Erwin Sihite: Suara Rakyat Suara Tuhan, Patut Direspon sebagai Suara Ilahi

Suara Rakyat Suara Tuhan

Erwin tahu benar dukungan berbagai pihak itu penting dalam satu gerakan. Satu tugas besar berhasil bukan karena dikerjakan satu dua orang, tetapi karena peran dari banyak pihak, termasuk keberhasilan pemerintah karena cakap membangun kerjasama bersama rakyat. Hal itu dibuktikannya ketika membenamkan diri sebagai pelayan di gereja. Pengalaman itu juga dirasakannya, dukungan spontan yang diberikan sebagian besar jemaat yang dalam hitungan hari dapat terkumpul sejumlah dana untuk pemasangan kembali jendela gereja, hingga dana lebih.

“Kami imani sebagai campur tangan kuasa Tuhan yang mendengar doa & harapan setiap Jemaat HKBP Palmerah-Petamburan,” lagi, tulisanya ketika berhasil membantu perbaikan gereja. Lagi, pemikirannya suara jemaat sama dengan suara Tuhan. “Suara Jemaat=Suara Tuhan…. And to whom it may concern, dengarkan suara Jemaat jangan yang suara segelintir orang…. Tuhan berkati kita semua.”

Sekaitan itu, sebagai orang yang mempersembahkan diri pada wilayah lebih luas, Erwin sadar benar ungkapan di dalam politik; “Vox populi vox dei.” Di kalangan kaum terdidik istilah itu sudah cukup kuat untuk dipahami dan diresapi, istilah dalam bahasa Latin yang diartikan suara rakyat harus dihargai sebagai penyampai kehendak Tuhan.

Dengan kata lain, daulat rakyat tak akan terwujud hanya karena ungkapan romantik-retorik semata, tetapi digerakkan bersama dengan merasakan hati nurani rakyat, bahwa kekuasaan tertinggi ada di tangan rakyat, dengan perkataan lain, suara rakyat diidentikkan sebagai suara Tuhan.

Erwin berharap, ke depan diharapkan dapat lebih ditingkatkan kompetensinya untuk meningkatkan mutu pendidikan khususnya Humbang Hasundutan yang masih jauh dari berkualitas.

Erwin juga sosok reflektif, suka merefleksi kehidupan dengan merenungkan makna hidup. Dia kerap terkesan atas kalimat yang terangkai dibuatnya jadi filosofis. “Apa yang ada di hatimu itu adalah benih. Jangan dipupuk jika tak ingin ia menjadi subur.  Jangan disiram jika tak ingin ia menjadi tumbuh. Tekan dan tahan apa yang ada di hatimu itu agar dia menjadi layu, lalu mati perlahan. Agar akarnya tak melukai hati.  Agar gugur daunnya tak menyisa bekas apapun di hati. Sesederhana itu, kah?” “Ya, hanya sesederhana itu,” sebutnya.

Filosofis lain darinya. “Saya akan senang melihat apakah kita masih bisa berkomunikasi dengan lebih dari sekadar klik tombol like dan gif dan benar-benar saling menulis sesuatu.”

Baginya, memaklumi, memahami, menyadari, memaafkan, bukanlah berarti kekalahan. Karena rasa “mengalah” bukan berarti sebuah kekalahan. Rasa mengalah adalah perwujudan kasih sayang sejati. Bila kita masih menganggap hidup adalah “kalah-menang” saat itu kita berada dalam kekeliruan yang membuat kita tak pernah merasa menang.

Akhirnya, pemikirannya bahwa hidup harus terus menjadi ruang belajar, karena kehidupan ini memang universitas kehidupan, bahwa sesesungguhnya kita semua dibentuk oleh lingkungan kita.

“Seringkali, kita jarang menunjukkan diri kita yang sebenarnya karena pengaruh orang-orang di sekitar kita. Ketika kita belajar dan berani menunjukkan otentitas siapa diri kita kepada orang lain, kita merdeka dari belenggu yang terkadang mencekik dan mencegah kita untuk menggapai potensi yang terbaik dari diri kita, yang ternyata berdampak baik bagi sesama.” (Hojot Marluga)

Hojot Marluga

Belajar Filosofi Air

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

twelve + eighteen =