Togarma Naibaho: Betapa Agungnya Karya Seni Batak
Opera Tilhang Gultom biasanya berlangsung selama sebulan dan grup seniman mengontrak di rumah toko milik keluarga Togarma. Walaupun banyak jenis suara alat musik mampir ke telinganya, gondang dan uning-uningan yang paling meresap dalam kalbunya. Alat musik tradisi itu mendapatkan napasnya dalam ritual dan hiburan rakyat.
Agar alat musik itu lestari, ungkap Togarma, harus dikembangkan sebagai hiburan, tak hanya pengiring ritual. Ia menyimpan obsesi akan hidupnya orkestra gondang Batak di perantauan ataupun di tanah Batak. Dia yakin orkestra bernuansa etnik yang unik dapat tampil sejajar dengan orkestra ala Eropa. Seni tepian Toba. Selain musik, Togarma juga mempelajari berbagai aspek budaya Batak selama 28 tahun.
Awalnya, dia ingin mengembangkan skripsinya tentang rumah adat Batak menjadi buku. Dalam perjalanan menyusun buku itu, dia mendalami berbagai aspek budaya Batak. ”Pengetahuan tentang alat musik tersebut saya dapat saat mendalami arsitektur rumah Batak. Arsitektur rumah adat dan seni budaya saling terkait,” katanya.
”Begitu dalamnya misteri orang Batak sehingga tak habis-habis digali. Saya tak pernah puas sampai akhirnya berpuluh tahun meriset untuk naskah buku itu,” ujarnya. Kini dia ingin menerbitkan naskah buku itu tahun ini. Di kawasan rumahnya, Jati Bening dia membangun Sanggar Gorga, dan membuat desain dan ukiran kayu bermotif Batak untuk panel interior, dan membuat desain motif Batak untuk kaca hingga pakaian dan dekorasi perkawinan.
Salah satu karyanya, berupa panel hiasan ukiran Batak, memperindah Gereja HKBP Sudirman. Di masa tuanya ini ingin seluruh keagungan karya seni Batak dan indahnya cerita kehidupan orang Batak jangan terkubur, Togarma ingin mewariskan jejak budaya Batak itu, sebagai bagian dari kebudayaan Indonesia bagi generasi selanjutnya berupa buku. (HM)
