Anggota DPR RI, Ir. Lamhot Sinaga; Kesabaran Berbuah Manis
Demikian juga masalah garam, bangsa ini terus-menerus harus mengimport garam. “Padahal kita negara maritim seharusnya kitalah yang ekspor garam. Kenyataan bahwa dari tahun ke tahun para mafia dari import inilah yang bertumbuh dalam bangsa ini,” ujarnya. Ditambahkan Lamhot, dulu, kita mengekpor garam, tetapi sekarang mengimport garam. Tentu ini ulah dari para mafia importir, karena itu, kita sudah bicarakan kemarin dengan menteri pertanian, agar tahun ke tahun terjadi demikian. Karena itu, kami di Komisi VI meminta pemerintah Jokowi di periode kedua ini mengurangi import.
Ditanya pendapatnya soal mafia-mafia di bidang energi misalnya penolakan segelintir kelompok terhadap Ahok. “Dia personal talent. Tentu kalau dia tak memiliki talenta atau kemampuan di bidang manajerial dan memimpin saya sendiri tak akan mendukung. Tentu dia punya kemampuan untuk memberi arahan ke depan bagi Pertamina untuk lebih baik. Tetapi kalau penolakan jika tak berdasar ini tentu juga tak tepat. Kalau kapasitasnya tak ada, lalu ditolak, itu kita dukung. Tetapi justru selama ini kinerjanya di masyarakat sudah teruji.” Kembali ke atas, sebagai Komisi VI, dia sangat berharap BUMN kita bisa lebih baik ke depan, kinerja dan produksinya makin lebih baik dan bersih dari tangan-tangan yang jahat.

“Di pemerintahan Jokowi ini, kita percaya akan membawa bangsa ini lebih maju dan melesat perkembangannya. Oleh karena ingin Indonesia maju, maka kabinetnya juga dinamakan kabinet Indonesia Maju. Tentu hal seperti ini harus kita dukung. Sebagai anggota DPR saya harus dukung pemerintah ini.” Caranya bagaimana? Tentu itu tadi, sebagai anggota parlemen, mesti berani berjuang untuk membersihkan mafia-mafia. “Saya yakin pemerintahan ini bisa melakukan itu jika didukung oleh parlemen yang bersih, dan mengkritisi eksekutif untuk mengawasi kinerja pemerintah yang lebih baik. Bukan untuk saling menjatuhkan. Pemerintah dan parlemen bisa seiring sejalan untuk memperjuangkan kemajuan bangsa ini.”
Industri Pertanian
Jika bicara Industri Pertanian bisa melingkupi pertanian dan peternakan. Salah satu problem misalnya di Sumatera Utara khususnya di Tapanuli Raya banyaknya ternak babi yang mati, diduga akibat virus kolera babi dan demam babi Afrika. Salah satu opsi penanganan virus kolera babi ini tentu dengan pemusnahan. Tentu akan berjibun perkara yang mesti diselesaikan. Tetapi gagasan Lamhot untuk pertanian di kawasan Toba yang tepat dibuat di sana adalah industri yang berbasis pertanian. “Kemarin saat rapat dengar pendapat dengan Menteri Perdagangan saya usulkan agar ke depan kita hentikan import daging sapi,” ujarnya. Kenapa? Karena sebenarnya di negera kita ini sangat cocok untuk dibuat peternakan sapi. Sapi bisa sehat di kawasan iklim tropis. Di Humbang Hasundutan sendiri sudah ada percontohan peternakan sapi. “Ke depan jika sentra perternakan sapi makin masif dibangun, sudah tentu kita tak perlu lagi mengimport sapi dari Australia,” ujarnya lagi.
