Darman Saidi Siahaan; Bersama NABAJA Mempersatukan Naposo Batak Jabodetabek

Urung jadi pendeta

Namun karena alamat yang dituju tak ditemukan oleh pihak bus antar alamat di Jakarta, akhirnya pihak keluarga dari tulang (Paman) menyebutnya. “Tulang saya menjemput saya di terminal Rawamangun. Sesampainya di rumah tulang di daerah Johar Baru, Jakarta Pusat, bertemu dengan beberapa anak muda yang ternyata adalah saudara-saudara dari Bonapasogit juga tinggal di rumah tersebut.”  Tulang Drs. St. Meman Panjaitan/ Br.Siagian, seorang PNS pada Ditjen Pajak yang saat itu bertugas di Sulawesi dan juga seorang penatua di gereja. Di rumah tersebut lalu melakukan tugas tugas rutin membersihkan rumah. Kebiasaan sejak tinggal di asrama Siloam, masih melekat bangun subuh puku lima pagi dan doa pagi sembari menyanyikan lagu-lagu rohani menggunakan gitar yang kebetulan ada di rumah.  

“Seminggu kemudian tulang tiba di Jakarta, Tulang dan nantulang saya juga ternyata terbiasa bangun pagi pukul lima pagi. Esok paginya saya bergabung dengan nantulang di dapur untuk memasak, nantulang memulai perbincangan terkagum mendengar saya bernyanyi lagu rohani, dan mengatakan dalam Bahasa Batak, Ai hodo  na marende barusan nadiginjang i, Songon na tabo do endemu angka lagu gareja. Lalu dia jawan. “I do nantulang.” Dia kemudian meneruskan, “Sudah terbiasa demikian sejak dari Asrama,” jawab Darman.

Sesaat disumpah jadi seorang pengacara/advokat

Suatu ketika bincang-bincang dengan tulang dan nantulang, menanyakan apa cita-citanya, lalu Darman mengatakan, “ingin jadi Pendeta.” Tulangnya menimpali. “Suman do nian,” artinya “cocok memang” sambil tersenyum. “Lalu, tulang saya menyarankan,  mendaftar sekolah pendeta di Sekolah Tinggi Teologi Jakarta, yang belakangan dikenal Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Jakarta di Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat.” Langsung jawabannya oke. Esok harinya langsung ke Kampus menanyakan persyaratan dan persiapan selama tiga bulan. Hingga saya tiba pada Ujian Seleksi tahun 1997 yang diuji oleh sang dosen senior, dan Rektor ketika itu Prof. Jan Sihar Aritonang, Ph.D. Namun  sayang tak lulus seleksi masuk ke STT Jakarta tersebut. Tetapi pamannya tetap menyemangati agar dirinya menunggu seleksi tahun depan dan juga menawarkan masuk melalui sekolah Theologi di Malang atau Pematang Siantar.

Sambil menunggu seleksi Sekolah Pendeta tahun depan, Darman pun kemudian ditawari saudara untuk membantu jadi kernek bangunan selama dua minggu, kemudian jadi sopir taksi juga sopir angkot-19 jurusan Kranji-Cililitan. Saat itu Cililitan masih terminal. “Saya tabrakan di depan kampus Borobudur, akhirnya saya meninggalkan pekerjaan sebagai sopir angkot.’’ Oleh karena pekerjaan yang tak tentu, dia kemudian ditawarkan pamannya yang lain untuk jadi honor di Kantor Ditjen Pajak di Palembang,  tiga bulan di sana juga tak jelas kapan ujian seleksi honor menjadi PNS, hingga kembali lagi ke Jakarta bekerja di mana saja ada yang bisa dikerjakan termasuk membuka Cucian Motor di daerah Johar Baru. Urung jadi pendeta, tak jadi masalah. Hidup harus dilakoni dengan jalan lain.

