Sitor: Sastra dan Politik

Namun tema Kristen tampil dalam sajak-sajaknya pula, seperti: Kisah Kias Kristus, Hukum Pilatus, Pesan Ruth Pada Tiap Perawan, Khotbah Baptisan Paskah, yang ditulisannya tahun 1980-an. Menurut Sitor, banyak orang yang menganggap sajak-sajak tersebut menandakan Sitor telah menemukan jalan kembali ke gereja. Tidak. Justru baginya, dia mengkritik agama baru yang telah menyingkirkan agama kuno Batak.

KM Sinaga, seorang pengusaha sukses, adalah teman Sitor saat sekolah MULO di Tarutung. Temannya yang lain, yang sudah melampaui usia 90 tahun adalah Amir Pasaribu, seorang komponis Indonesia terkemuka, saat ini berdiam di Medan. Amir adalah seniornya dalam kelompok diskusi Gelanggang Budaya. Untuk kedua rekannya ini Sitor mengabadikannya dalam sajak Lembah Silindung.

Ingat penyair Indonesia ingat Sitor Situmorang. Membicarakan penyair kontemporer Indonesia tidak bisa lepas dari si Ompung ini. Sajak-sajaknya sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Selian sajak, Sitor juga menulis cerita-cerita pendek, esai, dan naskah drama.

Pengalaman yang paling berkesan bagi Sitor adalah saat meliput Konferensi Federal di Bandung tahun 1947. Dengan bermodalkan tuksedo pinjaman dari sahabatnya, Rosihan Anwar, Sitor berhasil mewawancarai Sultan Hamid, tokoh negara federal bentukan Belanda, sekaligus menjadi ajudan Ratu Belanda. Perlu diketahui Sultan Hamid adalah orang yang diplot menjadi tokoh federal, tentu dengan maksud untuk memecah-belah keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan menjadi negara boneka dalam wadah negara federal.

ket: tulisan ini salah satu bagian dalam buku Sitor Situmorang: Mitos Dari Lembah Kekal, tahun 2011

Hojot Marluga

Belajar Filosofi Air

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

6 + two =