Darman Saidi Siahaan; Bersama NABAJA Mempersatukan Naposo Batak Jabodetabek

suaratapian.com-Masa muda adalah masa yang indah untuk dimanfaatkan dengan baik, dan untuk hidup lebih baik bagi diri dan sesama. Paling tidak itulah panutan Darman Saidi Siahaan, 45 tahun. Pria kelahiran Sei Rampah, Serdang Bedagai, 20 Maret 1977 adalah anak ketiga dari sembilan bersaudara. Darman Saidi Siahaan, Lahir dari pasangan St.Timur Siahaan (alm) dan R. boru Panjaitan (Ompu Binsar). Ayahnya seorang Sintua (Voorhanger). Keluarganya pedagang seperti ikan hasil tangkapan masyarakat dari persawahan dan rawa-rawa di sekitar kampung, juga memiliki pangkalan minyak tanah ketika itu, dan sembari bertani. Sejak SMP, Darman sudah aktif berdagang minyak tanah dengan mengayuh becak ke daerah Perkebunan Sei Parit-Sei Rampah. Daerah kelahirannya merupakan daerah yang multi etnik dari beragam suku dan agama. Namun di daerah perkebunan didominasi oleh suku Jawa, yang membuatnya berbaur dan fasih berbahasa Jawa, sementara desanya di Belidaan mayoritas suku Batak. Masih terkenang di hatinya kampungnya Sei Rampah kawasan toleran karena hidup berdampingan dan damai masyarakat dengan multi etnik.

Saat diwawancara, Darman menyebutkan, pendidikannya dari SD INPRES 106208 berlanjut ke SMP Negeri Sei Rampah (1989-1992), hingga lulus tahun 1995 dari STM Siloam, di kota Medan. STM Siloam menempa hidupnya dengan berbagai ilmu dan pengalaman. Tinggal di Asrama Gereja Siloam dan juga dipercaya sambil bekerja di Wisma Bethesda yang merupakan Group Yayasan Perguruan Siloam-Medan. Setiap Pagi Jam 05.00 kami sudah harus di Gereja untuk kebaktian, berlanjut membersihkan dan mempersiapkan Gedung Bethesda untuk siap digunakan untuk kegiatan Gedung Pertemuan termasuk mengatur Parkir di gedung.

“Makan makanan khas Batak sudah pastilah menu utama kami disana dari berbagai catering di kota medan dan melihat langsung dimasak di dapur Wisma Bethesda tersebut. Melihat dan mendengarkan berlangsungnya proses Adat Batak, Berteman dengan banyak rekanan gedung, dengan beberapa Group Musik dan artis, Dekorasi, Video Shutting dan lain sebagainya.  Terkadang ikut juga mencuci piring hingga menjaga parkir yang sering berkonflik dengan para preman sekitar. Semua itu adalah pengalaman yang luar biasa di masa sekolahnya,” demikian dia mengenangnya.

Lulus dari STM Siloam, sempat ingin tetap bekerja sambil kuliah di Kota Medan. Namun diputuskan untuk merantau ke Pekan Baru. Setelah sempat terlantar di terminal Pekanbaru lalu bergabung dengan para penebang hutan di pedalaman hutan Perawang, Duri. Enam bulan di hutan rimba membuatnya terkena Malaria Tropika hingga akhirnya pulang ke kampung. Lucunya, sesampai di kampung keluarga seperti tak percaya jika dirinya sakit. “Namun setelah melihat saya selalu menggigil kedinginan dan tak berdaya, akhirnya dibawa ke rumah sakit, dan dinyatakan perlu istirahat total dan harus ditambah beberapa kantong darah.”  

Saat wisuda Magister Hukum di Universitas Kristen Indonesia

Setelah pulih, kembali merantau ke Daerah Tanjung Balai, tepatnya di sebuah desa pesisir laut bernama Desa Simandulang, disana dia bergabung dengan lae-nya  bernama A Hong yang seorang Chinese dan berprofesi sebagai montir kapal nelayan. Beberapa bulan tinggal bersama para nelayan dan bos ikan di sana. Bila ada kapal mogok, dia dipanggil dari darat untuk memperbaiki. Di sana dia juga harus belajar menyelam. Misalnya, ketika baling-baling kapal itu ada sangkut, jaring terpaksa harus diselam berapa meter. Soal berenang dia sudah belajar sejak dulu di Sei Rampah. Beberapa bulan kemudian disana akhirnya Darman ditawari seseorang jadi montir metromini di Jakarta. Itulah awalnya ingin berangkat ke Jakarta.

Akhirnya jadilah dirinya diberangkatkan dengan sebuah acara makan malam dan doa di malam harinya bersama keluarga terdekat, sebelum esok dia ke Jakarta. Dibekali uang hanya empatpuluh ribu rupiah, dan tiket naik Bus Bintang Utara. “Sesampai saya di Pematang Siantar ternyata uang empatpuluh ribu lenyap. Saya memberitahu ke kernet bahwa saya kecopetan.” Kerneknya malah ketawa, lalu ditawari jadi kernet saja bersamanya, sehingga makannya selama dalam perjalanan menuju Jakarta bersama sopir dan kernek bus Bintang Utara tersebut. Tiga hari dalam perjalanan hingga tiba di Jakarta, 21 April tahun 1996.

Hojot Marluga

Hidup Belajar Filosofi Air

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *