Pdt. Banner Siburian, M.Th, Calon Sekretaris Jenderal HKBP; Perjalanan Jauh Melayani 30-an Tahun di HKBP Menuju Pengelolaan Keadministrasian ‘Data yang Tertata’ Lebih Baik

Setelah ditahbiskan menjadi pendeta untuk sesaat lagi menjadi pendeta di HKBP Pamela, dan kemudian dipindahkan ke HKBP Palembang menjadi pendeta mahasiswa. Saat itu, HKBP Palembang menyiapkan satu rumah diperuntukkan untuk tempat membina para mahasiswa yang kebetulan sekolah di Palembang dari wilayah lain. “Mereka tinggal bersama saya di rumah. Jadi, sudah semacam anak asuh saya, mereka misalnya tidak ada ongkos, belum datang kiriman orangtua dan macam-macam kesulitan yang dihadapi mahasiswa.”

Dia menjadi bapak pengasuh bagi mahasiswa, khususnya yang sekolah di Indrajaya dan di Universitas Sriwijaya, bahkan di Indralaya dibuat pos khusus pelayanan untuk mahasiswa. Beragam aktivitas mahasiswa digelar di sana, termasuk diskusi-diskusi internal tentang kehidupan yang dibuat di pos ini.

Dalam suasana pelayanan seperti itulah dirinya bertemu dengan perempuan tambatan hatinya, Damaris boru Siagian, yang kemudian hari menjadi istrinya. Perempuan tersebut adalah putri dari sintuanya di HKBP Kartini, Tebing Tinggi. Sebenarnya, kedua sudah pernah berjumpa, saat itu sudah ada bibit-bibit cinta, tetapi belum berani dia ungkapkan.

Si gadis waktu itu sudah guru di Sumatera Utara, hanya saja mau menjumpainya di Palembang, berhubung kakak si gadis ada di Palembang. Perjumpaan itu yang meneguhkan hati keduanya meneguhkan cinta yang dalam, komitmen mendirikan mahligai rumah tangga. Di Palembang keputusan menikah dibuat, namun pemberkatan nikah dilangsungkan di HKBP Kartini, Tebing Tinggi.  Selesai pernikahan kembali melanjutkan pelayanan di HKBP Palembang. Puji Tuhan, setahun kemudian dianugrahi anak sulung, diberi nama Karen Hotasi Siburian lahir.

Tak berapa lama lagi melayani di HKBP Palembang, Banner kemudian ditugaskan ke HKBP Maranatha Rawalumbu, Kota Bekasi. Saat itu, gereja ini belum menjadi resort, masih pagaran dari HKBP Rawamangun. HKBP Rawalumbu sendiri masih dalam pergumulan untuk membangun gedung yang saat itu masih berlantai tanah.

Di Rawalumbu ada banyak kisah suka duka, banyak dinamika terjadi, termasuk ada segelintir tetangga tidak setuju pembanguan gedung ibadah. Bahkan, ada satu kisah yang luar biasa, sebelumnya gereja yang sekarang, sempat dirubuhkan tetapi altar dan salibnya tak roboh.

Salah satu tugas yang dilakukannya di HKBP Rawalumbu adalah penataan administrasi jemaat. Namun, di cela-cela kesibukan pelayanan, dia juga melatih kembali menimba ilmu teologia dan mendaftar menjadi mahasiswa S2 di program magister teologia di STT Jakarta dibawah bimbingan dosen Dr Daniel Susanto.

Dalam suasana yang demikian, sebagai seorang kelapa keluarga, juga pemimpin jemaat sembari juga membagi waktu untuk kuliah untuk membekali diri. Bahkan, di tengah-tengah kesibukan yang ada dia juga tetap menambah ilmu dia, masih juga menyempatkan diri untuk menulis. Selain menulis renungan di kertas warta gereja, dia juga aktif menulis buku.


Secara Teologis Kita Menantikan Waktu Tuhan; Yakin Terpilih Pemimpin Terbaik HKBP di Sinode Godang

Sebenarnya, soal menulis dirinya sudah lama membebat diri menulis, bahkan berkali-kali muncul artikelnya di kolom opini koran SIB, majalah internal HKBP Immanuel dan Suara HKBP. Termasuk goresan tangannya kerap muncul di buku-buku kumpulan renungan HKBP terbitan Pematang Siantar.

Dia memahami sekali, bahwa kadang kalah khotbah bisa tertolong oleh karena sampiran dari tulisan renungan yang ada di warta. Artinya, jemaat bisa makin dilengkapi dari khotbah oleh tulisan-tulisan itu. Selain itu, menulis baginya, menolong untuk makin memperlengkapi dan lebih dalam menjelaskan firman Tuhan kepada jemaat. Selain itu, menulis baginya mengasuh cara berpikir yang struktur.

“Saya pahami bahwa menulis adalah memudahkan yang sulit menjadi mudah dipahami. Jadi, penulis yang hebat adalah jika mampu menyederhanakan yang sulit menjadi mudah dipahami. Intinya, bagaimana menyenderhanakan pokok-pokok yang berat menjadi mudah dipahami. Baginya, tugas penulis jaman ini, bahwa yang sulit dipahami jadi dibuat mudah dipahami.

Ketika melayani di HKBP Maranatha Rawalumbu Tuhan tambahkan anugerahNya, lahir anak kedua, ketiga dan si bungsu. Masing-masing anak pertama, Karen Hotasi Siburian, anak kedua, Carlos Tua Siburian, anak ketiga Kaisar Siburian dan anak keempat Ebenezer Siburian. “Kami beri nama Ebenezer ini, karena dulu kami kira sudah hanya tiga anak saja, tetapi Tuhan tambahkan satu anak lagi.”

Memang, dia menikah sudah tergolong di umur matang, dan bersyukur diberikan Tuhan istri pendampin yang kokoh menopang tugas pelayanannya. “Saya menikah di umur 35 tahun, sementara istri sudah berumur 30 tahun. Inang sendiri sebagai seorang mantan guru memiliki kemampuan yang mendidik anak. Jadi, saya kira bahwa cara mendidik sudah pasti lebih baik dalam mendidik anak-anak,” jelasnya. Di kemudian hari istri berhenti mengajar di sekolah dan fokus mendidik anaknya.

Sebenarnya, waktu menikah, dia dan istri sepakat untuk juga tetap melayani sebagai guru, tetapi berhubung kondisi yang demikian tidak memungkinkan, mengajar sembari menjadi ibu rumah tangga, maka dirinya mempersilahkan agar istrinya untuk hanya mendidik anaknya. “Saya katakan pada istri waktu itu mendidik satu anak juga tidak kurang nilainya menjadi pendidik di sekolah dengan ratusan anak,” jelasnya.

“Kami sepakat inang kemudian berhenti untuk mengajar di lembaga pendidikan tetapi fokus mendidik anak-anak di rumah. Bahwa, mendidik anak di rumah tidak lebih rendah mendidik anak di sekolah…”

Hojot Marluga

Belajar Filosofi Air

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

one + 6 =