Ir. Janwar Lumban Gaol: Berkat Tak Selalu Materi Tetapi Kebahagiaan
Tetapi, itulah hidup, tak sengalanya mudah ditempuh. Kerap jalan berliku untuk sampai pada tujuan. Banyak hal yang mesti dilalui dengan jalan berkelok sebelum kemudian tiba di tujuan. Saat mendaftar pertama kali di ITB dirinya ternyata tak lulus seleksi masuk. Tetapi tak mau meratapi kenyataan itu Janwar kemudian teringat cita-citanya di masa kecil untuk jadi guru, maka jadilah dirinya mendaftar masuk ke IKIP Bandung. Puji Tuhan, dia diterima. Di sana bukan saja diterima tetapi juga mendapat beasiswa di sekolah yang sekarang telah berubah nama menjadi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Karena hasrat ingin lulus ITB, itu tetap terdengung di hatinya. Tahun depannya dia kembali menguji kemampuan dan mendaftar kembali ke ITB.
Syukur dirinya lulus. Diterima di ITB. Saat itu dia mengambil fakultas MIPA, yang sebelumnya mendaftar ke jurusan teknik. Oleh karena sudah setahun berkuliah di IKIP, hal itu diterusnya. Memang di masa itu masih boleh seorang mahasiswa kuliah di dua lembaga dan memilih jurusan yang berbeda. Jadilah dirinya kuliah di dua perguruan tinggi; IKIP dan ITB. Hanya saja, setelah dua tahun di IKIP, tak kuat lagi menanggung biaya. Sekolah yang mendidik calon guru itupun ditinggalkannya dan fokus berkuliah di ITB.
“Sebenarnya hanya persoalan dana. Abang yang menyekolahkan saya, sementara orangtua tak bisa membantu biaya sekolah, sebab hanya petani miskin. Meningat Abang sudah pun keluarga dan banyak tanggungan, maka di pikiran saya bagaimana saya berupaya untuk jangan membuat Abang jangan terlalu banyak beban, minimal saya membantu meringankan biaya saja,” kisahnya. Untuk menyingkapi kekurangan biaya, maka di pikiran Janwar timbul ide menjual kaos di kampus ke mahasiswa. Namun yang terbanyak keuntungannya dia juga membuat logo, gambar-gambar untuk kaos. Hasil gambarnya diserahkan ke pengusaha lokal untuk dibuatkan kaos. Tentu, dari idenya itu dia mendapat keuntungan lumayan, sepuluh persen.
