Anggota DPR RI, Ir. Lamhot Sinaga; Kesabaran Berbuah Manis

Ekonomi Khusus

Bagi Lamhot, jadi yang tepat harus hadir di Danau Toba adalah pemerintah pusat. Jika kawasan ini sudah tertata dengan baik, orang tak lagi hanya menyaksikan Danau Toba tetapi bisa melihat langsung situs sejarah yang indah.  Sekarang saja sudah 500 ribu wisatawan ke Danau Toba pertahun. Pemerintah pusat mesti terus melakukan pengembangan kawasan wisata Danau Toba. Kita tahu Danau Toba menjadi salah satu dari empat destinasi Super Prioritas yang dicanangkan Pemerintah Jokowi. Tentu pengembangan kawasan Danau Toba akan didasarkan pada tiga faktor utama. Pertama, pengembangan dilakukan dengan mengacu pada standar kualifikasi sertifikasi UNESCO Global Geopark (UGG). Tentu target kunjungan wisatawan mancanegara ke Danau Toba dan Provinsi Sumatera Utara, ditetapkan sebesar satu juta wisman per tahunnya.

Ditanya pendapatnya soal Badan Otorita Danau Toba (BODT). “Saya dengan teman-teman di Komisi VI sudah membahas peran dari BODT. Saya kira sangat terbatas kewenangannya. Maka yang muncul dalam diskusi itu BODT dibubarkan saja. Tentu kalau kita ingin seperti Mandalika jadikan kawasan ini menjadi Ekonomi Khusus yang berbasis pariwisata,” ujar Lamhot. Baginya, jikalau hanya otorita, dia tak begitu yakin kemajuan di kawasan Danau Toba bisa diselesaikan, karena memang kewenangannya sangat terbatas.

Ir Lamhot Sinaga dengan pengurus AMPI

Masalah lain lembaga dibawah naungan Kementerian Pariwisata ini belum tentu juga bisa bersinergitas dengan kepala daerah di kawasan ini. “Kalau saya mengusulkan lebih kepada kawasan ekonomi khusus Danau Toba. Sudah tentu penanganannya akan jauh komprehensif. Dan itu juga akan bisa mensejahterakan masyarakat di kawasan ini. Saya kira dengan cara kerja yang dilakukan BODT sekarang tak akan bisa mensejahterakan ekonomi masyarakat di sekitarnya.”

Bagi Lamhot, masih banyak pekerjaan rumah yang perlu diperjuangkan, selain destinasi pariwisata Danau Toba. Oleh karena itu, menurutnya, dibutuhkan tangan-tangan yang peduli untuk memperjuangkan hal ini melalui parlemen. Parlemen sendiri artinya berbicara, bersuara. Parlemen inilah yang menyampaikan suara-suara dari masyarakat. Tentu, kalau tak ada orang yang peduli mereka. Dia peduli dan menerima tanggung-jawab besar itu. Kebetulan saat ini adalah dirinya ditempatkan di Komisi VI di DPR RI untuk berkontribusi memberi gagasan dan pemikiran kepada eksekutif. Tentu yang tatkala penting adalah mengedukasi masyarakat, dan hal ini menjadi tantangan secara keseluruhan pada masyarakat di kawasan Tapanuli Raya. Tentu terhadap ada keruwetan di lapangan perlu dibicarakan dengan komunikasi yang baik. Misalnya kemarin masalah Sigapiton adalah yang terjadi mis komunikasi, tetapi sekarang sudah selesai.

Universitas Danau Toba

Universitas Negeri di kawasan Danau Toba, kalau bicara Sumber Daya Manusia (SDM), Lamhot menegaskan, masyarakat di sekitar Danau Toba, jujur, belum siap betul sebagai pelayan pariwisata. Termasuk, kesiapan pelaku wisata seperti biro perjalanan dan pegawai di hotel dan juga rumah makan. Untuk mengatasi masalah ini, dia mengusulkan didirikannya universitas negeri atau institut. Bila perlu namanya dibuat Universitas Danau Toba. Dalam rangka mewujudkan dan meningkatkan SDM sekaligus ekonomi mikro.  Memang sudah ada Institut Del di sana, tentu itu baik, tetapi daya tampungnya jelas terbatas. Apalagi itu swasta.

Lalu, mengapa dia usulkan perlu ada Universitas Negeri di sana? “Karena kita ingin ada lembaga pendidikan tinggi yang bisa menampung anak-anaknya agar jangan lagi kuliah ke luar daerah, apalagi antusias masyarakatnya sangat ingin bersekolah,” ujarnya. Selama ini Pantai Barat sangat tertinggal, karenanya sebagai anggota DPR RI dari Fraksi Partai Golkar yang terpilih dari Dapil Sumut 2, Lamhot ingin memberi peran maksimal untuk kemajuan Pantai Barat.

Mengakhiri wawancara dengan media ini, Lamhot berguman bahwa hidup adalah pilihan dan kesempatan. Karenanya, apa saja yang terjadi dalam kehidupan, tergantung bagaimana kita meresponinya. “Kita menjadi positif dan bahagia, atau negatif bersedih itu tergantung diri kita memilihnya. Tetapi menggunakan kesempatan tergantung kita bijaksana membuat pilihan. Seberapa mampu kita menggunakan kesempatan di setiap peristiwa hidup dan tak terlepas dari apa dan siapa kita di masa yang akan datang,” ujarnya memberi pesan moral. (Hojot Marluga)

Hojot Marluga

Belajar Filosofi Air

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 × 3 =