Sitor: Sastra dan Politik
Di MULO Tarutung, Sitor muda gemar pada pelajaran ilmu pasti. Menurutnya, belajar di sekolah Belanda guru-gurunya berlainan; lain guru untuk ilmu pasti, lain guru sejarah, lain pula guru bahasa. Di kelas, dia selalu berada di ranking atas. Kerapkali, guru ilmu pasti mengajar hanya sebentar, lalu menyerahkan murid-murid pada Sitor yang sudah dianggap sebagai asisten guru. Namun, dia menganggap kepercayaan itu sesuatu yang bisa-biasa saja. Menurut dia, kalau ujian ilmu pasti Sitor tidak diuji guru, malah diminta untuk mengawasi teman-temannya sekelas. Alasan gurunya sederhana saja, Sitor sudah dianggap mengerti dan tuntas memahami pelajaran. “Saya jadi profesor kelas tiga. Dulu, sekolah Belanda menyebut semua guru itu profesor. Sayalah profesor sampai kelas tiga,” katanya mengenang.
Tamat dari MULO Tarutung, Sitor melanjutkan studi ke Batavia, nama lama Jakarta. Dia diterima di sekolah Belanda. Belakangan sekolah ini berubah menjadi Perkumpulan Sekolah Kristen Jakarta (PSKD). Dia mendapat kursi di sekolah itu dengan melenggang masuk, tanpa tes. Tetapi, di Batavia Sitor tenggelam ke dalam dunia lain, yang membuatnya malas menghadapi pelajaran. “Malas sekolah, apalagi ilmu pasti, saya malas. Kerja saya hanya baca, baca, dan baca terus.” Namun, kegemaran membaca ini menjadi bekal bagi karirnya kelak.
Dalam periode inilah bakat kepenyairannya mulai menemukan bentuk. Menurut dia, kemampuannya sebagai penyair terbina sejak kecil, melalui kedekatan dan penghayatannya pada acara-acara adat Batak. Sebelum bersekolah sudah terbiasa mendengar pidato-pidato yang bagus yang disampaikan oleh para tetua adat dalam bahasa Batak. “Sejak kecil saya terbiasa mendengar ibu-ibu mangandung,” kenang Sitor. Mangandung adalah sastra lisan dalam masyarakat Toba, yang didendangkan seraya menangis dengan syair-syair yang menceritakan kisah hidup orang yang meninggal.
Membaca banyak buku-buku sastra dan sejarah semakin mengasah ketajaman kepenyairannya. “Saya menangkap tema dari pengalaman, pengamatan atau pendengaran yang mengharukan perasaan. Menulis sajak juga soal kepekaan bahasa. Bahasa itu bentuk budaya yang hidup dalam diri kita lewat pendengaran, pengalaman, bergaul dengan manusia lain. Ada bunyi, irama. Makin tambah umur, kepekaan menerima suara-suara, nada-nada, dan irama makin kendor,” katanya.
Sitor pernah menjadi wartawan. Karier jurnalistiknya dimulai tahun 1942, menjadi redaktur harian Suara Nasional dan pernah menjadi wartawan perwakilan kantor berita ANTARA di Pematang Siantar. Oleh pendiri koran Waspada yang terbit di Medan, tahun 1947 Sitor ditawari untuk menjadi koresponden harian itu di Yogyakarta. Masa itu pusat pemerintahan republik berada di Yogyakarta. Dari kota itulah Sitor mengirimkan tulisan-rulisannya untuk Waspada, sehingga koran tersebut selalu mendapat berita-berita aktual dari pusat. Namun sayang dalam buku “40 tahun Koran Waspada” nama Sitor tidak disebut, padahal dia pernah ikut membesarkan koran itu.
Dia juga pernah menjadi wartawan Berita Nasional dan Warta Dunia. Tahun 1959 hingga 1965 Sitor menjadi pejabat di bidang kebudayaan pada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Bersama berbagai tokoh nasional dalam berbagai bidang dia pernah menjadi anggota Anggota Dewan Nasional, anggota Dewan Perancang Nasional, anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara, anggota Badan Pertimbangan Ilmu Pengetahuan Departemen Perguruan Tinggi pada awal tahun 1960-an.
Sitor adalah ketua Lembaga Kebudayaan Nasional, sayap kebudayaan dari Partai Nasional Indonesia, sejak organisasi itu berdiri tahun 1959 sampai dibubarkan oleh rezim militeristis Suharto tahun 1965. Tak jauh dari dunia kesenimanan, dia pernah pula menjadi dosen di Akademi Teater Nasional. Pada tahun 1956-57 Sitor malah sempat menekuni sinematografi di California, Amerika Serikat. Anak desa Harianboho ini pernah pula menjadi dosen tamu di Universitas Leiden, Belanda (1981-1991). Dia sering mengembara di berbagai negara Eropa, terutama Negeri Belanda, Perancis, Italia, dan Spanyol. Dia berkunjung ke Beijing awal 1960-an dan menulis puisi-puisi perjalanan tentang Tiongkok. Dia berkunjung ke Singapura tahun 1942.
