Pdt. Banner Siburian, M.Th, Calon Sekretaris Jenderal HKBP; Perjalanan Jauh Melayani 30-an Tahun di HKBP Menuju Pengelolaan Keadministrasian ‘Data yang Tertata’ Lebih Baik
Selain itu, dibuat juga gerakan satu orang satu Alkitab. Dampaknya, banyak dari wilayah lain membantu mengirimkan Alkitab, termasuk sepeda motor untuk disumbangkan.
Di Kalimatan dia juga menggagas dibuat distrik center. “Saya memahami bahwa ke depan bahwa pergerakan manusia di negeri ini tidak lagi di Sumatera dan Jawa, tetapi akan ke Kalimantan. Maka HKBP perlu menyikapi dengan menyiapkan prasarana yang ada, oleh karena itu dia bertemu dengan gubernur untuk membicarakan distrik center.
Gagasan dan pemikirannya itu disampaikan kepada Gubernur Kalimantan Timur, Awang Faroek Ishak. Distrik sendiri memiliki dua lahan, masing-masing 3 hektare dan empat hektare, dan gubernur sendiri lewat pemerintahannya menyumbangkan 2 milliar rupiah untuk Distrik Center ini dan dibangun kantor dan aula.
Lagi, di kepemimpinannya di distrik Kaltimsel juga membawa efek besar pada kemajuan pelayanan. Demikian juga saat pengantian ephorus, dia juga masih dipercayakan pareses di Distrik XIX Bekasi. “Sesungguhnya saya selalu siap mental untuk melayani diberi penungasan apa pun. Sebab bagi saya melayani itu harus total dan ihklas. Tohk saya sebelumnya juga selama 17 tahun hanya sebagai pendeta pembantu, jika tetap jadi pendeta jemaat kembali saya sudah siap mental,” ujarnya.
Membangun Persahabatan Lintas Agama
Dia selalu tekun membangun persahabatan dengan saudara lintas iman, namun baginya persahabatan tidak melupakan objektifitas. Oleh karena itu, dirinya pun siap memberi masukan yang selalu membangun, tentu dengan bahasa-bahasa yang pantas dan patut termasuk kepada pemimpin.
Setelah dipercayakan kembali sebagai praeses di Bekasi, dia merasa bahwa perbedaannya sungguh berbeda dengan praeses di Kalimantan. Sudah tentu perbedaannya ada dinamika, alam dan masyarakatnya berbeda. Di Kalimantan misalnya, amat jarang dihadapi penolakan warga, berbeda di Jawa Barat, khususnya di Bekasi bahwa dinamika itu kentara sekali.
“Saya merasakan bahwa nilai-nilai pluralistas itu lebih terjaga di Kalimantan dibandingkan dengan di Bekasi. Satu contoh misalnya, saya tidak pernah sulit untuk berjumpat dengan RT dan RW, bahkan aparatur yang paling tinggi sekali pun. Tetapi, di Bekasi kesulitan itu terasa sekali, tidak mudah untuk mendekati para aparat di bawahnya.”
Menyadari hal itu, maka dia pikir tidak mungkin diterapkan seperti yang di Kalimatan. Dia pun punya kiatnya, “Pluralitas itu sudah terbangun dengan baik, maka pembangunan gereja akan terbangun dengan sendirinya, hal ini kebutuhan mendasar bahwa hubungan ini harus intens dilakukan.”
“Saya kira memang membangun hubungan yang kokoh itu harus dimulai dari saling membantu, saling empati, membangun silaturahmi yang intens dan terus berusaha untuk kebersamaan. Untuk bisa diterima, kita harus membangun nilai-nilai saling percaya, rasa curiga itu harus disingkirkan, jangan mereka merasa terancam oleh kehadiran kita,” kiatnya lagi.
Artinya, kehadiran gereja tidak menjadi batu sandungan kepada masyarakat setempat, tetapi menjadi berkat. Tentu, tidak ada juga gunanya juga para pendeta pintar berkhotbah, padahal soal implementasi membangun hubungan dengan warga setempat nir sekali. Kuncinya adalah saling membangun kepercayaan. Bahkan, HKBP sendiri menganut moto ini; insklusif dialogis dan terbuka.
Spirit ini tentu bukan hanya slogan. Bukti konkrit yang dikatakannya, misalnya, di tempat tinggalnya di Pulo Gebang, Jakarta Timur, dia ingin menghilangkan pemikiran dari segelintir warga yang menganggap bahwa para pendeta itu tertutup.
Maka, setiap ada rapat RT di wilayahnya itu Banner selalu menyempatkan diri hadir sebagai peserta, barangkali hanya mendengar, tetapi bisa merasakan suasana batin dari pada warga, bahkan, rapat amat sering digelar di aula masjid, dan dia hadir untuk menunjukkan bahwa orang Kristen tidak alergi akan hal itu. Bahkan, dia dipilih menjadi seksi kerohanian di tempat dia berada. “Kita mau tunjukkan kepada saudara kita, sebenarnya bahwa kita juga sangat terbuka,” jelasnya.

Tahun 2019, rombongan dari Praeses HKBP XIX Bekasi, dipimpin Pendeta HKBP Banner Siburian menggelar pertemuan dengan pengurus PBNU dipimpin KH Marsudi Syuhud saat itu sebagai salah satu ketua PBNU, sekarang Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (Waketum MUI). Pertemuan bersama PBNU tersebut bersama-sama membicarakan soal bangsa, menjaga dari perang siber, berjuang untuk Indonesia. Berjuang untuk mewujudkan ikhtiar perdamaian. NU sadar mewujudkan perdamaian tidak hanya di Indonesia, bahkan di seluruh dunia jadi tanggung jawab bersama-sama. “Monggo apa yang bisa kita lakukan. NU terbuka 24 jam. Jadi tidak hanya sekedar ketemu begini ini formal saja, mau belajar bareng untuk hidup lebih baik.”
