Dr. Sampe L. Purba; Perlu Efisiensi Penggunaan Energi Fosil dan Energi Baru Terbarukan

Bagaimana kesiapan Negara kita menyambut era baru energi litrik, bukan bahan bakar fosil, tetapi juga energy baterai. Mohon dijelaskan?

Dalam ketenagalistrikan, kita menuju ke era energi baru berbasis non fosil. Memang itu tidak mudah. Saat ini misalnya. Berdasarkan data Kapasitas Pembangkit Tenaga Listrik  kita ada sebesar 80.360 MW. Mayoritas lebih dari 60% adalah menggunakan pembangkit listrik tenaga uap (batubara), baru disusul kombinasi batubara dan gas, serta pembangkit listrik tenaga diesel. Hanya sekitar 15% pembangkit yang berbasis energi baru terbarukan.

Untuk langsung bermigrasi ke energi listrik berbasis baterai bukan hal yang mudah. Alasan objektifnya sangat banyak. Di antaranya adalah untuk pensiun dini PLTU membutuhkan biaya besar. Batubara dan energi fosil lainnya juga adalah sumber penghasilan bagi korporasi, industri dan masyarakat setempat.

Sumber daya berbasis fosil ini juga lebih reliable, stabil dan lebih murah dari sisi biaya. Sumber daya alternatif seperti baterai memerlukan teknologi tinggi. Untuk pembangkit listrik tenaga angin maupun tenaga surya misalnya, karena sifatnya tidak kontiniu (alias intermitten), diperlukan kapasitas penyimpanan daya yang besar-yaitu baterai tadi. Ini sangat costly.

Tetapi sesuai dengan tekad kita untuk turut membantu dunia mengurangi polusi, secara bertahap dan selektif kita mengembangkan energi baru dan terbarukan. Misalnya, di daerah yang remote, di mana tidak atau belum memungkinkan jangkauan jaringan ketenaga listrikan, dibangun shelter-shelter terkonsentrasi ketenagalistrikan yang berbasis energi setempat seperti tenaga surya, angin atau biomassa.

Diperlukan kerja sama, kolaborasi dan kooperasi dengan negara-negara maju juga, untuk membantu dan mendorong negara-negara berkembang seperti Indonesia, baik dari aspek pembiayaan, teknologi dan pemasaran, upaya keras Pemerintah Indonesia untuk hilirisasi nikel, bauksit, timah dan tembaga  adalah ikhtiar mulia untuk mendapatkan dan meningkatkan energi yang lebih bersih. Kita tidak boleh lagi terlena hanya mengekspor bahan mentah. Saatnya untuk maju bersama. Industrialisasi, yang mendukung energi bersih sekaligus meningkatkan pendapatan negara dan masyarakat kita.

Satu hal lagi yang tidak kalah pentingnya adalah meminta kontribusi dari industri. Misalnya, hingga saat ini kendaraan kendaraan yang berlalu lalang kan adalah yang menggunakan internal combustion system (menggunakan bahan bakar minyak/ gas).

Data nasional kita menunjukkan bahwa sepeda motor di Indonesia ada sekitar 126 juta unit, sedangkan mobil penumpang sekitar 19 juta unit. Dalam tahun 2022 Pemerintah mengeluarkan subsidi sekitar 98 triliun rupiah untuk BBM dan LPG. Penyediaan BBM sekitar 68 juta kilo liter.

Sudah saatnya Pemerintah dalam membangun ekosistem menuju kendaraan berbasis listrik, dengan teknologi baterai, meminta para importir tersebut untuk ikut berpartisipasi dengan misalnya mewajibkan agen dan distributor untuk memasok kendaraan listrik berbasis baterai, dan membangun fasilitas pendukungnya seperti penyediaan baterai termasuk disposalnya, atau pembuangan, pusat perbengkelan dan onderdil yang merata di berbagai sentra.

Proporsi distribusi kendaraan umum listrik berbasis baterai dan internal combustion system (berbahan bakar BBM) perlu diatur. Kita harus optimistis, bekerja sama, bergotong royong dan saling menopang. Itulah esensi yang harus dibangun dan dilaksanakan seluruh komponen masyarakat kita. (HM)

Hojot Marluga

Belajar Filosofi Air

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

seventeen + six =