politik drastis pada tahun 1965-66 kembali ke bentuknya yang semula yang muncul pada tahun 1950-an. Subagio Sastrowardoyo menilai Sitor tetaplah seorang musafir yang menulis sajak, pengembara yang tidak bisa memiliki tempat yang berbeda.

Apakah arti agama buat Sitor? “Saya lebih percaya Sianjurmulamula. Saya lebih menghadap ke kiblat di Pusuk Buhit,” katanya. Sitor kagum pada mitologi dan ini terasa pada sajak-sajaknya, seperti Bromo, Pantai Parangtritis, Balige, Gunung Sibayak, Candi Borobudur, Legian, Tanah Karo pegunungan.

Hojot Marluga

Belajar Filosofi Air

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

sixteen − fifteen =