“Tahun 2003 paman saya pindah tugas dari Palembang ke Jakarta. Saya menemui paman lagi dan menyatakan ide untuk membuka Usaha Ekspedisi, jasa Kurir Surat Khusus Kantor Ditjen Pajak, dan langsung direspon baik.” Atas ide tersebut menemukan muaranya dia kemudian mendirikan. “Saya mendirikan CV. Devina dan saya sebagai Direktur merangkap segalanya. Sambil dunia Usaha menyempatkan diri Kuliah di Fakultas Hukum, Universitas Bung Karno sejak tahun 2007 dan Lulus tahun 2011 bergelar Sarjana Hukum,” sebutnya lagi. CV.Devina berkembang hingga memilik ratusan karyawan. Saat ini CV.Devina telah berubah nama menjadi PT.DJAKARTA EKSPRESS INDONESIA dan masih menjadi rekanan instansi kementerian keuangan ditambah beberapa instansi lainnya termasuk Pemda DKI Jakarta.

Saat mendampingi masyarakat Natumingka menuntut haknya di Jakarta

Tahun 2008 dan 2009, Darman Siahaan pernah pula menjadi sorotan dan tampil di media media Batak, karena ketika itu kerap kali  membuat pertemuan para tokoh Batak, untuk menyampaikan idenya terkait menyatukan persepsi untuk suatu konsep agar orang Batak dapat menjadi Gubernur di Sumatera Utara dan ada peluang orang Batak jadi anggota DPD RI dari dapil DKI Jakarta, asalkan hanya satu orang saja yang maju mencalonkan diri. Namun forum pertemuan Kamisan di lapangan Golf Rawamangun tersebut malah mencalonkan Darman Saidi Siahaan sebagai Calon DPD-RI dari dapil DKI Jakarta. Dirinya kemudian maju dan masuk sebagai calon, namun bukan satu calon dari etnis Batak, nyatanya tak ada satupun calon dari etnis Batak yang lolos. Benarlah apa yang disebutkan Darman sejak awal, “bahwa tidak mungkin Orang Batak jika lebih dari satu orang yang maju menjadi calon.”

Darman aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan Habatahon serta berbagai organisasi. Keaktifannya di berbagai organisasi membawanya melihat banyak permasalahan, baik dalam organisasi mau pun usaha terkait masalah hukum. Atas dasar itu  Darman tertarik juga untuk menjadi pengacara. Setelah lulus kuliah hukum dia pun mengikuti Kursus Advocat (PKPA) dan diambil sumpahnya pada tahun Maret 2020 di Pengadilan Tinggi DKI Jakarta dan bergabung dengan PERADI SOHO (Prof. Otto Hasibuan). Darman juga menyempatkan diri melanjutkan jenjang pendidikannya dengan mengambil Magister Ilmu hukum pada Universitas Kristen Indonesia (UKI) hingga menyandang gelar Magister Hukum (MH) pada, 2 Desember 2021.

Bergelut jadi aktivis, termasuk di antaranya ikut mendorong pengembalian lahan Masyarakat Adat Batak, yang dikuasai PT.TPL (dahulunya PT.Indorayon). Atas upaya mengalang kekuatan, Darman bersama teman-teman menjumpai sejumlah tokoh nasional, termasuk menjumpai Ketua MPR Bambang Soesatyo, audieansi dengan DPD RI di Senayan, Kementerian Kehutanaan dan Lingkungan Hidup, hingga mendampingi Tim-11 yakni Togu Simorangkir dan kawan-kawan menemui Presiden Jokowi ke Istana Merdeka Jakarta.    Menyampaikan, bahwa Tanah Adat Masyarakat Batak di Bonapasogit telah dirampas melalui dalil Konsesi yang diberikan Pemerintah kepada PT Toba Pulp Lestari (TPL).