Lalu, bagaimana soal peternakan kuda. Di Humbang Hasundutan sendiri terkenal dengan daging kudanya, kuda yang dipotong bukan lagi diternakkan di Dolok Sanggul, tetapi sudah dikirim dari Sumatera Barat. Bagi Lamhot hal-hal seperti itu memang harus dipikirkan, tetapi itu tak terlalu masalah, karena likupannya masih dalam nasional wilayah NKRI. Kita juga belum pernah mendengarkan industri ternak kuda, tentu yang paling mudah memang peternakan sapi. “Paling tidak Humbang Hasundutan dan kawasan Toba tak lagi mengimpor sapi dari Australia. Tentu, kalau ini bisa dilakukan sudah tentu membantu pekerjaan pemerintah.
Dari segi pakan juga, rumputnya sangat banyak di sana. Kalau pembangunannya skala industri nasional sangat tepat dibangun di sana.” Misalnya juga, industri pertanian kemenyan atau karet. Kenyataan sekarang ini hutan kemenyan sudah banyak yang hilang. “Ini harus kita tumbuh-kembangkan ke depan sebab ini juga tanaman endemik yang perlu dijaga kelestariaannya. Demikian juga misalnya di Kabupaten Tapanuli Utara di Kecamatan Pangaribuan kebun nenas, dulu sangat terkenal dan luas. Perlu di sana disiapkan pengemasan yang baik. Nenasnya sangat bagus dan manis sampai ada industri pengalengan di Siborong-borong. Ke depan Lamhot juga menyarakan untuk bisa bertumbuh maju. Semua hal harus diberikan perhatian, termasuk pemupukan dan pengalengan agar bisa dijual lebih bagus ke depan. Tentu yang akan didorong adalah industri yang berbasis pertanian. Hasil-hasil pertanian itu harus dijadikan menjadi industri.”
Termasuk industri kopi perlu dikembangkan, sebab bahan bakunya cukup. Selain itu, Lamhot juga punya gagasan bagaimana menghadirkan investor di kawasan ini. “Di industri-industri ini juga perlu ada investasi untuk mengangkatnya. Kopi tak hanya menjual buahnya, tetapi bubuknya juga. Turunannya tentu akan lebih tinggi. Coba misalnya, kalau hanya dijual bijinya akan lebih rendah. Disini disparitas harga yang tak bagus antara harga panen dan harga setelah diproduksi jadi bubuk kopi.
Lamhot melihat bahwa home industri juga perlu dikembangkan seperti piltik coffee yang ada di Siborong-borong. Home industri jika serius akan menjadi kekuatan ekonomi besar dan bisa menjadi menasional. Ke depan hal-hal seperti ini yang perlu didorong dengan Menteri Koperasi dan UKM. Tempo lalu dia berjumpa dengan Teten Masduki di rapat dengar pendapat, dia tentu menyarankan agar dibuat banyak home industri. “Tentu jangan lagi kita menghadirkan industri besar seperti TPL yang merusak lingkungan, tentu kita perlu mendorong industri pertanian yang berbasis industri rumahan.”
Lalu, ditanya soal industri pariwisata. Beberapa waktu lalu juga Lamhot bersama anggota Komisi VI ke Mandalika, NTB. Selain Danau Toba, Mandakila adalah satu prioritas pemerintah pusat untuk menjadikan kawasan ini destinasi nasional. Menurut Lamhot, kehebatan Mandalika itu adalah bukan hanya menjual pemandangannya, tetapi antraksinya. “Yang mereka bangun juga disana adalah tempat antraksi ajang internasional. Di sana dibangun tempat bagi sebuah ajang kejuaraan dunia balap motor GP. Tahun 2021 mereka akan mengelar perhelatan internasional. Demikian juga mestinya dibuat di Danau Toba. Kita tak boleh hanya menjual keindahan viewnya. Jika hanya viewnya kita jual, orang yang datang sekali tak akan datang lagi kemudian karena tak beragam yang dilihat di sana.
