Usia 94 Tahun Masih Mantap Menyanyikan Lagu Jepang “Aikoku Koshinkyoku”

Uniknya perlombaan nyanyi paduan suara yang diadakan oleh tentara Jepang, sebelum kami memulai lomba, seluruh hadirin wajib menyanyikan lagu Jepang “Aikoku Koshinkyoku pada zaman itu masyarakan wajib tahu lagu tersebut, makanya sampai saat ini saya tua hafal lagunya. Pemenang pertama lomba paduan suara dimenangkan oleh kelompok kami dari Pangaloan, sehingga kami mendapat hadiah satu liter minyak tanah dan beras dari tentera Jepang sebagai penyelenggara lomba,” kenangnya.

Menggunting Pita Jembatan

Sehari setelah diumumkan paduan suara, kami menjadi juara. “Karena saya sebagai solois paduan suara pemenang saat itu, sehingga tentera Jepang meminta saya menggunting pita peresmian salah satu jembatan yang baru dibangun tentera Jepang di Pahae yang namanya jembatan Aek Puli,” kisahnya lagi. Posisi Aek Puli berada di perbatasan Tapanuli Utara dan Tapanuli Selatan. “Pita jembatan yang saya gunting saat itu ada dua helai antara dua ujung jembatan. Kenangan yang terlupakan pada saat pengguntingan pita jembatan Aek Puli Pahae, saya sangat takut karena kekejaman tentera Jepang pada masa itu. Dengan kuasa Tuhan saya pun sukses melaksanakan pengguntingan pita tersebut, dan mereka mengucapkan terima kasih kepada saya Domo Arigato yang artinya Mauliate atau Terima kasih,” demikian penuturan Ny. Sitompul Erika br. Simorangkir.

“Sekitar satu minggu saya bersama tentera Jepang menggunting pita peresmian jembatan Aek Puli, terdengar berita Jepang sudah kembali ke negerinya karena kotanya Herosima dan Nagasaki dibom Amerika, sehingga Indonesia merdeka diproklamirkan oleh Soekarno dan Hatta. Walaupun dia punya prestasi menjadi solois paduan suara pada zaman itu, beliau termasuk tak beruntung dalam pendidikan karena kekejaman tentera Jepang, anak gadis tak bisa sekolah dan juga terbatas keluar rumah ketakutan kekejaman Jepang.

Resep Umur Panjang

Ditanya apa resep umur panjang? Menurutnya umur panjang Tuhan yang mengatur, tentu kalau mengingat perjuangan kehidupan dulu zaman panceklik karena penjajahan Jepang dan setelah kemerdekaan Indonesia, sungguh luarbiasa kuasa Tuhan sampai saat ini saya masih bisa bersama anak-cucu dan cicit menikmati hidup.

“Kejujuran, kerendahan hati dan mengucap syukur itu bagian dasar kehidupan saya sehari-hari sampai saat ini, tak perlu memikirkan yang macam-macam, tak perlu masuk ke berbagai perkara yang merugikan apalagi memperkarakan yang bukan perkara. Bagaimana caranya hidup kita damai dan sukacita bersama keluarga dan sesama sehingga kita bisa tidur nyenyak,” ujarnya.

Hojot Marluga

Belajar Filosofi Air

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

14 − ten =