Kamaruddin Simanjuntak: Selalu Berserah Kepada Tuhan Elohim

Ruhut: Kodok Pun Ketawa Lihat Kamaruddin (Berita “Kompas”)

Akibat dirinya selalu lantang bergelut dalam berperkara, apalagi saat membela kepentingan kliennya dia selalu total dalam pembelaan, sepertinya tak ada yang ditakutinya. Dia tak segan-segan mengadukan, melaporkan yang diduga sebagai pelaku kejahatan ke KPK RI, melapor ke Kepolisian bahkan kepada Kejaksaan Agung RI, jika menemukan data atau bukti yang valid secara hukum tentang adanya indikasi oknum pejabat tinggi negara melakukan dugaan tindak pidana korupsi.

Kehebatannya menggali data, mencari bukti selalu bisa mendapat data yang akurat dan otentik. Tentu untuk mendapatkannya caranya seperti cara yang dilakukan oleh intelijen Mossad, sehingga praktik beracaranya tak hanya sebatas duduk di kantor. Atas keberaniannya mengungkap korupsi di kalangan pejabat tinggi negara itu, Ruhut Sitompul, S.H. selaku anggota DPR RI Komisi III saat itu sekaligus berpraktik selaku pihak yang selalu membela pejabat dimaksud, waktu itu sebagai Humas Partai Demokrat menyebut Kamaruddin di media nasional, “Kodok pun ketawa melihat Kamaruddin.”

Alih-alih dia tanpa tedeng aling-aling, berani membongkar habis kasus-kasus korupsi. Salah satunya korupsi di Wisma Atlit dan Hambalang dan turunannya hingga e-KTP. Tak ayal, dia juga membongkar kasus korupsi di tubuh Partai Demokrat tahun 2011 yang akhirnya menyeret-nyeret petinggi partai berkuasa ketika itu antara lain, Anas Urbaningrum, Nazaruddin, Angelina Sondakh, Andi Mallarangeng, Sutan Batoegana, dst. Satu perkara lain yang banyak disorot oleh media nasional adalah kala dirinya menangani kasus Mindo Rosalina Manullang yang terkenal sangat panas itu, hingga kuasanya diakhiri oleh pihak lain untuk membela Mindo Rosalina Manullang, dengan berbagai ancaman pembunuhan dan fitnah.

Dalam kasus mega skandal korupsi yang berhubungan dengan Muhammad Nazarudin eks Bendahara Umum Partai Demokrat dan anggota DPR RI Komisi III, Kamaruddin tahu detail aktivitas apa-apa saja yang terjadi di kantor Nazaruddin waktu itu. Atas keberaniaannya mengungkap itu, sampai sempat salah satu jenderal berbintang 3 dan kawan-kawan selaku pengurus Partai Demokrat datang menjumpainya dan memohon kepada dirinya agar jangan membawa-bawa nama Presiden RI. Atas hal itu namanya sebagai seorang pengacara sempat menjadi sorotan berita nasional selama beberapa saat.

Jika membaca namanya, memang seperti nama seorang Arab. Nama itu pemberian ayahnya yang lama merantau di Aceh. Lelaki kelahiran 21 Mei 1974, suami dari Joanita Meroline Wenji, S.H. dan ayah dari lima orang puteri masih terus bergairah untuk bermaksud melanjutkan pendidikan Doktor (S3). Sesungguhnya sudah ada universitas di luar negeri menawarkan beasiswa, bahkan dari negara Israel. Walaupun demikian atas tawaran itu urung diterima sembari menunggu waktu yang tepat mengingat puteri-puterinya masih kecil yang tentunya sangat membutuhkan perhatian orangtua.

Sebagai seorang ayah dia ingin menjadi tiruan dan teladan bagi putri-putrinya itu, dengan teladan dia menanamkan nilai moralitas tinggi bagi mereka. Dia sadar, sebagai orangtua yang dibutuhkan oleh putri-putrinya hanya ketauladanan, ketulusannya untuk membimbing mereka. Tentu, bukan kemewahan dan fasilitas yang mereka butuhkan, yang terpenting adalah kejujuran dalam membimbing mereka, terutama takut akan kuasa Tuhan Elohim guna mengantar mereka untuk mencapai impiannya.

Sebagai seorang Kristiani, ia ingin menjadi teladan dan saksi Yesus dengan cara menjadi garam dan terang di bidang profesinya sebagai advokat/pengacara. Putra dari (alm.) Midian Simanjuntak dan Nurmaya Pardede ini ingin berdampak dan menjadi berkat bagi orang lain. Sebagai seorang advokat tentu dirinya banyak membantu kliennya yang kurang beruntung secara probono-prodeo atau dengan cara pembayaran cuma-cuma.

Baginya, menjadi bagian penegakan hukum, dia senantiasa mengutamakan hukum sebagai landasan dalam seluruh aktivitas negara dan masyarakat. “Hukum belumlah menjadi panglima. Masih jauh panggang dari api. Diistilahkan tajam ke bawah dan tajam ke samping/oposisi, namun masih tumpul ke atas (penguasa/elite politik berkuasa dan pengusaha), itulah gambarkan kondisi penegakan hukum di Indonesia. Hukum yang seharusnya menjadi alat pembaharuan masyarakat, nyatanya penegakan hukum masih morat-marit dan carut marut,” katanya.

Hojot Marluga

Belajar Filosofi Air

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

eighteen − 15 =