Pdm. Bernat Ndawu, S.Th: Mantan Aktivis yang Tetap Kritis

Memilih jadi pendeta

Lalu ditanya, kenapa kemudian memilih jadi pendeta, tak meneruskan jadi aktivis? Sebenarnya, jauh sewaktu masih sekolah di SD Negeri 1 Tanasumpu Morut, lulus tahun 1988 dan SMPN 1 Lembo Morut, lulus tahun 1991 dia sudah bercita-cita jadi pendeta. Tetapi memang, sejak sekolah SMA Kristen Poso, lulus tahun 1995, dia kemudian tak begitu tertarik lagi jadi pendeta. Hanya saja karena dorongan orangtua dia akhirnya kuliah ke STT Doulos Jakarta, lulus tahun 2001.

Lebih fokus jadi aktivitas, begitu panggilan awal untuk menjadi pelayan Tuhan, atau menjadi pendeta. “Tahun 2007 sejak saya menikah memilih fokus jadi pelayan Tuhan. Saya putuskan tahun 2008 untuk mulai berhenti jadi aktivis dan memilih jadi hamba Tuhan, menjadi pendeta.” Saat ini dia dipercayakan Gembala Cabang GBI Victory Taman Royal Tangerang.

“Berjalannya waktu, setelah saya SMA sebenarnya cita-cita mulai berubah, bukan lagi ingin jadi pendeta tetapi ingin lanjut kuliah di perguruan tinggi, entah itu negeri atau swasta dengan jurusan hukum atau ilmu sosial politik. Tetapi ternyata orangtua tak setuju. Orangtua tetap menginginkan saya sesuai dengan cita-cita awal, masa kecil untuk melanjutkan sekolah tinggi teologi.”

Awalnya kuliah di sekolah tinggi teologia hanya karena menyenangkan hati orangtua. “Waktu saya lulus SMA, iya saya boleh dibilang sedikit dipaksa untuk masuk sekolah teologi. Iya saya pikir sekedar menyenangkan hati orangtua, tetapi ternyata waktu saya kuliah, mulai kuliah tahun 95 di STT Doulos Jakarta, di sana saya mulai merasakan bahwa saya terpanggil untuk menjadi hamba Tuhan.”

Bernat ketika di DPR memberi pendapat

Ndawu banyak mengecap pengalaman jadi aktivis. Pengalaman sebagai aktivis dia sadari juga sebagai ladang pelayanan, namun toh dia milih meninggalkan dunia aktivis. Sebagai mantan aktivis dia berharap, sebagai orang yang pernah menjadi aktivis, agar para aktivis muda terus menggelorakan spirit berjuang. “Saya percaya betul bahwa generasi muda atau mahasiswa-mahasiswa di bangsa ini adalah masa depan dari gereja, masa depan dari bangsa ini. Sejak dari masa mereka mahasiswa, dari setiap masa, mereka muda sudah bergerak dalam kegiatan-kegiatan sosial menjadi modal penting kelak menjadi seseorang. Ketika nanti mereka jadi orang-orang penting di bangsa ini.”

“Saya juga berpikir bahwa dunia politik dunia sosial politik itu juga banyak orang-orang yang takut Tuhan. Di sana ada orang-orang yang memiliki hati, yang kayak gitu, bukan hanya sekedar pencitraan, bukan hanya sekedar apa namanya idealisme. Memang terlalu banyak kenyataan yang kita lihat, pada saat belum jadi apa-apa idealismenya bagus, tetapi nanti setelah punya jabatan jadi pejabat di lembaga-lembaga tinggi negara, idealisme luntur,” sebut Ndawu.

Dirinya berpengalaman di banyak organisasi. Sebutlah pernah menjadi Koordinator Departemen Pendidikan Kader dan Kerohanian BPC GMKI Jakarta 2000-2002. Koordinator Wilayah 3 (DKI, Jabar) PP GMKI 2004-2006, Ketua Bidang Aksi dan Pelayanan PP GMKI 2006-2008. Ketua Panitia Konsultasi Nasional GMKI tahun 2008, Ketua Pemuda dan Mahasiswa Poso-Morowali di Jakarta 2002-2006. Koordinator Poso Morowali Watch 2005-2009.

“Saya cukup mengidolakan Basuki Cahaya Purnama, terlepas dia punya kekurangan dan kelebihan. Sejak dulu dia bukan aktivis di organisasi mahasiswa, namun dengan konsistensi dia betul-betul sosok Kristen di bangsa ini. Saya berharap banyak lagi sosok seperti Ahok yang berjuang dari kita orang Kristen di bangsa ini, untuk menjadi garam dan terang di pentas nasional,” harap, Pengurus Yayasan Jendela Harapan Indonesia, ini. (Hojot Marluga)

Hojot Marluga

Belajar Filosofi Air

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

14 − 13 =