“Kehadiran TPL lebih banyak merugikan masyarakat dari pada manfaatnya bagi masyarakat dan kerusakan lingkungan di Kawasan Danau Toba. Sering terjadi konflik, kekerasana, penganiayaan, terpenjara, hingga kehilangan nyawa.” Karenanya, Darman meminta aparat Kepolisian agar jangan hanya bertindak keras kepada rakyat. “Sekalipun saya tak berdomisili di Tapanuli Toba sana, tapi hati saya menangis dan  saya kasihan melihat para orangtua yang tanahnya dirampas, dan menderita di Bonapasogit, diperlakukan oleh pemerintah melalui Aparatnya. Janganlah karena mendapatkan uang sogokan dari Penguasa dan pengusaha, hukum menjadi tajam ke bawah (ke masyarakat) tetapi tumpul ke atas yakni para perambah dan perusak hutan itu,” ujarnya.

Darman juga menambahkan,  berharap agar polisi menghormati dan melindungi martabat manusia dalam melaksanakan tugasnya, terutama dalam menangani konflik Masyarakat Adat Natumingka dan daerah lainnya dengan PT Toba Pulp Lestari Tbk (TPL). Hal ini tertuang dalam Pasal 10 Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia No. 8 Tahun 2009 tentang Implementasi Prinsip dan Standar Hak Asasi Manusia Dalam Penyelenggaraan Tugas Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Sebagaimana disebutkan dalam melaksanakan tugas penegakan hukum, setiap petugas/anggota Polri wajib wajib menghormati dan melindungi martabat manusia dalam melaksanakan tugasnya. “Jangan-lah terlalu keras-keras kepada masyarakat, kalaupun bawa pentung, jangan terlalu keras,” jelas pendiri LBH Naposo Indonesia ini.

Saat pelantikan sebagai aktivis gereja di GKPI

Kepedulian Darman pada Bonapasogit juga terlihat  saat ada malapetaka tenggelamnya kapal SINAR BANGUN di Danau Toba. Dirinya mengorganisir berbagai organisasi Batak mengadakan doa bersama di halaman parkir Kampus UKI, Cawang, juga bekerjasama dengan Persatuan Artis Batak Indonesia-PARBI di mana dia juga aktif disana. Di luar dugaan acara dihadiri belasan ribu warga Batak, dan diliput oleh berbagai media televisi dan media cetak nasional.

Darman melatih diri untuk selalu empati dan peduli. Soal kepedulian memang tak hanya isapan jempol. Bisa dilihat dari jejak digitalnya bahwa ternyata Darman Siahaan juga pernah melaksanakan Program Kursus Komputer Gratis bagi 2000 siswa di daerahnya di Sei Rampah. Tentang hal ini dia pernah menazarkan pada dirinya jika suatu kelak berhasil akan membantu kampung halamannya. Darman pokoknya selalu bergerak, aktif di berbagai komunitas. Sejak lama dia sudah aktif di Parsahutaon di Kramat Jaya, Johar Baru, Jakarta Pusat.  Kini pun dirinya didaulat menjadi Sekretaris Jenderal Persatuan Artis Batak Indonesia (PARBI) mendampingi Charie Willy Hutasoit sebagai Ketua Umum.

Darman Siahaan, memiliki prinsip hidup; Komitmen, Konsekuen dan Kosisten. Maka dengan organisasi NABAJA sikap itu terlihat. Komunitas lainnya sebagai tempat pelayanannya dan saat ini dirinya juga aktif di Badan Kerja Sama Pria GKPI Jabodetabek. Bagi Darman, dirinya ingin konsisten dengan apa yang dikatakan dan dilakukan. Mengutif apa yang pernah dikatakan Martin Luther, pada 28 Januari 1521. “Disini Aku Berdiri, Aku tidak bisa dan tidak akan menarik kembali apa yang telah kukatakan” Kiranya Tuhan menolongku. Amin.” Demikian kata Martin Luther di hadapan Sidang Kongres Kerajaan di Worms, sebuah kota di Jerman di tepi sungai Rhine.

Hojot Marluga

Belajar Filosofi Air

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

nineteen − 4 =