Proses Kreatif Robert Marbun; Pengarang Lagu ‘Gadis Melayu’ Itu Selalu Pegang Pensil, Sebelum Tidur Wajib Ngobrol

Soal kepekaan rohaninya, mengarang lagu tentang kesadaran kematian menjelang meninggal. Bisa dicerikan proses penulisan lagu, itu?

Nah, itu lagu guyonan, kalau menurut dia sebelum almarhum meninggal lagunya juga viral di YouTube. Dia menyanyikan beberapa lagu rohani termasuk karena kepasrahan, tiba gilirannya. Katanya, karena teman saya sudah pergi satu-satu, pertama itu Binsar Silalahi. Waktu itu saya marah ketika dia menciptakan lagu itu.

Sebelum Binsar Silalahi meninggal, mereka bertemu untuk membicarakan satu hal, waktu itu pak Binsar, jadi Ketua Asperindo. Binsar Silalahi pencipta lagu dan produser. Jadi, ketika mereka bertemu, mereka itu mau ngobrol, bagaimana sistem pembagian royalti. Jadi waktu dia menciptakan lagu itu dibayangkannya Binsar Silahir, dibayangkan Asito Situmeang meninggal, lalu Sastro Marbun.

Saya marah dia menciptakan lagu itu. Jawabannya pada saya, “Kalau tak saya yang menciptakan, siapa lagi. Jikalau pun nanti ada acara-acara yang untuk yang meninggal biar kita ingat bahwa kita itu akan menyusuri, semua akan kembali pada Dia. Nyatanya, semua orang nggak ada satu orang pun artis yang mau menyanyikan itu.

Karena tidak ada yang mau, nggak mau, makanya dia yang merekam sendiri. Dia menyanyikan sendiri dibisikkannya sama egois waktu itu sampai begini dinyanyikan karena pendeta ada di sini pendeta kamu juga bersisi pendetanya sama yang sudah mengenal firman Tuhan sepertinya belum siap mendengarkan karena kata-kata itu.

 Aduh, terlalu! Bagaimana bisa menerimalah. Kalau masih bisa kita panjang umur. Dia benar-benar seperti di kuburan. Saya memang nggak sadar itu. Ketika syuting saja itu pikirkan selama ini benar-benar dia sudah siap untuk memang sudah waktunya. Waktu dia sakit sebelum meninggal dia katakana jangan takut. Kalau papa tak ada lagi, semua kalian jual. Pokoknya nggak ada uang kalian semua jual.

Seniman ini kan ekonominya nggak jelas, tepatnya ngga tentu. Bisa tiba-tiba ada rezeki besar, itulah seniman. Bagaimana menyikapi keadaan yang demikian?

Sekali punya rezeki, rezeki Harimau. Sekali tipis rezeki tikus. Saya tetap hidup di dunia saya. Saya tidak mau tergiur oleh kehidupan artis. Kalau dia lagi banyak duit saya minta tetapi saya tabung. Saya tahu pasti ada pacekliknya, karena seniman ini kan tidak melulu berfokus selalu ada di rumahnya Januari Februari Maret April Mei itu paceklik.

Pasti kosong. Ketika rezeki tikus saya keluarin dikit-dikit, gaji saya ini biar sedikit inilah kami makan. Selama paceklik lalu biar cuma makan tempe tahu gembul dapur ini tak minjam kiri kanan. Itulah yang saya lakukan. Terus kalau masalah rumah ini saya pribadi memulai. Saya tetap di tempat saya, dia yang artis bukan saya.

Sekarang saya bertanya ke generasi penerusnya, kebetulan profesi pengarang agak mirip juga dengan penulis. Jikalau ribut nggak mood. Seniman itu sensitif, nggak bisa kerja terus dipaksa-paksa. Ceritakan Asido bagaimana kau mengenal bapak?

Saya teringat, dulu waktu saya sekolah sering jemputnya. Pulang sekolah diajak saya ke studio. Dari sana saya mengerti bahwa hidup kami adalah di sini. Jadi prinsip saya sampai sekarang, yang lain-lain bagaimana saya terus menjaga, merawat dan terus meneruskan karya bapak. Kepada saya sebelum meninggal, usaha bapak Romansa Musik untuk saya angkat. Tahun 2019 saya belajar. Jadi itu sekarang bisa dibuat digital. Sekarang lagi program buat kusus karya-karya Robert Marbun di YouTube.

Pernah nggak Asido bayangkan karena mendengar lagu bapak ini lalu mengerti dalam sekali apa yang dinarasikan di lagu bapak?

Sekarang saya pelajari mengapa dia menulis itu, arti lirik, kata-kata dari bapak itu dalam. Saya kalau dengar karangan lagu bapa, di acara besar atau acara perhelatan apa. Lalu-lagu bapak nih mungkin menangis atau membayangkan dalam diri saya. Saya kagum dengan bapak. Saya sangat membutuhkan bapak, dan merasa beruntung punya nama bapak.

Katanya Asido kalau olahraga karena dekat rumah dengan tempat peristirahatan terakhir bapak di Pondok Ranggon sering ke sana?

Saya seperti menyesal, mengapa dulu saya nggak langsung sadar ketika bapak masih hidup, bahwa bapak saya ini orang hebat, saya belajar banyak darinya. (Hojot Marluga)

Hojot Marluga

Belajar Filosofi Air

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

five + 7 =