Ketua Umum Horas Bangso Batak (HBB) Lamsiang Sitompul, SH, MH; “Mungkin Saya Salah Tafsir, Keliru Tentang Kasih….Jangan Lupa Kasih itu Pun Mesti Bergerak Dinamis”
Kembali tadi, ungkapan Anda diawal menyebut bahwa memang bukan kita minoritas, sudah sebut tadi bahwa memang suku terbesar di luar pulau Jawa yaitu Batak. Kita juga jangan lupa. Ada 50 pusat gereja di Sumatera Utara dari 320-an sekian Sinode yang terdaftar di Kementerian Agama, Bimas Kristen. Artinya gereja juga harus bersuara?
Iya dong. Tak apa-apa lah gereja tersinggung, tetapi tersinggung untuk makin lebih baik. Gereja tak berbuat apa-apa soal intoleransi. Saya bisa buktikan, gereja manapun yang ada bidang penanggulangan toleransi dan radikalisme? Tak ada gereja yang peduli soal itu. Tunjukkan sama saya ada gereja yang anggaran tersedia untuk pelayanan ini. Kalau HKBP fokus kepada pendidikan. Oke. Mungkin saya terima. Kenapa ada bidang pendidikan di situ ada, mereka dirikan kampus peduli kesehatan, mereka dirikan Rumah Sakit Balige.
Lalu, kalau peduli terhadap intoleransi atau radikalisme, bentuk dong bidang di situ. Kalau bikin cuma dari kolektif contohnya, bikinlah kolektif itu biar ada anggaran. Konflik-konflik yang melanda gereja sangat banyak, terutama HKBP. Saya bukan fungsionaris di HKBP. Namun ada beberapa perkara tentang HKBP kita ikut menyelesaikan. Ada HKBP di Binjai. Saya ada rekan Ustad Martono. Ustad nasionalis. Dia mengadvokasi. Di Batam, di Rancaekek di Bandung.
Saya ikutin, ini saya ikutin ini terus, kemarin sudah di Cilegon. Sekarang lagi Cilegon. Jadi saya juga sudah wa Pak Pendeta Marbun. Lalu dia bilang akan membicarakan dengan panitia. Saya nggak dihubungi lagi. Kita tentu bukan untuk berbuat konyol. Tentu jangan berjuang konyol. Orang jangan emosi semata, kita harus butuh strategi. Tentulah kita butuh strategi. Lagian, kan legal standing siapa? Di situ ini harus kita bertitik tolak dari gereja. Nanti kalau umpamanya atas nama orang Batak, saya bisa lanjutkan pelapor yang orang Batak yang merasa di situ ketakutan.
Kita lihat contohnya, seorang jenderal yang punya kuasa yang, sangat besar kuasanya tumbang juga dan apa yang terjadi, justru mendapat simpati dari masyarakat luas. Maka, dalam kasus-kasus intoleransi, sebenarnya pelaku-pelaku intoleran itu tak banyak. Justru yang paling banyak orang-orang yang toleran, tetapi diam, nggak bergerak. Setidaknya kita bergerak. Sebenarnya banyak yang membantu kita. Sebenarnya, saudara-saudara kita umat Muslim itu hanya sebagian kecil yang seperti itu, yang banyak orang yang toleran.
Saya kebetulan anggota forum pembauran kebangsaan Sumatera Utara yang kawan-kawan saya banyak yang muslim. Sebenarnya mereka nggak suka dengan cara-cara seperti itu, tetapi lagi, kita harus yang bergerak. Ketika kita bergerak dengan sepenuh hati, yakinlah mereka pasti membantu. Lagi-lagi, saya ingatkan lagi, justru yang kadang membuat kita miris juga tokoh-tokoh kita, menyebut misalnya, iya kita tahulah tahu diri lah. Kita minoritas.
