Ketua Umum Horas Bangso Batak (HBB) Lamsiang Sitompul, SH, MH; “Mungkin Saya Salah Tafsir, Keliru Tentang Kasih….Jangan Lupa Kasih itu Pun Mesti Bergerak Dinamis”
Kembali soal video yang saya sebutkan tadi, video itu sangat-sangat memiriskan. Dia yang berteriak di video itu pakai ornamen baju agama, dia menyebutkan, hal yang tak pantas. Kita negara hukum, bagaimana kita dari segi hukum ini, harus dilaporkan sebenarnya ini…
Setuju harus dilaporkan. Saya contohkan iya, dulu ada beberapa kasus, boru Manullang yang dipersekusi karena Lapo Tuak, iya kan. Ada dulu Siregar dan Sibarani mereka melawan kelompok-kelompok intoleran. Jadi Siregar dan Sibarani ini adalah pegawai rumah sakit di Siantar. Perkaranya, ada pasien perempuan meninggal karena Covid-19. Lalu disuruh dia mandikan yang meninggal, dia enggak mau, takut.
Lalu, disuruh panggil perempuan-perempuan untuk memandikan. Lalu teken. Tetapi ternyata itu disebut penistaan agama, keduanya ditetapkan tersangka karena penista agama. Lalu, saya membuat konprensi pers menyebut, Kejaksaan harus menghentikan itu. Siaran pers pagi-pagi, sore sudah dihentikan perkaranya oleh Kejaksaan. Hal seperti itulah yang kita harus bersatu. Jangan juga saya minta bersatu, kemudian cuma diam duduk berdoa. Apa sekarang doa bisa dikabulkan kalau enggak kita berusaha?

Kasus meninggal Yosua Hutabarat, bagaimanapun kita ikuti perkembangan. Salah satu yang konsisten mengawal adalah Horas Bangso Batak. Tentu kita tak menapikan banyak orang yang peduli, tetapi tidak boleh melupakan peran yang lain, masing-masing ada peran. Terkait, itu kasus Yosua menjadi momentum, apa himbau agar kita juga saling sinergi?
Saya pikir kejadian Yosua Hutabarat yang pertama menggugah kita, dan tak berhenti disana. Saya mau katakan yang namanya berjuang tak mesti semua berada di garis depan. Tak harus. Berjuang berjuang melawan dulu Belanda bukan harus yang membak itu berjuang. Karena masing-masin ada peran. Ada yang masak nasi. Ada perempuan di palang merah, ada yang mengasih bekal persenjataan.
Sebenarnya ini pukulan telak bagi orang-orang yang banyak duit, banyak duit malah menghambur-hamburkan. Pesan saya, jadilah saluran berkat. Kalau bapak ibu ada berkat, tak harus ikut demo di lapangan, tetapi bagaimana masing-masing punya peran. Yang bergiat di media memainkan perannya. Pengacara tampil menjadi pengacara. Kita harus merangkul. Tentulah mudah-mudahan kasus Brigadir Yosua ini menyadarkan kita. Jangan lagi sesama orang Batak kita bertengkar. Intinya kita harus berani bersuara.
Saya kira Horas Bangso Batak sudah berperan. Memainkan perannya. Tetapi bagaimanapun kita harus juga berani. Selama ini kan personal-personal orang Batak hebat. Tetapi sulit bersatu…
Benar. Terkadang karena ego. Termasuk saya-lah, iya. Kadang-kadang merasa superior tak membutuhkan orang lain. Padahal sudah saya katakan, bahwa semua punya peran. Tak mungkin perannya sama semua. Itu sebab kita sebutkan Horas Bangso Batak, siapa pun bisa bergabung. Baik pengacara, jurnalis dan profesi apapun semua masuk di sini.
Dalam pengamatan saya, orang Batak ini baru tersadar punya ormas, padahal dulu teman-teman kita di suku-suku lain sudah banyak bergiat di ormas. Barangkali Horas Bangso Bataklah ormas yang menggugah kepedulian kita terhadap suku kita?
Teori dari kelompok sebelah. Sebenarnya yang jahat jahat itu tidak banyak, tetapi bersuara kencang. Mereka terorganisir versus jutaan orang baik yang diam. Lebih bagus lima orang tetapi terorganisir dan militan daripada jutaan yang diam.
Orang Batak 15 juta loh lebih kurang di Indonesia, kalau masuk anggota ormas 10 % saja, satu setengah juta. Kalau kumpulkan di Senayan sana satu setengah juta sudah sama banyaknya dengan kelompok 212. Kan, kalau Presiden akan ngomong, kalau cuma modal banyak itu juga orang Batak bisa banyak.
Sebenarnya, sejak dulu banyak persatuan atau organisasi Batak, tetapi yang berbentuk ormas yang berbasis massa ini fenomena baru di orang Batak. Sekarang ada HBB. Ada PBB. Ada FBI. Ada KIB. Ada KPB dan yang lain. Seperti apapun organisasi berbasis Batak saya tetap mengapresiasi. Saya tetap dukung. Dan memang lebih bagus lagi kalau kita bekerja sama, bersinergi, bersatu. Tidak mesti dalam satu atap. Ada BATAK CENTER misalnya yang mengusi budaya.
Saya kira tidak kebetulan kalau Horas Bangso Batak punya seragam putih, yang dasarnya putih. Ini harus jernih, putih suci berjuang, tapi kan perjuangan juga harus berani, bagaimana kita juga jangan takut di lapangan. Tentu bukan untuk bertengkar, bukan untuk berperang tetapi keberanian menegakkan kebenaran…
Mungkin saya salah menafsirkan, keliru. Tetapi, mohon maaf ini, kalau bapak ibu mengatakan, karena kita Kristen mengatakan, pokoknya menghindari konflik. Padahal kalau kasih itu juga harus bergerak.