Jadi, harus ada sesuatu yang kita lakukan disana, termasuk menyediakan tempat-tempat pertemuan-pertemuan besar untuk skala nasional dan internasional dan berbagai hal yang bisa dilakukan. Selain itu, menurutnya, juga perlu dibenahi dengan baik semua situs-situs sejarah yang ada di kawasan Danau Toba. Misalnya, pemerintah bangunlah istana Sisingamangaraja, agar orang bisa menyaksikan. Maka perlu dibuat perpustakaan dan museumnya dan berbagai hal lain. Sama halnya orang ke tempat-tempat wisata rohani. Di Yerusalem misalnya, karena dibangun kembali situs sejarahnya, maka orang berduyun-duyun datang ke sana.
Tentu yang mereka lihat adalah situs sejarahnya. Situs-situs sejarah di kawasan Danau Toba sangat banyak, hanya saja belum dipugar dengan baik. Situs-situs sejarah ini sungguh banyak di Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Tobasa dan Samosir. Contoh saja di Samosir, bagaimana membuat kawasan di Batu Hobon dan Pusuk Buhit membuat nyaman dan enak orang sampai ke sana. Semua situs-situs ini mesti dibagun oleh pemerintah pusat, sebab pemerintah daerah tak akan mampu membangun itu. Tetapi-lagi lagi bagaimana menjadi kawasan ini bisa menjadi magnet yang bisa menarik investor datang ke Danau Toba.
Misalnya, Huta Ginjang merupakan sebuah kawasan perbukitan di atas ketinggian 100 mdpl yang menghadap langsung ke Danau Toba. Di kawasan ini bisa menikmati keindahan danau dari atas ketinggian. Salah satu olahraga ekstrem yang cocok dilakukan di wilayah ini adalah terbang dengan menggunakan paralayang. Tentu banyak objek wisata di dekat Danau Toba. Ada Patung Sigale-gale, ada Air Terjun Situmurun, ada Batu Gantung, salah satunya legenda yang ada di objek wisata Batu Gantung yang terletak di Parapat. Demikian di Desa Tomok, gerbang wisata di Pulau Samosir. Tentu untuk mengembalikan gairah pariwisata, perlu banyak menggelar berbagai ivent di kawasan Danau Toba, bisa mengelar lomba renang dan dayung. Karenanya perlu dibuat lomba dayung di Danau Toba tiap tahunnya.
Lalu, ada pacuan kuda. Satu-satunya pacuan kuda di Sumatera Utara hanya ada di Siborong-borong, karena itu perlu sering digelar lomba pacuan kuda, jangan hanya sekali setahun. Selama ini hanya pas tanggal 17 Agustus saja digelar lomba pacuan kuda. Padahal orang Sumatera Barat dan orang Aceh datang ke Siborong-borong hanya untuk mengikuti pacuan kuda. Lamhot juga sudah sarankan ke Menteri Pemuda dan Olahraga, Zainudin Amali yang sama-sama dari Partai Golkar “Saya sudah usulkan ke Menteri Pemuda dan Olahraga, agar digelar lomba pancuan kuda dengan turnamen internasional sebagai daya tarik tourist mancanegara beberapa kali dalam setahun di Siborongborong. Tentu jika ini dilakukan orang tak hanya melihat Danau Toba.”
Ditanya pendapatnya soal Provinsi Tapanuli, Lamhot mengatakan, saat ini pemerintah masih membuat moratorium terhadap pemekaran daerah baru. “Kecuali moratorium ini sudah dicabut oleh pemerintah, maka saya setuju kita usulkan ada provinsi di sekitar Danau Toba. Tentu soal namanya tak ada masalah. Jika ada provinsi ini memperpendek rentang kendali. Tentu dengan potensi-potensi yang disebutkan tadi sudah tentu Tapanuli Raya layak menjadi sebuah provinsi.” Dulu kawasan ini disebut kawasan Pantai Barat. Di abad 14 sampai abad ke 16 daerah ini menjadi pusat perdagangan dengan Pelabuhan Barus dan rempah-rempah ada disana. Tetapi mengapa sekarang tertinggal jauh? Itulah yang perlu dipikirkan. “Saya berharap pantai barat ini akan dibangun kembali untuk mengangkat perekonomian nasional dan membagi keadilan sosial masyarakat di lingkungan ini,” ujarnya lagi.
