Togarma Naibaho: Betapa Agungnya Karya Seni Batak
Hambatan lain kuatnya idealisme seni budaya Batak, bagi Togarma, ketika misalnya dia pernah menerima pesanan pembuatan souvenir alat musik tradisi Batak ukuran mini sebanyak 1000 buah untuk keperluan resepsi. Tetapi akhirnya harus gigit jari karena alat dan teknologi pembuatan belum tersedia. Salah satu hasapi yang dibuatnya juga pernah ditandatangani Miss Universe.
Bagi ayah dua anak, sebelum membuatkan sesuatu harus terlebih dahulu berkontemplasi, menjauhkan diri dari istri dan anak-anak, jauh dari hiruk-pikuk keramaian demi untuk menghasilkan sebuah desain yang purna. Togarma juga ahli desain berbagai souvenir khas watak, desain rumah Batak hingga karya tulis buku dan karya cipta lagu yang semua pakaiannya konsisten menunjukkan seberapa nilainya karya seni budaya Batak.
Selain itu, Togarma pun punya pengalaman berorganisasi, dia juga koordinator PMK IKIP Medan, juga ketua satu dewan mahasiswa IKIP Medan 1977. Ketua Dua GMKI Medan, tahun 1977. Anggota badan kerjasama kesenian Indonesia 1998 sampai 2003. Sekretaris komunitas seni Batak DKI Jakarta, tahun 2003. Sementara pengalaman usaha sanggar yang menangani dekorasi dan seni budaya khas Batak, dekorasi perkawinan sejak tahun 1985 sampai sekarang.
Lalu, dia juga pernah diundang di berbagai seminar diantaranya pembanding utama budaya Sumatera Utara, tahun 1980. Menjadi penyaji dalam “parhalaan” di Planetarium Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Tahun 2001. Pembicara seminar sengketa tanah adat Batak 2007. Juga pernah menjadi narasumber di Toba Dream membicarakan tentang adat dan budaya Batak.
Membangkitkan Talatoit
Berpuluh tahun memodifikasi dan mengembangkan alat-alat musik tradisional Batak, dia mengimpikan keindahan Danau Toba, dimainkan musiknya dengan musik tradisi. Dia ingin menggambarkan daya dan emosi alat musik tradisi itu. ”Suling ini sempat dilarang Belanda karena dituduh membuat gila anak gadis di kampung,” ujar Togarma tentang talatoit. Alat musik dari bambu pendek dengan dua lubang di sisi kiri dan kanan itu dimainkan dengan meniup dari samping. Talatoit merupakan salah satu alat musik Batak yang ingin dibangkitkannya.
”Alat musik ini di kampung saja sudah jarang dimainkan,” ujar Togarma yang membuat sendiri talatoit itu. Nasib serupa membayangi instrumen garantung, ogung, odap, sulim, dan taganing yang menjadi bagian perangkat gondang atau ensambel musik khas Batak. Ada masanya ketika alat musik Batak yang dulu sering digunakan mengiringi upacara atau ritual tradisi Batak itu dijauhi karena kekhawatiran terkait dengan penyembahan berhala. Padahal, alat-alat musik itu, menurutnya, pada dasarnya netral.
Menurutnya, alat musik ini menjadi pengantar doa memuliakan Tuhan. Modifikasi instrumen mempelajari filosofi, nada, dan bentuk fisik alat-alat musik Batak. Pada 2002, dia memodifikasi alat-alat itu, tetapi tetap mempertahankan ciri khas bunyi dan nadanya. Alat musik ogung yang semula memiliki empat nada dimodifikasi menjadi 12 nada tanpa menghilangkan empat nada awal.
Setahun kemudian, tercipta taganing yang semula tujuh nada menjadi enam belas nada. Taganing, yang berupa sebaris alat musik pukul mirip kendang, dibuatnya menjadi tiga baris kendang. Berlanjut dengan hasapi, alat musik petik yang semula dua senar dia jadikan empat senar dilengkapi grip. Garantung, yang mirip kolintang, aslinya delapan nada dikembangkan hingga duapuluh lima nada.
Rentang nada yang hingga dua oktaf kromatis membuat cakupan nada mirip piano. Lahir pula sulim (suling) duabelas nada. Perubahan itu menambah kekayaan dan keluasan nada pada alat musik tradisi sehingga ruang berkreasi membesar. Sebagian alat musik perkusi yang telah diutak-atik Togarma itu tak sekadar pembawa ritme, tetapi juga sanggup mengirim melodi. Alhasil, gondang Batak modifikasi itu mampu menjadi pengiring lagu, seperti halnya band. ”Saya membuat sulim, ogung, taganing, dan garantung diatonik agar dapat mengiringi lagu nada diatonis sehingga bisa bergabung dengan semua nada musik dunia,” ujarnya.
Dana keluarga sebagian tersedot untuk pengembangan instrumen musik itu. ”Saya tak memikirkan rumah atau kendaraan. Saya hanya ingin alat musik Batak tidak punah. Kalau nadanya makin kaya, harapannya makin sering dipakai orang sebagai musik pengiring lagu. Saya gelisah alat musik Batak tidak diselamatkan, nanti orang Batak akan kecurian. Sekarang saja sudah ada orang Batak yang merasa kehilangan musik tradisinya,” ujarnya.
Komunitas Togarma dan kawan-kawan berinisiatif mempersatukan pelaku seni musik Batak dengan membentuk Komunitas Senang Seni Batak Toba. Komunitas ini kemudian berubah menjadi Komunitas Senang Seni Batak (Kossba) agar puak Batak lain, seperti Karo, Pakpak/Dairi Mandailing, Angkola, dan Simalungun, dapat terlibat melestarikan budaya Batak.
Togarma didaulat menjadi pemimpin Kossba. Anggota Kossba berlatih di rumah pengusaha Monang Sianipar yang juga pemilik Toba Tabo hanya belakang tak aktif lagi. Togarma tak pernah melupakan persinggungannya dengan musik tradisi Batak, ketika tumbuh besar di kampungnya Samosir, dia paling menantikan acara menonton Opera Tilhang di sebuah lapangan segitiga dekat rumahnya.