Padahal faktanya, kan kita bukan minoritas. Saya melihat dari perspektif hukum, mengatakan, ketidakadilan itu makin merajalela kalau korbannya pun sudah menikmati. Pejabat-pejabat di negara ini banyak, gitu loh. Umpamanya di Kementerian contoh, kita terlalu rendah diri bukan rendah hati. Sebenarnya kalau dari segi pangkat pengalaman, kemampuan secara umum dia mulai jadi Kadis, tetapi karena merasa begitu inverior justru makin kuat melegacykan, kita posisi lemah. Contoh lain pencalonan Listyo Sigit jadi Kapolri. Banyak yang menyebut, tak mungkin Kristen jadi Kapolri. Ternyata bisa kok.
Kemarin HKBP merayakan 161 tahun berdiri. Artinya orang Batak sudah sejak dulu ada di bangsa ini, jauh Indonesia ada. Artinya kita bukan penumpang atau nomor dua di negeri ini….
Iya benar. Sejak Budi Utomo ada, orang Batak sudah berperan. Tahun 1928 saat Sumpah Pemuda. Sudah ada orang Batak di sana. Sudah ada Jong Batak. Iya. Jadi orang Batak jadi garda terdepan, tentu dengan suku dan elemen yang lain untuk memperjuangkan NKRI.
Artinya, boleh dikata orang Batak memang berkiprah di negara ini, dan secara komunal dan secara personal banyak, ada saja, tetapi bukan atas nama Batak. Saya kira seperti momentum ini perkara Yosua jadi kita semacam kita sekarang tersadar, bahwa kita perlu militan begitu, dan tidak lagi kita tersekat-sekat membeda-bedakan. Apa pendapatnya?
Masalahnya terkadang kita menganggap diri kita paling benar, yang lain kurang benar, organisasi kita ini paling benar. Organisasi lain gampang. Jadi sekarang, kita hindari. Saya berharap orang-orang Batak bersatu, ormas-ormas bersatu. Marsoba sampulu jari-jari pasampulu sada simajujung. Jangan kita terpisah-pisah-tersekat-sekat. Tetapi kenyatan karena marga-marga juga kita sepertinya itu. Sulit bersatu.
Kesadaran kita kadang-kadang membangun narasi kita lebih dari mereka, kita memang merasa di atas mereka. Jangan lupa setiap orang ada masanya. Ada plus minusnya. Kalau sekarang jenderal, tak mungkin seterusnya jadi jenderal. Maka himbauan saya, pada tokoh berilah ruang membantu generasi mudah. Jadi dengan begitu terjadi estafet kepemimpian. Terjadilah tongkat estafet generasi baru.
Mungkin barangkali ini momen untuk kita bersuara Horas Bangso Batak bersuara, dengan video yang kemarin viral, yang sangat rasis itu. Kita bersuara juga untuk polisi agar jangan takut itu harus ditangkap pelakunya?
Begini. Dalam teorinya sebenarnya ada delik umum ada delik aduan. Delik umum artinya polisi bisa bertindak tanpa ada pengaduan, delik aduan harus ada pengaduan dari orang yang merasa dirugikan, tetapi dalam praktek biasanya tunggu orang ribut dulu baru polisi bekerja. Ini yang terjadi di perkara Ferdy Sambo.
Saya berharap melalui podcast ini, iya polisi bertindak sendiri dong. Tetapi kalaupun tidak bertindak, ormas Horas Bangso Batak akan melaporkan orang ini. Sudah tentu yang melaporkan itu bekerja sama gereja, karena kan asal muasalnya dari gereja. Jangan nanti pula kita lapor pihak gereja tak setuju dan ketakutan, justru kita diserang balik.
Karenanya, orang Batak jangan kita ketakutan. Bukan kita super, iya tapi kita sadar diri anak bangsa juga, pendiri bangsa ini. Dan yakinlah bahwasanya juga banyak teman-teman kita yang muslim yang mau membela kita dalam memperjuangkan kebenaran. (HM)