Di ulangtahunnya yang ke-85 dia (2011) tak kelihatan lelah, matanya menatap tamu dengan cerah. Kalau memberikan tekanan, suaranya tetap tinggi. Gayanya yang khas juga tak berubah: menggebrak, menunjuk-nunjuk, terkadang malah mengguncang pundak lawan berbicara sambil tertawa terkekeh-kekeh.
Salah satu sajaknya yang paling digemari publik adalah Lagu Gadis Itali. “Ketika menulis sajak itu saya memang menggunakan kekuatan pantun,” katanya. Pandangan politiknya dengan nyata tercermin dalam sajak-sajaknya. “Silakan nilai puisi saya dari puisi, bukan dari politik. Saya memang menulis puisi politik, ada juga yang tidak. Jika politik dinilai merusak bakat saya, itu kesimpulan mereka. Banyak orang yang memaksakan penilaian dengan hanya membaca puisi politik saya. Padahal, mereka juga membaca puisi saya yang non-politis, tapi tidak masuk penilaian. Ini tidak baik. Jika sajak saya dianggap tidak berhasil, silakan. Tapi, itu bukan karena aktivitas saya di politik.”
Dia berteman dengan semua sastrawan dan budayawan. Baginya, satu musuh terlalu banyak, seribu teman terlalu sedikit. Pertemanannya dengan Pramoedya Ananta Toer layaknya kedekatan yang tidak lekang oleh ketuaan. Persahabatan kedua sastrawan besar itu suatu ketika diperingati di Goethe House, Jakarta, di mana Sitor membacakan puisinya ”Blora” sebagai kenangan untuk Pram yang lahir di kota yang dinyanyikan Sitor dalam sajaknya itu.
Penyair dan dramawan Rendra memanggil Sitor dengan sapaan hormat dan bersahabat: Abang. Ketika Rendra meninggal 6 Agustus 2009, Sitor membacakan sajaknya di hadapan jasad temannya itu. Sajak yang dia bacakan itu semula berjudul ”Lagu Malamku Kini.” Namun, sebagai penghormatan pada Rendara judulnya dia tulis ulang menjadi ”Lagu Malammu Kini,” dan semua akhiran ”ku” berubah menjadi ”mu.”
Lagu Malammu Kini
Matranya ombak
zikirnya sungai
bahana hutan
deru samudra
lagu malamu kini
di pangkuan semesta
alam pesta tari
alunan gamelan dewa-dewa
cintamu, cintamu, sempurna!
Menurut Ajip Rosidi, temannya dan sesama anggota Akademi Jakarta, “Mungkin Sitorlah penyair yang paling banyak menghasilkan sajak di Indonesia.” Hampir 600 judul sajak yang dia tulis dalam kurun waktu yang cukup panjang, antara 1948 – 2005. “Dan Sitor sekarang masih hidup dan masih menulis sajak,” tulis Ajip.
Menurut Ajip Rosidi, sajak-sajak Sitor Situmorang yang mulai mendapat ”perhatian besar” adalah yang dia tulis sekembalinya dari perjalanannya ke Eropa untuk pertama kali pada tahun 1950. Waktu itu Sitor merupakan salah seorang seniman Indonesia yang menerima undangan dari Sticusa, lembaga kerjasama kebudayaan Belanda, untuk berkunjung ke negeri bekas penjajah tersebut. Sajak-sajaknya itu, menurut penilaian Ajip, ”… seakan membawakan suasana baru bagi perkembangan puisi Indonesia pada waktu itu, yang oleh sebagian pengamat disebut sebagai ’zaman puisi gelap,’ karena kata-kata yang membentuk sajak-sajak tidaklah memberikan arti atau citra yang dapat ditangkap oleh pembaca.” Sajak-sajak Sitor, kata Ajip Rosidi, yang adalah juga seorang penyair dan budayawan penting Indonesia, seakan menghidupkan kembali puisi lama yang tadinya sudah dilupakan orang karena dianggap ketinggalan zaman.
Sementara Harry Aveling, Director of Asian Studies School of Social Science La Trobe University, Australia, melihat sajak Sitor Situmorang banyak berisikan hasil renungan pengalaman religiusnya, sebagai seorang pemeluk agama Kristen. Harry Aveling menjuluki Sitor Situmorang sebagai penyair agung, karena selama 60 tahun lebih terus berkarya dan telah menghasilkan lebih dari 600-an sajak.
Karya Sitor tidak hanya kental dengan tradisi Batak yang kuat, tetapi juga dipengaruhi budaya Barat melalui sastrawan modern Belanda, seperti Slauerhoff. Tema karya Sitor yang menonjol: cinta semu atau tidak kekal, pengembaraan dan siklus abadi kematian dan kehidupan. Setelah pensiun sebagai dosen tamu di Seksi Indonesia di Universitas Leiden (1981-1990), sang penyair sempat tinggal di Pakistan. Pada tahun 2006 dia memperoleh anugrah ASEAN Writes Award dari Muangthai.
