Universitas Kehidupan

Karena, bagaimana ia bisa memetik hikmat, jika tak berani menghadapi sengatan kesulitan? Hikmat ditemukan oleh keseriusan menggali dan menemukannya di kehidupan. Maka rahasia agar tetap antusias? Sikap gigih, berjiwa murid. Bukan bersikap seperti guru yang sudah selesai belajar. Di kehidupan ini banyak contoh orang-orang yang tak memiliki gelar akademik bisa eksis, berpengaruh. Sejumlah diantaranya tetap bisa menunjukkan sikap pembelajar.

Tak kalah jika disandingkan dengan “kualiatas” orang-orang yang bergelar akademik sekalipun. Andrias Harefa misalnya, walau tak bergelar akademik telah menulis puluhan buku, dan sejumlah diantaranya bestseller. Ada juga sastrawan dan tokoh perbukuan, Ajib Rosidi, walau hanya lulus dari sekolah tingkat pertama (SMP), tetapi kualitasnya professor. Rosidi bergiat di dunia sastra. Dia bisa membangun penerbitan buku yang berhasil, bahkan diminta menjadi dosen di Jepang walau tak bergelar akademik.

Belum lama berselang, kita juga pernah dikejutkan ketika presiden Joko Widodo memilih Susi Pudjiastuti sebagai Menteri Kelautan. Susi hanya lulus SMP, dipermasalahkan banyak orang. Masalahnya dia tak lulus SMA. Belum pernah sebelumnya menteri yang tak menyadang sarjana, bergelar akademik. Buktinya dia bisa menunjukkan kualitas menteri. Tiga sosok contoh tadi, mereka tunjukkan hidup tanpa gelar. Selama ini, kita mengagung-agungkan gelar akademik.

Kenyataan, gelar akademik tak selalu berbanding lurus dengan kualitas seseorang. Kala terhisap kesulitan, satu-satunya cara ialah belajar dari kehidupan. Hanya dengan cara demikian kita berkhimat agar bisa lulus. Supaya diri kita tak terlena buaian kesenangan sesaat. Walau lelah secara fisik belajar di kehidupan, tetapi secara mental tak boleh lelah. Intinya, jangan sampai kita kehilangan sikap belajar terus-menerus. Adalah kita manusia merugi jikalau tak bisa memetik hikmat dari setiap pergumulan di kehidupan.

Sikap kita di tepi kehidupan yang rapuh ini, harus mampu menghadapi kenyataan yang ada. Semangat pembelajar di kehidupan, sekali lagi, menolong kita meraih impian. Karena itu, motivasi belajar dari kehidupan harus tetap menjadi tekad kita. Bahwa permulaan kearifan dimulai dari kesadaran diri, belajar pada kehidupan. Dari prosesnya lahir nilai-nilai keagungan. Semangat pembelajaran itu menjadi kekuatan dalam meningkatkan kualitas dirinya. Akhirnya, hanya orang-orang terus-menerus belajar dari kehidupanlah yang menimba pengetahuan pada fakultas pembelajar, bersiap diwisuda Universitas Kehidupan.

Hojot Marluga

Belajar Filosofi Air

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

eighteen − 11 =